<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925</id><updated>2012-02-02T10:37:49.609+07:00</updated><category term='syariah'/><category term='PPh Pasal 4 (2)'/><category term='Wajib Pajak Patuh'/><category term='Sunset Policy'/><category term='Penagihan Pajak'/><category term='spanduk'/><category term='PPh Pasal 22'/><category term='konsultasi'/><category term='pembukuan'/><category term='Surat Kuasa'/><category term='Tips Membuat SPT'/><category term='opini'/><category term='PPh Pasal 26'/><category term='pemeriksaan'/><category term='Subjek PPh'/><category term='PPN Pasal 16D'/><category term='PPh Pasal 23'/><category term='Fasilitas Pajak'/><category term='pajak'/><category term='PDRD'/><category term='Mobil Pajak Keliling'/><category term='NPWP'/><category term='Biaya'/><category term='Pengusaha Kecil'/><category term='Transfer Pricing'/><category term='Tarif PPh'/><category term='Materai'/><category term='Leasing'/><category term='penyidikan'/><category term='Reimbursment'/><category term='ATM Online'/><category term='Restrukturisasi'/><category term='PPN Pasal 16C'/><category term='jasa konstruksi'/><category term='PPh Pasal 24'/><category term='berita'/><category term='Proyek Hibah Luar Negeri'/><category term='Sssstttt'/><category term='PPN Dibebaskan'/><category term='Norma Penghitungan Penghasilan'/><category term='SOP'/><category term='SPT'/><category term='Objek PPh'/><category term='Restitusi'/><category term='Pajak Masukan'/><category term='Cicilan Pajak'/><category term='Tax Treaty'/><category term='DJP'/><category term='Buper'/><category term='kup'/><category term='Bea Masuk'/><category term='BPHTB'/><category term='PBB'/><category term='Objek PPN'/><category term='PPh Pasal 21'/><category term='Faktur Pajak'/><category term='BUT'/><category term='Teori Pajak'/><category term='keberatan dan banding'/><category term='Bukan Objek PPh'/><category term='Fiskal LN'/><category term='Revaluasi'/><category term='PPh Pasal 25'/><category term='Migas'/><title type='text'>catatan praktek perpajakan</title><subtitle type='html'>Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi, dan tidak mewakili instansi manapun. Pembaca yang mau konsultasi masalah perpajakan jangan ragu mengirim email ke &lt;img src="http://www.txtninja.com/x/412d5d366d.gif" alt="Generated by TxtNinja.com"&gt;.  Bangga membayar pajak!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>445</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-5167682404037907106</id><published>2012-02-01T18:14:00.000+07:00</published><updated>2012-02-01T18:14:01.028+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bukan Objek PPh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarif PPh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 23'/><title type='text'>PPh atas dividen</title><content type='html'>&lt;i&gt;Withholding tax&lt;/i&gt; atau istilah kita dikenal pemotongan dan pemungutan [biasa disingkat POTPUT] adalah "kepanjangan tangan" kantor pajak kepada wajib pajak pemberi penghasilan. Khusus berkaitan dengan dividen, maka &lt;i&gt;withholding tax&lt;/i&gt; adalah pemotongan PPh atas penghasilan dividen seseorang oleh pihak yang memberikan penghasilan. Karena dividen merupakan penghasilan atas modal, maka dividen pasti diterima oleh pemegang saham. Walaupun perusahaan tidak secara spesifik menyebut sebagai dividen tapi ada beberapa kondisi yang dianggap sebagai dividen, yaitu:&lt;br /&gt;[1.] Dividen merupakan bagian laba yang diperoleh pemegang saham; &lt;br /&gt;[2.] dividen dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis;&lt;br /&gt;[3.] pembagian sisa hasil usaha koperasi;&lt;br /&gt;[4.] pembayaran kembali karena likuidasi yang melebihi jumlah modal yang disetor;&lt;br /&gt;[5.] pemberian saham bonus yang dilakukan tanpa penyetoran termasuk saham bonus yang berasal dari kapitalisasi agio saham;&lt;br /&gt;[6.] pembagian laba dalam bentuk saham;&lt;br /&gt;[7.] pencatatan tambahan modal yang dilakukan tanpa penyetoran;&lt;br /&gt;[8.] jumlah yang melebihi jumlah setoran sahamnya yang diterima atau diperoleh pemegang saham karena pembelian kembali saham-saham oleh perseroan yang bersangkutan;&lt;br /&gt;[9.] pembayaran kembali seluruhnya atau sebagian dari modal yang disetorkan, jika dalam tahun-tahun yang lampau diperoleh keuntungan, kecuali jika pembayaran kembali itu adalah akibat dari pengecilan modal dasar (statuter) yang dilakukan secara sah;&lt;br /&gt;[10.] pembayaran sehubungan dengan tanda-tanda laba, termasuk yang diterima sebagai penebusan tanda-tanda laba tersebut;&lt;br /&gt;[11.] bagian laba sehubungan dengan pemilikan obligasi;&lt;br /&gt;[12.] bagian laba yang diterima oleh pemegang polis;&lt;br /&gt;[13.] pembagian berupa sisa hasil usaha kepada anggota koperasi;&lt;br /&gt;[14.] pengeluaran perusahaan untuk keperluan pribadi pemegang saham yang dibebankan sebagai biaya perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ada kondisi dividen bukan objek PPh. Hal ini diatur di Pasal 4 ayat (3) huruf f UU PPh 1984 amandemen 2008 :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Yang dikecualikan dari objek pajak &lt;/span&gt;adalah: ..&lt;br /&gt;f. dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, badan usaha milik negara, atau badan usaha milik daerah, dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat: &lt;br /&gt;1. dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan &lt;br /&gt;2. bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah modal yang disetor.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, dividen akan menjadi objek PPh jika:&lt;br /&gt;[1.] Penerima dividen adalah pemegang saham Orang Pribadi&lt;br /&gt;[2.] Penerima dividen adalah pemegang saham badan [&lt;i&gt;intercorporate&lt;/i&gt;] dengan kepemilikan kurang dari 25% dari jumlah yang disetor.&lt;br /&gt;[3.] Penerima dividen adalah wajib pajak luar neger. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hal diatas, maka pemberi dividen wajib memotong PPh Pasal 23 sebesar 15%pada saat :&lt;br /&gt;[a.] yang dibayarkan;&lt;br /&gt;[b.] disediakan untuk dibayarkan; atau&lt;br /&gt;[c.] telah jatuh tempo pembayarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, Pasal 23 ayat (4) mengatur bahwa pemotongan &lt;span style="color: red;"&gt;tidak dilakukan&lt;/span&gt; untuk dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf f dan dividen yang diterima oleh orang pribadi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2c). Artinya, PPh Pasal 23 atas objek dividen hanya dilakukan pemotongan PPh Pasal 23 jika penerima dividen Wajib Pajak badan dengan kepemilikan kurang dari 25%. Inilah dividen yang dikenakan tarif 15% dari penghasilan bruto. Sedangkan yang diterima oleh Wajib Pajak luar negeri (baik badan maupun orang pribadi) maka terutang PPh Pasal 26 dengan tarif 20%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus dividen yang diterima oleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri, maka tetap dipotong PPh tetapi dengan tarif 10%. Hal ini diatur di Pasal 17 ayat (2c) UU PPh. Atas pemotongan ini, bagi penerima dividen menjadi final sehingga pada saat membuat SPT Tahunan PPh OP, maka penghitungannya dipisah dari penghitungan PPh yang menggunakan tarif progresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, tarif PPh atas dividen ada tiga:&lt;br /&gt;[1.] Tarif 10% bagi Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri dan bersifat final.&lt;br /&gt;[2.] Tarif 15% bagi Wajib Pajak badan dalam negeri dengan kepemilikan saham kurang dari 25%.&lt;br /&gt;[3.] Tarif 20% bagi Wajib Pajak luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salaam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-5167682404037907106?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/5167682404037907106/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2012/02/pph-atas-dividen.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/5167682404037907106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/5167682404037907106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2012/02/pph-atas-dividen.html' title='PPh atas dividen'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-3474343475765348361</id><published>2012-01-31T14:03:00.000+07:00</published><updated>2012-01-31T14:03:02.973+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BPHTB'/><title type='text'>Subjek dan Objek BPHTB</title><content type='html'>&lt;div&gt;Subjek BPHTB adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh hak atas&lt;br /&gt;tanah dan atau bangunan. Subjek BPHTB yang dikenakan kewajiban membayar&lt;br /&gt;BPHTB menurut perundang-undangan perpajakan yang menjadi Wajib Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Objek BPHTB adalah perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. Perolehan hak atas tanah dan atau bangunan adalah perbuatan (disengaja) atau peristiwa hukum (otomatis / tidak disengaja) yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan. Contoh peristiwa hukum adalah warisan karena pemilik meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perolehan hak pada dasarnya ada dua : yaitu pemindahan hak dan perolehan hak baru. Pemindahan hak berarti sebelum memperoleh hak, hak atas tanah dan atau bangunan tersebut sebelumnya sudah ada di “orang” lain. Karena perbuatan atau peristiwa tertentu, haknya berpindah kepada subjek hukum A ke subjek hukum ke B. Sedangkan perolehan hak baru biasanya berasal dari tanah negara kemudian diperoleh subjek pajak. Atau konversi hak, contohnya, dari hak adat menjadi hak milik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;a. Pemindahan hak&lt;/b&gt; karena:&lt;br /&gt;[a.1]. jual beli;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a.2]. tukar-menukar;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a.3]. hibah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a.4]. hibah wasiat, yaitu suatu penetapan wasiat yang khusus mengenai pemberian hak atas tanah dan atau bangunan kepada orang pribadi atau badan hukum tertentu, yang berlaku setelah pemberi hibah wasiat  meninggal dunia;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a.5]. waris;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a.6]. pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya, yaitu pengalihan hak atas tanah dan atau bangunan dari orang pribadi atau badan kepada Perseroan Terbatas atau badan hukum lainnya sebagai penyertaan modal pada Perseroan Terbatas atau badan hukum lainnya tersebut;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a.7]. pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan, yaitu pemindahan sebagian hak bersama atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan kepada sesama pemegang hak bersama;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a.8]. penunjukan pembeli dalam lelang, yaitu penetapan pemenang lelang oleh Pejabat Lelang sebagaimana yang tercantum dalam Risalah Lelang;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a.9]. pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap, yaitu adanya peralihan hak dari orang pribadi atau badan hukum sebagai salah satu pihak kepada pihak yang ditentukan dalam putusan hakim tersebut;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a.10]. penggabungan usaha, yaitu penggabungan dari dua badan usaha atau lebih dengan cara tetap mempertahankan berdirinya salah satu badan usaha dan melikuidasi badan usaha lainnya yang menggabung;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a.11]. peleburan usaha, yaitu penggabungan dari dua atau lebih badan usaha dengan cara mendirikan badan usaha baru dan melikuidasi badan-badan usaha yang bergabung tersebut;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a.12]. pemekaran usaha, yaitu pemisahan suatu badan usaha menjadi dua&lt;br /&gt;badan usaha atau lebih dengan cara mendirikan badan usaha baru dan mengalihkan sebagian aktiva dan pasiva kepada badan usaha baru tersebut yang dilakukan tanpa melikuidasi badan usaha yang lama;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a.13]. hadiah, yaitu suatu perbuatan hukum berupa penyerahan hak atas tanah&lt;br /&gt;dan atau bangunan yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan hukum kepada penerima hadiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;b. Pemberian hak baru&lt;/b&gt; karena:&lt;br /&gt;[b.1]. kelanjutan pelepasan hak, yaitu pemberian hak baru kepada orang pribadi atau badan hukum dari Negara atas tanah yang berasal dari pelepasan hak;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b.2]. di luar pelepasan hak, yaitu pemberian hak baru atas tanah kepada orang pribadi atau badan hukum dari Negara atau dari pemegang hak milik menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hak atas tanah yang menjadi objek BPHTB adalah :&lt;/b&gt;a. hak milik, yaitu hak turun-temurun, terkuat, dan terpenuh yang dapat dipunyai orang pribadi atau badan-badan hukum tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. hak guna usaha (HGU), yaitu hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh Negara dalam jangka waktu sebagaimana yang ditentukan oleh perundang-undangan yang berlaku;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. hak guna bangunan (HGB), yaitu hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan-bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. hak pakai, yaitu hak untuk menggunakan dan atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh Negara atau tanah milik orang lain, yang memberi wewenang dan kewajiban yang ditentukan dalam keputusan pemberiannya oleh pejabat yang berwenang memberikannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya, yang bukan perjanjian sewa-menyewa atau perjanjian pengolahan tanah, segala sesuatu sepanjang tidak bertentangan dengan jiwa dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. hak milik atas satuan rumah susun, yaitu hak milik atas satuan yang bersifat perseorangan dan terpisah. Hak milik atas satuan rumah susun meliputi juga hak atas bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama yang semuanya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan satuan yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. hak pengelolaan, yaitu hak menguasai dari Negara yang kewenangan pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegang haknya, antara lain, berupa perencanaan peruntukan dan penggunaan tanah, penggunaan tanah untuk keperluan pelaksanaan tugasnya, penyerahan bagian-bagian dari tanah tersebut kepada pihak ketiga dan atau bekerja sama dengan pihak ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Sumber : Buku Informasi Perpajakan]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-3474343475765348361?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/3474343475765348361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2012/01/subjek-dan-objek-bphtb.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/3474343475765348361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/3474343475765348361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2012/01/subjek-dan-objek-bphtb.html' title='Subjek dan Objek BPHTB'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-2171667216670937150</id><published>2012-01-31T13:51:00.000+07:00</published><updated>2012-01-31T14:01:05.292+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Objek PPN'/><title type='text'>Impor DVD film</title><content type='html'>Bagi pehobi film, menonton satu judul film tidak cukup sekali. Bahkan bukan hanya berkali-kali menonton, tetapi perlu mengoleksi kepingan VCD atau DVD. Atau mungkin dengan mengunduh film tersebut dari situs internet. Posting kali ini membicarakan dampak perpajakan dari pembelian film tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki film tersebut maksudnya memiliki untuk ditonton sendiri atau keluarga dan tidak diperjualbelikan. Tidak digandakan kemudian dijual. Tidak juga untuk disewakan. Awalnya seperti itu walaupun kemudian dapat saja disewakan tetapi mungkin akan berdampak pada hal milik dan terkait royalti dari film tersebut. Artinya jika dikomersialkan, maka akan ada dampak hukum lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan film, maka kita dapat:&lt;br /&gt;[1.] membeli kepingan media rekaman seperti : DVD atau VCD&lt;br /&gt;[2.] membeli dengan mengunduh dari situs internet.&lt;br /&gt;Kedua kegiatan tersebut, jika penjual berada di Luar Negeri maka bisa dikategorikan mengimpor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut UU No. 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan, impor adalah kegiatan memasukkan barang ke dalam daerah pabean. Menurut UU PPN 1984 [amandemen 2009], impor adalah setiap kegiatan memasukkan barang dari luar Daerah Pabean ke dalam Daerah Pabean. Sedangkan daerah pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang berlaku UU Kepabeanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Peraturan Menteri Keuangan No. 102/PMK.011/2011 mengatur bahwa atas impor film terutang PPN dengan DPP Rp. 12.000.000,00. Dan penyerahan kepada pengusaha bioskop terutang PPN dengan DPP Rp. 12.000.000, 00. Bunyi lengkapnya seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;pre&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; tab-stops: 45.8pt 91.6pt 137.4pt 183.2pt 229.0pt 274.8pt 320.6pt 366.4pt 412.2pt 458.0pt 503.8pt 549.6pt 595.4pt 641.2pt 687.0pt 732.8pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Pasal2&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; tab-stops: 45.8pt 91.6pt 137.4pt 183.2pt 229.0pt 274.8pt 320.6pt 366.4pt 412.2pt 458.0pt 503.8pt 549.6pt 595.4pt 641.2pt 687.0pt 732.8pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; tab-stops: 45.8pt 91.6pt 137.4pt 183.2pt 229.0pt 274.8pt 320.6pt 366.4pt 412.2pt 458.0pt 503.8pt 549.6pt 595.4pt 641.2pt 687.0pt 732.8pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(1)Atas Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean didalam Daerah Pabean berupa Film Cerita Impor, terutang Pajak &amp;nbsp;Pertambahan Nilai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; tab-stops: 45.8pt 91.6pt 137.4pt 183.2pt 229.0pt 274.8pt 320.6pt 366.4pt 412.2pt 458.0pt 503.8pt 549.6pt 595.4pt 641.2pt 687.0pt 732.8pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(2)Pajak Pertambahan Nilai yang terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), &amp;nbsp;dipungut pada saat impor media Film CeritaImpor. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; tab-stops: 45.8pt 91.6pt 137.4pt 183.2pt 229.0pt 274.8pt 320.6pt 366.4pt 412.2pt 458.0pt 503.8pt 549.6pt 595.4pt 641.2pt 687.0pt 732.8pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(3)Dasar Pengenaan Pajak yang digunakan untuk menghitung Pajak Pertambahan &amp;nbsp;Nilai yang terutang sebagaimana dimaksud padaayat (2) adalah Nilai Lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; tab-stops: 45.8pt 91.6pt 137.4pt 183.2pt 229.0pt 274.8pt 320.6pt 366.4pt 412.2pt 458.0pt 503.8pt 549.6pt 595.4pt 641.2pt 687.0pt 732.8pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(4)Nilai Lain sebagaimana dimaksud pada ayat (3) telah memperhitungkan nilai darimedia Film Cerita Impor. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; tab-stops: 45.8pt 91.6pt 137.4pt 183.2pt 229.0pt 274.8pt 320.6pt 366.4pt 412.2pt 458.0pt 503.8pt 549.6pt 595.4pt 641.2pt 687.0pt 732.8pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(5)Nilai Lain yang digunakan sebagai Dasar Pengenaan Pajak Pertambahan Nilaisebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah berupa uang yang ditetapkan &amp;nbsp;sebesar Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah)per copy Film Cerita Impor.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; tab-stops: 45.8pt 91.6pt 137.4pt 183.2pt 229.0pt 274.8pt 320.6pt 366.4pt 412.2pt 458.0pt 503.8pt 549.6pt 595.4pt 641.2pt 687.0pt 732.8pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; tab-stops: 45.8pt 91.6pt 137.4pt 183.2pt 229.0pt 274.8pt 320.6pt 366.4pt 412.2pt 458.0pt 503.8pt 549.6pt 595.4pt 641.2pt 687.0pt 732.8pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;Pasal3&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; tab-stops: 45.8pt 91.6pt 137.4pt 183.2pt 229.0pt 274.8pt 320.6pt 366.4pt 412.2pt 458.0pt 503.8pt 549.6pt 595.4pt 641.2pt 687.0pt 732.8pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; tab-stops: 45.8pt 91.6pt 137.4pt 183.2pt 229.0pt 274.8pt 320.6pt 366.4pt 412.2pt 458.0pt 503.8pt 549.6pt 595.4pt 641.2pt 687.0pt 732.8pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(1)Atas penyerahan Film Cerita Impor oleh Importir kepada Pengusaha Bioskop, &amp;nbsp;terutang Pajak Pertambahan Nilai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; tab-stops: 45.8pt 91.6pt 137.4pt 183.2pt 229.0pt 274.8pt 320.6pt 366.4pt 412.2pt 458.0pt 503.8pt 549.6pt 595.4pt 641.2pt 687.0pt 732.8pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(2)Dasar Pengenaan Pajak yang digunakan untuk menghitung Pajak Pertambahan Nilaiterutang atas penyerahan Film Cerita Impor sebagaimana dimaksud pada ayat (1)adalah Nilai Lain. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; tab-stops: 45.8pt 91.6pt 137.4pt 183.2pt 229.0pt 274.8pt 320.6pt 366.4pt 412.2pt 458.0pt 503.8pt 549.6pt 595.4pt 641.2pt 687.0pt 732.8pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(3)Nilai Lain yang digunakan sebagai Dasar Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai sebagaimanadimaksud pada ayat (2) adalah berupa uang yang ditetapkan sebesar Rp12.000.000,00(dua belas juta rupiah) per copy Film Cerita Impor.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; tab-stops: 45.8pt 91.6pt 137.4pt 183.2pt 229.0pt 274.8pt 320.6pt 366.4pt 412.2pt 458.0pt 503.8pt 549.6pt 595.4pt 641.2pt 687.0pt 732.8pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;(4)Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dipungut hanya sekaliuntuk setiap copy Film Cerita Impor, yang pemungutannya dilakukan pada saatpertama kali copy Film Cerita Impor tersebut diserahkan kepada PengusahaBioskop.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;Berdasarkan aturan tersebut, maka saat kita beli DVD dari luar negeri, petugas Bea Cukai di Bandara mungkin akan menagih pembayaran PPN berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 102/PMK.011/2011. Kita harus bayar Rp.1.200.000,00 untuk setiap keping DVD. Pasal 2 Peraturan Menteri Keuangan No. 102/PMK.011/2011 tidak jelas mengatur siapa yang melakukan impor. Apakah setiap kegiatan impor dikenakan PPN berdasarkan pasal tersebut? Hanya disebut &lt;i&gt;pada saat impor&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Film Cerita Impor&lt;/i&gt;! DPP-nya ditetapkan Rp.12.000.000,00 sehingga PPN per copy Film Cerita Impor pada saat impor menjadi Rp.1.200.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir, karena ketidakjelasan aturan ini menjadi setiap impor DVD pun terutang PPN sebesar Rp.1.200.000,00 setiap keping-nya. Padahal aturan ini lahir karena &lt;a href="http://www.voanews.com/indonesian/news/Seruan-Boikot-Film-Amerika-Resahkan-Pengusaha-Bioskop-Lokal-116610998.html" target="_blank"&gt;Asosiasi Perfilman Amerika Serikat&lt;/a&gt; (&lt;i&gt;Motion Picture Association&lt;/i&gt;) melakukan boikot menayangkan film di bioskop Indonesia karena royalti atas impor film dianggap terlalu tinggi. Sehingga PPN atas film pun menjadi tinggi pula karena penghitungan royalti yang tinggi. Akhirnya, oleh pemerintah DPP PPN-nya di&lt;i&gt;-deem&lt;/i&gt; menjadi hanya Rp.12.000.000,00 per copy film cerita. Tentu ini tidak masuk akal jika dibandingkan harga DVD itu sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya "celah" menghindari pengenaan Peraturan Menteri Keuangan No. 102/PMK.011/2011 adalah definisi dari importir yang diatur di Pasal 1 angka 7.&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Importir adalah pelaku usaha perfilman yang melakukan usaha impor film dan/atau pengedaran film&lt;/blockquote&gt;Tetapi definisi ini bertentangan dengan definisi UU. Artinya, jika kita beli DVD dari Amerika Serikat maka menurut pengertian UU Kepabeanan dan UU PPN 1984 disebut importir. Tetapi menurut Peraturan Menteri Keuangan No. 102/PMK.011/2011 &lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;bukan disebut importir&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, akan lebih jelas jika Pasal 2 ayat (2) Peraturan Menteri Keuangan No. 102/PMK.011/2011 menjadi:&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&amp;nbsp;(2) Pajak Pertambahan Nilai yang terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipungut pada saat impor &lt;span style="color: red;"&gt;oleh importir pelaku usaha perfilman yang melakukan usaha impor film dan/atau pengedaran film&lt;/span&gt;.&lt;/blockquote&gt;Selain itu, di defini "Film Cerita Impor" juga tidak jelas menunjuk pelaku pengusaha (bukan konsumen).&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;6. Film Cerita Impor adalah karya seni budaya yang merupakan pranata sosial dan media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan kaidah sinematografi dengan atau tanpa suara yang mengisahkan cerita fiktif atau narasi dan dapat dipertunjukkan yang direkam pada pita seluloid, pita video, cakram optik,atau bahan lainnya yang berasal dari luar Daerah Pabean untuk dieksploitasi di dalam negeri. &lt;/blockquote&gt;Apa maksud eksploitasi? Apakah ditonton termasuk eksploitasi? Jika mengacu ke pengertian di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Eksploitasi" target="_blank"&gt;wikipedia&lt;/a&gt; maka menjadi tidak tepat. Tetapi jika mengacu ke &lt;a href="http://kamusbahasaindonesia.org/eksploitasi" target="_blank"&gt;Kamus Bahasa Indonesia Online&lt;/a&gt; maka bisa diartikan sebagai "digunakan untuk usaha". Jika yang digunakan pengertian yang terakhir maka impor DVD seperti kasus diatas menjadi &lt;b style="color: red;"&gt;tidak terutang PPN&lt;/b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt; karena tidak termasuk pengertian Film Cerita Impor&lt;/span&gt;. DVD yang kita impor bukan Film Cerita Impor sebagaimana dimaksud di Peraturan Menteri Keuangan No. 102/PMK.011/2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-2171667216670937150?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/2171667216670937150/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2012/01/impor-dvd-film.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/2171667216670937150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/2171667216670937150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2012/01/impor-dvd-film.html' title='Impor DVD film'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-7072659426735371419</id><published>2012-01-26T21:18:00.004+07:00</published><updated>2012-01-26T21:25:16.454+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemeriksaan'/><title type='text'>risk based audit</title><content type='html'>&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, 'Trebuchet MS', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;Menurut berita &lt;a href="http://www.bisnis.com/articles/keuangan-negara-bpk-diminta-lakukan-audit-berbasis-risiko" target="_blank"&gt;bisnis.com&lt;/a&gt; hari ini (26/1/2012), Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR-RI merekomendasikan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, 'Trebuchet MS', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;agar Badan Pemeriksa Keuangan meningkatkan pengawasan keuangan negara melalui audit berbasis risiko. Ternyata rekomendasi yang sama sudah disampaikan &lt;a href="http://www.bpk.go.id/web/files/2011/02/6-21.pdf" target="_blank"&gt;setahun&lt;/a&gt; yang lalu. DJP sebenarnya sudah lebih maju (maksudnya duluan) dalam hal &lt;i&gt;risk based audit&lt;/i&gt;. Dalam hal ini patut lah saya berbangga. Sejak tahun 2007, DJP menganut &lt;i&gt;risk based audit&lt;/i&gt;&amp;nbsp;berdasarkan SE-02/PJ.04/2007:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;span style="color: #222222; font-family: Arial, 'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 14px; line-height: 19px;"&gt;Pemeriksaan khusus dilakukan berdasarkan hasil analisis risiko (risk based&amp;nbsp;audit) terhadap data dan informasi yang diterima.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;Di SE-04/PJ.04/2007 disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Terdapat 2 (dua) kriteria pemeriksaan yang mendasari dilakukannya&amp;nbsp;pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban&amp;nbsp;perpajakan Wajib Pajak, yaitu:&lt;br /&gt;a.&amp;nbsp;Pemeriksaan Rutin, merupakan pemeriksaan yang dilakukan&amp;nbsp;terhadap Wajib Pajak sehubungan dengan pemenuhan hak&amp;nbsp;dan/atau pelaksanaan kewajiban perpajakannya atau karena&amp;nbsp;diwajibkan oleh Undang-Undang KUP;&lt;br /&gt;b.&amp;nbsp;Pemeriksaan berdasarkan risiko (&lt;i&gt;risk based audit&lt;/i&gt;) yang&amp;nbsp;selanjutnya disebut dengan Pemeriksaan Khusus, merupakan&amp;nbsp;pemeriksaan yang dilakukan berdasarkan hasil analisis risiko&amp;nbsp;terhadap ketidakpatuhan Wajib Pajak. Analisis risiko terhadap&amp;nbsp;ketidakpatuhan Wajib Pajak dapat dilakukan secara&amp;nbsp;komputerisasi atau secara manual.&lt;/blockquote&gt;&lt;div&gt;Berdasarkan dua aturan ini, sejak 2007 DJP sebenarnya sudah "mengikat" dirinya sendiri dengan tidak akan melakukan pemeriksaan kepada Wajib Pajak kecuali dua kondisi: pertama, karena UU KUP mewajibkan untuk diperiksa, dan kedua karena adanya risiko ketidakpatuhan&amp;nbsp;(&lt;i&gt;risk based audit&lt;/i&gt;). Ada atau tidaknya risiko tentu saja berdasarkan analisis risiko yang dibuat DJP.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kewajiban analisis risiko kemudian diadopsi oleh Pasal 29A UU KUP. Dan ditegaskan lagi di Peraturan Menteri Keuangan No. 199/PMK.03/2007 tentang Tata Cara Pemeriksaan, yaitu di Pasal 4 ayat (3) huruf e (huruf a sampai dengan huruf d biasa disebut pemeriksaan rutin). Bunyi aturannya jika digabung menjadi:&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak&amp;nbsp;dapat dilakukan dalam hal Wajib Pajak: .....&amp;nbsp;menyampaikan Surat Pemberitahuan yang memenuhi kriteria seleksi&amp;nbsp;berdasarkan hasil analisis risiko (&lt;i&gt;risk based selection&lt;/i&gt;) mengindikasikan adanya&amp;nbsp;kewajiban perpajakan Wajib Pajak yang tidak dipenuhi sesuai ketentuan&amp;nbsp;peraturan perundang-undangan perpajakan.&lt;/blockquote&gt;&lt;div&gt;Peraturan Menteri Keuangan mengatur bahwa kewenangan melakukan pemeriksaan pajak hanya ada &amp;nbsp;jika terdapat hasil analisis risiko yang mengindikasikan adanya kewajiban perpajakan yang tidak dipenuhi. Dengan aturan ini, maka DJP tidak dapat sewenang-wenang memeriksa Wajib Pajak. Dan Wajib Pajak memiliki hak untuk mempertanyakan dasar dilakukan pemeriksaan terhadap dirinya. Jika menurut Wajib Pajak DJP tidak memiliki dasar, maka Wajib Pajak dapat menggunakan haknya dengan melakukan gugatan ke Pengadilan Pajak berdasarkan Pasal 23 ayat (2) UU KUP.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di sisi Wajib Pajak, ketentuan ini tentu menguntungkan. Tetapi dari sisi DJP sebenarnya merugikan karena kewenangannya menjadi dibatasi. Bandingkan dengan sebelum ada ketentuan &lt;i&gt;risk based audit&lt;/i&gt; ada, Wajib Pajak dapat tiba-tiba diperiksa dan harus menerima. Wajib Pajak mana yang dipilih akan diperiksa? Terserah para pejabat yang milih saja! Tidak ada pembatasan sehingga kewenangan yang ada menjadi tidak terbatas.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Menurut SE-10//PJ/2008, analisis risiko itu ada dua, pertama yang dibuat manual. Setiap Wajib Pajak dibuat analisis resiko masing-masing berdasarkan data yang ada. Analisis risiko secara manual bisa berasal dari KPP yang disebut &lt;i&gt;bottom-up&lt;/i&gt;, dan bisa berasal dari Direktorat P2 &amp;nbsp;atau Kanwil DJP yang biasa disebut &lt;i&gt;top-down&lt;/i&gt;. Termasuk analisis risiko dengan manual adalah hasil pengembangan IDLP oleh Direktorat Indik (instruksi dari Direktorat P2) atau oleh Kanwil DJP. Kedua, analisis risiko dibuat secara komputerisasi yang dilakukan oleh Direktorat P2. Nah, pembuatan analisis risiko secara komputerisasi disebut Kriteria Seleksi. Berbeda dengan yang dibuat secara manual yang bersifat individual, maka yang dibuat melalui Kriteria Seleksi bersifat massal. Sehingga, menurut saya, pemilihan Wajib Pajak melalui Kriteria Seleksi lebih tepat dikarenakan kebijakan Direktur Pemeriksaan dan Penagihan. Menurut informasi yang didapat, pengembangan Kriteria Seleksi dibeberapa negara membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk disebut ideal atau bagus. Artinya, jika baru satu atau dua tahun, seperti anak yang baru belajar berdiri, he...he...heh. Selain itu, formula atau kriteria yang ditetapkan bersifat rahasia. Kenapa harus rahasia? Supaya tidak bisa "diakali" Wajib Pajak. Jika bersifat terbuka, maka Wajib Pajak akan menyiasati untuk tetap tidak pernah diperiksa! Bisa &lt;i&gt;berabe&lt;/i&gt;. Ada juga yang selalu merubah-rubah kriterianya sehingga "tidak sempet" untuk diakali Wajib Pajak.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Apakah &lt;i&gt;risk based audit&lt;/i&gt;&amp;nbsp;akan tetap digunakan secara umum seperti diatur di Peraturan Menteri Keuangan No. 199/PMK.03/2007? Atau ada pengecualian? Kita tunggu saja pengganti PMK-199 yang sedang dikonsep oleh Dit. P2.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, 'Trebuchet MS', sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19px; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-7072659426735371419?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/7072659426735371419/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2012/01/risk-based-audit.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7072659426735371419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7072659426735371419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2012/01/risk-based-audit.html' title='risk based audit'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-4391202321333373801</id><published>2012-01-25T09:53:00.000+07:00</published><updated>2012-01-25T09:54:03.453+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='NPWP'/><title type='text'>SKP secara jabatan</title><content type='html'>Menurut ketentuan Pasal 2 ayat (1) KUP bahwa kewajiban wajib pajak dimulai sejak terpenuhinya persyaratan subjektif dan objektif. Tidak tergantung pada sarana administrasi seperti NPWP. Jika persyaratan subjektif terpenuhi, dan persyaratan objektif pun terpenuhi, maka sejak itulah yang bersangkutan harus melaksanakan ketentuan perpajakan. Dimulai dengan mendaftarkan diri ke &lt;a href="http://www.pajak.go.id/direktori-kpp" target="_blank"&gt;kantor pajak&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prantiknya, banyak yang mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP karena kebutuhan, misalnya karena mau mengajukan kredit ke bank, atau mau kerja dan ditempat kerja (pemberi kerja) diwajibkan memiliki NPWP. Walaupun belum diterima sebagai pegawai, maka dia dengan sukarela &lt;a href="http://ereg.pajak.go.id/ereg/wp/Login.do" target="_blank"&gt;mendaftarkan diri&lt;/a&gt; untuk mendapatkan NPWP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk contoh pengusaha yang mengajukan kredit, sebenarnya kewajiban subjektif dan objektifnya bisa jadi sudah terpenuhi jauh sebelum dia &lt;a href="http://ereg.pajak.go.id/ereg/wp/Login.do" target="_blank"&gt;mendaftarkan diri&lt;/a&gt; untuk mendapatkan NPWP. Contoh, Tn Jugala sudah menjadi pengusaha sejak tahun 2000. Usahanya cukup sukses dengan berbagai rintangan yang dia hadapi. Karena usahanya semakin maju, dan permintaan pasar sangat tinggi, maka dia perlu modal untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Maka tahun 2010 dia mengajukan kredit ke bank. Karena ada persyaratan NPWP, sebelum aplikasi kreditnya disetujui, Tn Jugala mendaftarkan diri tahun 2010 ke &lt;a href="http://www.pajak.go.id/direktori-kpp" target="_blank"&gt;kantor pajak&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada contoh seperti ini, bisa jadi Tn Jugala seharusnya sudah terdaftar sejak, misalnya, tahun 2003. Tetapi dia baru mendaftarkan diri di tahun 2010. Bandingkan dengan contoh pegawai yang belum-belum punya gaji (berarti persyaratan objektifnya belum cukup) tetapi dia sudah terdaftar dan punya NPWP. Dua kondisi ini, menurut logika umum, tidak adil karena Tn Jugala harus sudah membayar pajak sejak tahun 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk alasan kepastian hukum, UU KUP mengatur bahwa DJP dapat menerbitkan SKPKB sebelum Wajib Pajak diberikan NPWP. Ketentuan ini diatur di Pasal 2 ayat (4a) UU KUP:&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak yang diterbitkan Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau yang dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak secara jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dimulai sejak saat Wajib Pajak memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, paling lama 5 (lima) tahun sebelum diterbitkannya Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau dikukuhkannya sebagai Pengusaha Kena Pajak.&lt;/blockquote&gt;Perhatikan frase "diterbitkan Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau yang dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak secara jabatan". Karena ada kata "secara jabatan" ini maka ada yang berpendapat bahwa ayat ini dapat ditafsirkan secara &lt;i&gt;a contrario&lt;/i&gt; bahwa yang dapat mundur 5 tahun ini ada kalau pemberitan NPWP secara jabatan. Jika pemberian NPWP secara sukarela maka kewajiban perpajakan dimulai sejak tahun terdaftar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya termasuk yang tidak setuju dengan pendapat ini. Mari kita baca Pasal 2 ayat (4) UU KUP yang menjadi acuan Pasal 2 ayat (4a) UU KUP diatas:&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau mengukuhkan Pengusaha Kena Pajak secara jabatan apabila Wajib Pajak atau Pengusaha Kena Pajak tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan/atau ayat (2)&lt;/blockquote&gt;Jadi pertanyaannya: jika Wajib Pajak mendaftarkan diri secara sukarela tahun 2010, apakah DJP memilki kewenangan menetapkan NPWP secara jabatan sejak 2006? Teman saya yang "bermazhab" &lt;i&gt;a contrario &lt;/i&gt;mengatakan tidak boleh. Alasannya juga untuk kepastian hukum. Tetapi saya tetap berpendapat bahwa DJP memiliki kewenangan tsb!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kalimat penjelasan Pasal 2 ayat (4) UU KUP :&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Hal ini dapat dilakukan apabila berdasarkan &lt;u&gt;&lt;b&gt;data yang diperoleh&lt;/b&gt;&lt;/u&gt; atau dimiliki oleh Direktorat Jenderal Pajak &lt;u&gt;&lt;b&gt;ternyata&lt;/b&gt;&lt;/u&gt; orang pribadi atau badan atau Pengusaha tersebut telah memenuhi syarat untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.&amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;&amp;nbsp;Tulisan &lt;i&gt;bold&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;underline&lt;/i&gt; dari saya untuk penekanan bahwa syarat "secara jabatan" yang diatur di Pasal 2 ayat (4a) UU KUP adalah data yang diperoleh DJP. Kata "ternyata" juga menyiratkan bahwa Wajib Pajak sebenarnya sudah punya NPWP pada saat DJP memperoleh data. Kembali kepada contoh, Tn Jugala mendaftarkan diri tahun 2010, &lt;u&gt;&lt;b&gt;ternyata&lt;/b&gt;&lt;/u&gt; DJP memperoleh data bahwa tahun 2008 dan 2009 Tn Jugala juga suda memenuhi syarat secara objektif sehingga sejak tahun 2008 kepada Tn Jugala dapat diterbitkan SKPKB. Dan "secara jabatan" DJP menetapkan bahwa Tn Jugala sejak 2008&amp;nbsp; diterbitkan NPWP dan ditagih pajaknya dengan dikeluarkan SKPKB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat saya diperkuat dengan Pasal 24 Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2011:&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan surat ketetapan pajak dan/atau Surat Tagihan Pajak untuk Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak &lt;u&gt;&lt;b&gt;sebelum&lt;/b&gt;&lt;/u&gt; Wajib Pajak diberikan atau diterbitkan Nomor Pokok Wajib Pajakdan/atau dikukuhka sebagai Pengusaha Kena Pajak, apabila diperoleh data dan/atau informasi yang menunjukkan adanya kewajiban perpajakan yang belum dipenuhi Wajib Pajak.&lt;/blockquote&gt;Jika kita memperhatikan bagian menimbang Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2011 bahwa peraturan pemerintah ini mengacu pada Pasal 48 UU KUP. Pasal 48 UU KUP hanya ada di UU No. 6 Tahun 1983:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Hal-hal yang belum cukup diatur dalam undang-undang ini, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. &lt;/blockquote&gt;Bagian penjelasan Pasal 48 UU KUP berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Untuk menampung hal-hal yang belum cukup diatur mengenai tata cara atau kelengkapan yang materinya sudah dicantumkan dalam Undang-undang ini, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Dengan demikian lebih mudah mengadakan penyesuaian pelaksanaan Undang-undang ini dan tata cara yang diperlukan.&lt;/blockquote&gt;Dalam hal ini, saya perpendapat bahwa untuk masalah seperti uraian diatas, peraturan pemerintah memperjelas hak DJP dan kewajiban Wajib Pajak. Hak DJP untuk menerbitkan SKP secara jabatan. Sebaliknya kewajiban Wajib Pajak untuk memenuhi kewajiban perpajakannya. Pasal 24 Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2011 harus ditafsirkan tidak bertentangan dengan Pasal 2 ayat (4a) UU KUP &lt;u&gt;&lt;b&gt;kecuali&lt;/b&gt;&lt;/u&gt; jika Mahkamah Agung menyatakan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-4391202321333373801?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/4391202321333373801/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2012/01/skp-secara-jabatan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/4391202321333373801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/4391202321333373801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2012/01/skp-secara-jabatan.html' title='SKP secara jabatan'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-7819457853786739347</id><published>2011-12-15T17:49:00.000+07:00</published><updated>2011-12-15T17:49:17.756+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fasilitas Pajak'/><title type='text'>Tax Holiday</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt; &lt;w:WordDocument&gt;  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;  &lt;w:TrackMoves/&gt;  &lt;w:TrackFormatting/&gt;  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;  &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;  &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;  &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;  &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;  &lt;w:Compatibility&gt;   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;   &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;   &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;   &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;   &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;   &lt;w:CachedColBalance/&gt;  &lt;/w:Compatibility&gt;  &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;m:mathPr&gt;   &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;   &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;   &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;   &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;   &lt;m:dispDef/&gt;   &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;   &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;   &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;   &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;   &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;   &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;  &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt; &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;  &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt; &lt;/w:LatentStyles&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;&lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;}&lt;/style&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Tax holiday&lt;/i&gt; adalahpembebasan pajak penghasilan badan untuk Wajib Pajak tertentu. Pengalaman Indonesia,Wajib Pajak yang masih mendapatkan fasilitas &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;tax holiday&lt;/i&gt; selalu menunjukkan untung atau laba dan memberikandividen bagi pemegang saham. Tetapi begitu fasilitas &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;tax holiday&lt;/i&gt; sudah habis, maka Wajib Pajak tersebut berubah menjadiperusahaan yang merugi &lt;span style="font-family: Wingdings; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: Wingdings;"&gt;:(&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tentu saja tida semua Wajib Pajak seperti itu. Tetapiberdasarkan informasi dari lisan ke lisan, secara umum karakteristiknya sepertiitu. Itulah salah satu alasan kenapa DJP sebelumnya menghindari memberikanfasilitas &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;tax holiday&lt;/i&gt;. Tetapi karenadesakan dari instansi lain dan persaingan dengan Negara lain, mulai 2011Indonesia mengeluarkan kebijakan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;taxholiday&lt;/i&gt; yang diatur lebih detil di Peraturan Menteri Keuangan No. &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;id_topik=&amp;amp;id_jenis=&amp;amp;p_tgl=tahun&amp;amp;tahun=&amp;amp;nomor=130&amp;amp;q=&amp;amp;q_do=macth&amp;amp;cols=isi&amp;amp;hlm=1&amp;amp;page=show&amp;amp;id=14789"&gt;130/PMK.011/2011&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/09/fasilitas-pembebasan-pajak.html"&gt;Beleid &lt;i&gt;tax holiday&lt;/i&gt; &lt;/a&gt;ternyata langsung disambut oleh dunia industri.Sejak Desember 2011 setidaknya sudah &lt;a href="http://nasional.kontan.co.id/v2/read/1323912625/85254/Tujuh-perusahaan-ajukan-tax-holiday-"&gt;tujuh perusahaan&lt;/a&gt; yang sudah mengajukan &lt;i&gt;taxholiday&lt;/i&gt;. Menurut &lt;a href="http://nasional.kontan.co.id/v2/read/1323912625/85254/Tujuh-perusahaan-ajukan-tax-holiday-"&gt;Kontan&lt;/a&gt;, tiga dari tujuh perusahaan yang sudah meminta fasilitas &lt;i&gt;tax holiday&lt;/i&gt; tersebut itu:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;1. PT Krakatau Posco&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;2. PT Indorama Synthetics Tbk&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;3. PT Chandra Asri Petrochemical Tbk&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kalau untuk perusahaan baru, seperti PT Krakatau Posco diatas, mungkin saja bisa mengubah-ubah laba perusahaan. Kalau pegawai atau konsultan pajak perusahaan tersebut canggih, bisa saja membuat yang laba menjadi rugi. Itulah pekerjaan &lt;i&gt;tax planner,&lt;/i&gt; mereka dibayar mahal agar memberikan manfaat ekonomis bagi pemegang saham. Tetapi jika perusahaan terbuka, maka ada kendala dengan aturan di pasar modal yang lebih ketat dan terbuka.&amp;nbsp; Jadi, sangat tidak logis jika tiba-tiba perusahaan terbuka menjadi rugi gara-gara fasilitas &lt;i&gt;tax holiday&lt;/i&gt; habis.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Dan tentu saja teman-teman di lapangan juga tidak akan menerima begitu saja laporan kinerja keuangan Wajib Pajak yang mendapat &lt;i&gt;tax holiday.&lt;/i&gt; Sekarang di KPP juga ada petugas &lt;i&gt;account representative&lt;/i&gt; yang memonitas kinerja Wajib Pajak. Ditambah lagi, pemeriksa pajak sekarang relatif lebih banyak mendapatkan diklat, baik yang diselenggarakan oleh Pusdiklat Pajak maupun internal DJP. Jadi, sinyalemen di awal, atau pengalaman yang lama kemungkinan besar tidak akan terulang. Semoga.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-7819457853786739347?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/7819457853786739347/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/12/tax-holiday.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7819457853786739347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7819457853786739347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/12/tax-holiday.html' title='Tax Holiday'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-1404115008380448996</id><published>2011-12-07T14:23:00.001+07:00</published><updated>2011-12-07T14:49:34.395+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biaya'/><title type='text'>Lembaga Sumbangan Keagamaan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&amp;nbsp;Menurut Peraturan Menteri Keuangan No. 254/PMK.03/2010 bahwa zakat atau sumbangan keagamaan dapat dibiayakan, atau dapat dikurangkan dari penghasilan bruo. Tetapi tidak semua sumbangan keagaam dapat dibiayakan. Peraturan Menteri Keuangan No. 254/PMK.03/2010 memberikan syarat sumbangan keagamaan dapat dibiayakan:&lt;br /&gt;[1.] zakat atas penghasilan yang dibayarkan oleh Wajib Pajak orang pribadi pemeluk agama Islam dan/atau oleh Wajib Pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama Islam kepada badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2.] sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi Wajib Pajak orang pribadi pemeluk agama selain agama Islam dan/ atau oleh Wajib Pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama selain agama Islam, yang diakui di Indonesia yang dibayarkan kepada lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3.] Badan amil zakat atau lembaga amil zakat adalah badan atau lembaga yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang yang mengatur tentang pengelolaan zakat&amp;nbsp; dan perubahannya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4.] Zakat atau sumbangan keagamaan berupa uang atau yang disetarakan dengan uang. Yang disetarakan dengan uang adalah zakat atau sumbangan keagamaan yang diberikan dalam bentuk selain uang yang dinilai dengan harga pasar pada saat dibayarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5.] Zakat atau sumbangan keagamaan harus didukung oleh bukti-bukti yang sah yang diterbitkan oleh lembaga yang disahkan oleh Pemerintah. Jika dikeluarkan oleh lembaga yang belum disahkan, maka tidak boleh dibiayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian banyak pertanyaan, siapa saja lembaga yang disahkan oleh Pemerintah? Nah, Peraturan Dirjen Pajak No. 33/PJ/2011 kemudian menetapkan lembaga-lembaga keagamaan yang dapat menerima sumbangan atau zakat dan atas sumbangan tersebut dapat dibiayakan secara fiskal. Beriktu daftar lembaga keagamaan sesuai lampiran PER-33/PJ/2011:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-e0LEYNaPFlg/Tt8UIhtnSzI/AAAAAAAAASU/HdCpDAXPIXs/s1600/lembagaZis.bmp" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-e0LEYNaPFlg/Tt8UIhtnSzI/AAAAAAAAASU/HdCpDAXPIXs/s400/lembagaZis.bmp" width="362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-1404115008380448996?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/1404115008380448996/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/12/lembaga-sumbangan-keagamaan.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/1404115008380448996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/1404115008380448996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/12/lembaga-sumbangan-keagamaan.html' title='Lembaga Sumbangan Keagamaan'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-e0LEYNaPFlg/Tt8UIhtnSzI/AAAAAAAAASU/HdCpDAXPIXs/s72-c/lembagaZis.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-2610774367609728298</id><published>2011-11-30T05:54:00.001+07:00</published><updated>2011-11-30T06:32:09.380+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemeriksaan'/><title type='text'>Pemeriksaan Batal</title><content type='html'>Pembatalan pemeriksaan ada dua, yaitu pembatalan hasil pemeriksaan dan pembatalan penugasan pemeriksaan. Pembatalan hasil pemeriksaan artinya yang dibatalkan adalah "hasil" pemeriksaan berupa surat ketetapan pajak (skp). Pembatalan hasil pemeriksaan terkait dengan Pasal 36 ayat (1) huruf d UU KUP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pembatalan penugasan hanya diatur di Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak. Di SE-10/PJ/2008 bilang bahwa pembatalan penugasan disebabkan:&lt;br /&gt;[1.] Kesalahan administrasi yang bersifat manusiawi atau &lt;i&gt;human error&lt;/i&gt;. Contoh kesalahan yang bisa menyebabkan pembatalan penugasan adalah kesalahan tahun pajak, masa pajak, atau kode pemeriksaan di SP2.&lt;br /&gt;[2.] Pertimbangan Dirjen Pajak. Kalau penyeban yang ini tidak diatur secara khusus apa saja penyebabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 15 November 2011, SE-10/PJ/2011 diganti dengan SE-85/PJ/2011. Penyebab pembatalan kemudian bertambah menjadi empat. Berikut alasan pembatalan menurut &lt;b&gt;SE-85/PJ/2011&lt;/b&gt;:&lt;br /&gt;[1.] Kesalahan administrasi yang bersifat manusiawi atau&amp;nbsp;&lt;i&gt;human error;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;[2.] SP2 terbit dan pemeriksaan belum dimulai kemudian WP menyampaikan SPT Pembetulan;&lt;br /&gt;[3.] Pemeriksaan atas SPT LB belum selesai sampai jatuh tempo pengembalian kelebihan pembayaran pajak, yaitu 12 bulan.&amp;nbsp;&lt;br /&gt;[4.] Pertimbangan Dirjen Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembatalan penugasan adalah pembatalan atas Surat Perintah Pemeriksaan [SP2]. Dengan dibatalkannya SP2 maka "seolah-olah" tidak ada SP2. Sehingga atas pemeriksaan tersebut tidak ada Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan [SPHP] dan Laporan Hasil Pemeriksaan [LHP]. Cukup diajukan permohonan pembatalan ke unit pemberi penugasan atau instruksi. Tetapi jika pemeriksaan telanjur sudah sampai tahap SPHP maka proses pemeriksaan tetap diselesaikan kecuali jika alasan pertimbangan Dirjen Pajak. Jika pembatalan SP2 disetujui, maka Wajib Pajak berhak mendapat pemberitahuan atas pembatalan SP2 tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah dengan pembatalan SP2 kemudian Wajib Pajak terlepas dari pemeriksaan? Tunggu dulu! Jika pembatalan alasannya kesalahan administrasi maka setelah SP2 dibatalkan bisa saja kemudian KPP mengusulkan yang baru. Contoh di SP2 tertulis tahun pajak 2008 padahal yang dimaksud tahun pajak 2009 karena tahun pajak 2008 sebenarnya sudah diperiksa. Maka atas SP2 yang pertama dibatalkan. Tetapi KPP dapat mengusulkan pemeriksaan tahun 2009 sebagaimana maksud pertama. Sehingga nanti bisa terbit SP2 baru. Begitu juga jika alasan pembatalan karena WP menyampaikan SPT Pembetulan sebelum dimulainya pemeriksaan. Hanya saja, memang &lt;b&gt;tidak ada kewajiban &lt;/b&gt;KPP untuk mengusulkan SP2 yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembatalan SP2 alasan telah jatuh tempo 12 bulan merupakan hal baru. Aturan ini untuk kepastian Wajib Pajak. Jangka waktu 12 sejak SPT lebih bayar disampaikan secara lengkap sudah diatur di Pasal 17B ayat (1) UU KUP.&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan pemeriksaan atas permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak, selain permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dari Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17C dan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17D, harus menerbitkan surat ketetapan pajak paling lama 12 (dua belas) bulan sejak surat permohonan diterima secara lengkap.&amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;Apapun ceritanya, jika jangka waktu telah menginjak 12 bulan maka permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak harus dikabulkan oleh DJP. Seluruh permohonannya tidak boleh dikoreksi dan permohonannya dianggap benar. Karena itu, proses pemeriksaan kemudian dibatalkan karena permohonan Wajib Pajak harus dipenuhi 100%. Tetapi jika saat 12 bulan tersebut proses pemeriksaan sudah masuk ke SPHP maka pembahasan SPHP telah dilanjutkan. Tentu saja dengan catatan tetap memperhatikan ketentuan Pasal 17B ayat (2) UU KUP, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Apabila setelah &lt;span style="color: red; font-weight: bold;"&gt;melampaui&lt;/span&gt; jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Direktur Jenderal Pajak tidak memberi suatu keputusan, permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dianggap dikabulkan dan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar harus diterbitkan &lt;span class="Apple-style-span" style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;paling lama 1 (satu) bulan setelah jangka waktu tersebut berakhir&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-2610774367609728298?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/2610774367609728298/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/11/pemeriksaan-batal.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/2610774367609728298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/2610774367609728298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/11/pemeriksaan-batal.html' title='Pemeriksaan Batal'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-459426910978903959</id><published>2011-11-29T23:05:00.001+07:00</published><updated>2011-11-30T00:25:13.300+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemeriksaan'/><title type='text'>Tim QA Pemeriksaan</title><content type='html'>Pada catatan bulan &lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/05/revisi-aturan-pemeriksaan-2.html"&gt;Mei 2011&lt;/a&gt;, diakhir catatan tertulis "bersambung ...". Catatan ini merupakan sambungan catatan tentang revisi aturan pemeriksaan pajak. Catatan kali ini masalah Tim &lt;i&gt;Quality Assurance&lt;/i&gt; Pemeriksaan, atau kita sebut tim QA Pemeriksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aturan lebih lanjut tentang tim QA Pemeriksaan diatur di Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. PER-34/PJ/2011 tentang petunjuk pelaksana pemeriksaan untuk menguji kepatuhan. Peraturan ini ditandatangani pada tanggal 15 November 2011 jam 5 sore lewat 5 menit :-)&lt;br /&gt;[kalau menit sih &lt;i&gt;dipas-pasin&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim &lt;i&gt;Quality Assurance&lt;/i&gt; Pemeriksaan adalah tim yang dibentuk oleh Direktur Jenderal Pajak dalam rangka membahas hasil Pemeriksaan yang belum disepakati antara Pemeriksa Pajak dan Wajib Pajak dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan guna menghasilkan Pemeriksaan yang berkualitas. Menurut Pasal 11A ayat (2) Peraturan Menteri Keuangan No. 82/PMK.03/2011, Tim QA Pemeriksaan &lt;b&gt;bertugas&lt;/b&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;a. membahas perbedaan pendapat antara Wajib Pajak dengan Pemeriksa Pajak dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan;&lt;br /&gt;b. memberikan &lt;b&gt;simpulan dan keputusan&lt;/b&gt; atas perbedaan pendapat antara Wajib Pajak dengan Pemeriksa Pajak; dan&lt;br /&gt;c. membuat risalah Tim Quality Assurance Pemeriksaan yang berisi simpulan dan keputusan hasil pembahasan sebagaimana dimaksud pada huruf b, yang ditandatangani oleh Tim Quality Assurance Pemeriksaan dan Tim Pemeriksa, dan/atau dengan Wajib Pajak.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Tim QA Pemeriksaan bekerja setelah ada permohonan dari Wajib Pajak. Tentu saja Wajib Pajak mengajukan permohonan pembahasan dengan Tim QA Pemeriksaan karena Wajib Pajak merasa akan mendapat kepuasan. Atau setidaknya Wajib Pajak memandang pembahasan dengan Tim QA Pemeriksaan lebih berkualitas. Jika yang terakhir alasannya, maka tujuan pembentukan Tim QA Pemeriksaan tercapai sesuai dengan definisi Tim QA Pemeriksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, tidak semua permohonan dari Wajib Pajak dapat diterima. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh Wajib Pajak agar Tim QA Pemeriksaan yang berada di Kanwil DJP bisa "menggelar sidang". Syarat-syarat pengajuan ke Tim QA Pemeriksaan :&lt;br /&gt;[1.] Pembahasan dengan pemeriksa pajak paling lama 3 hari kerja.&lt;br /&gt;[2.] Risalah Pembahasan ditandatangan oleh Wajib Pajak dan di risalah tersebut disebutkan akan mengajukan permohonan ke Tim QA Pemeriksaan.&lt;br /&gt;[3.] Berita Acara Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan belum ditandatangan oleh Wajib Pajak.&lt;br /&gt;[4.] Wajib Pajak mengajukan permohonan &lt;b&gt;sehari&lt;/b&gt; setelah tandatangan Risalah Pembahasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika salah satu dari empat diatas tidak dipenuhi maka hak Wajib Pajak gugur. Misalnya pembahasan dengan pemeriksa sampai 4 atau 5 hari kerja. &amp;nbsp;Jika Wajib Pajak masih belum puas dengan pemeriksa pajak tetapi hak untuk pembahasan dengan Tim QA Pemeriksaan telah gugur maka Wajib Pajak dapat mengajukan upaya banding setelah ada surat ketetapan pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang Wajib Pajak hanya diberikan kesempatan 1 hari untuk mengajukan permohonan. Karena waktu yang sangat singkat, maka Wajib Pajak harus dapat menyiasati kondisi ini. Apalagi jika kondisi geografis memberatkan Wajib Pajak untuk datang langsung ke Kanwil DJP. Caranya bagaimana? Cari informasi nomor telepon Kepala Seksi Bimbingan Pemeriksaan di Kanwil DJP. Bisa nomor kantor atau nomor HP. Setelah mendapatkan nomor telepon, dapatkan nomor faksimile Kanwil DJP. Tentu saja 2 informasi ini sekurang-kurangnya diperoleh pada saat tanda tangan Risalah Pembahasan yang menyatakan akan mengajukan pembahasan ke Tim QA Pemeriksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kembali ke kantor atau tempat tinggal, Wajib Pajak besoknya segera membuat Surat Permohonan Pembahasan Dengan Tim Quality Assurance Pemeriksaan. Surat tersebut selain harus disampaikan kepada Kanwil DJP atasan KPP, surat tersebut juga harus ditembuskan kepada pemeriksa pajak. Untuk menghemat waktu, Wajib Pajak dapat mengirim melalui faksimile. Tetapi secara informal baiknya harus disampaikan (menelpon) kepada Kepala Seksi Bimbingan Pemeriksaan untuk memastikan bahwa surat diterima dengan baik. Setelah memastikan diterima oleh Kanwil DJP, Kepala Seksi Bimbingan Pemeriksaan akan segera (besoknya atau dalam jangka waktu 3 hari kemudian) membuat Undangan Untuk Menghadiri Pembahasan Dengan Tim Quality Assurance Pemeriksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undangan tersebut harus dikirim kepada Wajib Pajak dan tim pemeriksa di KPP. Pada tanggal yang telah ditentukan dalam undangan, Tim QA Pemeriksaan akan meminta pendapat Wajib Pajak, dan tim pemeriksa. &amp;nbsp;Wajib Pajak harus dapat memberikan alasan dan dasar hukum penolakan hasil pemeriksaan. Sebaliknya tim pemeriksa juga harus dapat memberikan alasan dan dasar hukum kenapa masih mempertahankan pendapatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kedua belah pihak menyampaikan argumentasinya [untuk satu masalah ] maka Tim QA Pemeriksaan kemudian menyimpulkan dan memutuskan. Saya ulangi, "menyimpulkan dan memutuskan" adalah bahasa Peraturan Menteri Keuangan No. 82/PMK.03/2011. Karena Tim QA Pemeriksaan diberikan wewenang oleh Menteri Keuangan maka pendapat Tim QA Pemeriksaan adalah pendapat terakhir sebelum skp. Dan angka-angka yang harus dituangkan dalam ketetapan pajak adalah angka menurut Tim QA Pemeriksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik Wajib Pajak maupun tim pemeriksa pajak diberikan ruang untuk menyatakan "sikap"nya atas keputusan Tim QA Pemeriksaan. Bisa jadi pemeriksa pajak berbeda pendapat dengan tim QA Pemeriksaan. Perbedaan pendapat tersebut dapat "dibunyikan" dalam Risalah Tim QA Pemeriksaan. Karena sudah merupakan keputusan, apapun sikap Wajib Pajak dan tim pemeriksa pajak sebatas dicatat dalam Risalah Tim QA Pemeriksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menandatangani risalah bukan berarti setuju atau sependapat. Begitu juga membuat LHP tidak berarti 100% bertanggung jawab atas semua isi LHP. Untuk hasil pemeriksaan yang dibatalkan oleh Tim QA Pemeriksaan maka yang bertanggung jawab tetap Tim QA Pemeriksaan walaupun tidak membuat dan menandatangani LHP. Berani memutuskan secara hukum harus bertanggung jawab atas keputusannya. Sedangkan pemeriksa pajak yang membuat LHP dan NPP hanya sebatas melaksakan kewajiban administrasi agar surat ketetapan pajak terbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu pembahasan dengan Tim QA Pemeriksaan hanya 3 hari. Bagaimanapun kompleksitas permasalahan yang diajukan oleh Wajib Pajak, masa kerja Tim QA Pemeriksaan hanya 3 hari itu. Artinya pada hari ke-3 pembahasan, Tim QA Pemeriksaan harus memutuskan dan membuat Risalah Tim QA Pemeriksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari setelah tanggal Risalah Tim QA Pemeriksaan, Wajib Pajak juga harus dipanggil untuk menandatangani Berita Acara Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan. Pada hari ke-3 pembahasan dengan Tim QA Pemeriksaan, tim pemeriksa sudah dapat menyampaikan surat panggilan ke Wajib Pajak. Tentu saja cara ini agar pemeriksa pajak tidak perlu ke tempat Wajib Pajak untuk menyampaikan surat panggilan. Mengefektifkan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran&amp;nbsp;Berita Acara Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan adalah Ikhtisar Hasil Pembahasan Akhir. Ikhtisar ini merangkum semua angka mulai SPHP sampai keputusan Tim QA Pemeriksaan. Terakhir saya sampaikan bahwa menandatangani berita acara dan ikhtisar&lt;b&gt; &lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;tidak&lt;/span&gt; berarti setuju&lt;/b&gt; atas angka-angka yang ada didokumen tersebut. Wajib Pajak yang tidak setuju atas hasil akhir pemeriksaan tetap diminta untuk tanda tangan. Begitu juga pemeriksa yang tidak setuju dengan keputusan Tim QA Pemeriksaan tetap harus menandatangani berita acara dan ikhtisar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk catatan pemeriksaan "lebih panjang" bisa dilihat di&amp;nbsp;&lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/p/pemeriksaan.html"&gt;http://pajaktaxes.blogspot.com/p/pemeriksaan.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-459426910978903959?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/459426910978903959/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/11/tim-qa-pemeriksaan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/459426910978903959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/459426910978903959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/11/tim-qa-pemeriksaan.html' title='Tim QA Pemeriksaan'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-7584974342405145951</id><published>2011-10-10T16:18:00.000+07:00</published><updated>2011-10-10T16:26:03.003+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 21'/><title type='text'>Premi Jamsostek</title><content type='html'>Bayangkan saat kita terima gaji setiap bulan. Diantara penghasilan gaji tersebut ada yang kita "sisihkan" atau pisahkan untuk masa pensiun. Sebagian lain untuk berjaga-jaga jika ada musibah yang tidak diharapkan dan membutuhkan biaya, seperti sakit atau kecelakaan. Penghasilan yang disisihkan tersebut akan dibayarkan ke perusahaan asuransi. Tetapi khusus pensiunan, kita bisa memberikannya ke lembaga Dana Pensiun atau perusahaan asuransi. Jika kita memberikannya ke lembaga Dana Pensiun yang telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan, maka disebut iuran pensiun dan boleh dibiayakan atau dikurangkan dari penghasilan bruto. Sedangkan jika kita bayar ke perusahaan asuransi, maka tidak boleh dibiayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pasal 9 ayat (1) huruf d UU PPh, pembayaran premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa, yang dibayar oleh Wajib Pajak orang pribadi &lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;tidak boleh&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; dibiayakan. Artinya, penghasilan yang diterima oleh WPOP (termasuk penghasilan yang disisihkan untuk membayar premi asuransi) harus dikenakan PPh OP. Sebaliknya, jika kita menerima manfaat dari perusahaan asuransi kesehatan maka &lt;span style="color: red;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;bukan termasuk penghasilan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="color: red;"&gt; &lt;/b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pasal 4 ayat (3) huruf e UU PPh mengatakan bahwa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa &lt;b style="color: red;"&gt;dikecualikan dari objek pajak&lt;/b&gt;. Seolah-olah kita mengatakan bahwa atas penghasilan yang kita terima dan disisihkan ke perusahaan asuransi sudah dikenakan pajak sebelum diberikan ke perusahaan asuransi sehingga saat kembali dari perusahaan asuransi (diterima manfaat asuransi) maka tidak boleh dikenakan pajak &lt;b&gt;&lt;i&gt;lagi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika premi asuransi tersebut merupakan beban majikan atau dibayar oleh pemberi kerja maka premi asuransi tersebut menjadi penghasilan bagi pegawai. Di Lampiran PER-31/PJ/2009 lebih jelas diatur: &lt;br /&gt;Untuk perusahaan yang masuk program Jamsostek: &lt;br /&gt;** Premi Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK),&lt;br /&gt;** Premi Jaminan Kematian (JK), dan&lt;br /&gt;** Premi Jaminan Pemeliharaan Kesehataan (JPK)&lt;br /&gt;&lt;b&gt;yang dibayar oleh pemberi kerja &lt;/b&gt;merupakan penghasilan bagi pegawai.&lt;br /&gt;Ketentuan yang sama diberlakukan juga bagi:&lt;br /&gt;** premi asuransi kesehatan,&lt;br /&gt;** asuransi kecelakaan kerja,&lt;br /&gt;** asuransi jiwa,&lt;br /&gt;** asuransi dwiguna, dan&lt;br /&gt;** asuransi bea siswa&lt;br /&gt;&lt;b&gt;yang dibayarkan oleh pemberi kerja&lt;/b&gt; untuk pegawai kepada perusahaan asuransi lainnya.&lt;br /&gt;Dalam menghitung PPh Pasal 21, &lt;b&gt;premi tersebut digabungkan dengan penghasilan bruto &lt;/b&gt;yang dibayarkan oleh pemberi kerja kepada pegawai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pasal 20 UU No. &lt;a href="http://www.jamsosindonesia.com/kjs/files/PerUU/Jamsostek/UU%20No_%203_1992_jamsostek.pdf"&gt;3 tahun 1992&lt;/a&gt; tentang Jamsostek:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;(1) Iuran Jaminan Kecelakaan Kerja, Iuran Jaminan Kematian, dan Iuran Jaminan Pemeliharaan Kesehatan ditanggung oleh pengusaha.&lt;br /&gt;(2) Iuran Jaminan Hari Tua ditanggung oleh pengusaha dan tenaga kerja.&lt;/blockquote&gt;Pasal 9 Peraturan Pemerintah &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=7091"&gt;No. 14 Tahun 1993&lt;/a&gt; mengatur lebih lanjut besaran iuran sosial ini:&lt;br /&gt;[a.] JaminanKecelakaan Kerja (JKK) ditanggung pengusaha:&lt;br /&gt;&amp;gt;&amp;gt; KelompokI : 0,24%dari upah sebulan&lt;br /&gt;&amp;gt;&amp;gt;&amp;nbsp; KelompokII : 0,54%dari upah sebulan&lt;br /&gt;&amp;gt;&amp;gt; KelompokIII : 0,89%dari upah sebulan&lt;br /&gt;&amp;gt;&amp;gt; KelompokIV : 1,27%dari upah sebulan&lt;br /&gt;&amp;gt;&amp;gt; Kelompok V : 1,74%dari upah sebulan&lt;br /&gt;[b.] JaminanHari Tua&lt;br /&gt;&amp;gt;&amp;gt; Sebesar 3,7% dari upah sebulan ditanggung pengusaha  &lt;br /&gt;&amp;gt;&amp;gt; Sebesar 2% dari upah sebulan ditanggung tenaga kerja&lt;br /&gt;[c.] JaminanKematian (JK), sebesar 0,30 % dari upah sebulan ditanggung pengusaha&lt;br /&gt;[d.] JaminanPemeliharaan Kesehatan (JPK) ditanggung pengusaha:&lt;br /&gt;&amp;gt;&amp;gt; sebesar 6 % dari upah sebulan bagitenaga kerja yang sudah berkeluarga&lt;br /&gt;&amp;gt;&amp;gt; 3 % dari upah sebulan bagitenaga kerja yang belum berkeluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun namanya iuran, karena menurut Pasal 3 UU No. 3 Tahun 1992 bahwa program jaminan sosial tenaga kerja pengelolaannya dapat dilakukan dengan mekanisme asuransi. Karena itu PT Jamsostek sebagai badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja bisa disebut perusahaan asuransi. Sehingga istilah "iuran" diatas bisa juga disebut "premi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan ketentuan diatas maka, atas premi yang dibayarkan kepada PT Jamsostek yang merupakan tanggung jawab pengusaha (pemberi kerja) merupakan &lt;b&gt;penghasilan bagi pegawai&lt;/b&gt;. Sebaliknya, bagi pengusaha yang membayarkan akan menjadi biaya. Khusus iuran Jaminan Hari Tua sebesar 2% dari upah sebulan merupakan tanggungan tenaga kerja (pegawai) dan dapat dibiayakan (mengurani penghasilan bruto). Halaman 1 Lampiran PER-31/PJ/2009 diantaranya menyebutkan:&lt;br /&gt;&lt;i&gt; jumlah penghasilan neto sebulan yang diperoleh dengan cara mengurangi penghasilan bruto sebulan dengan&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;** biaya jabatan, serta&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;** iuran pensiun,&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;** iuran Jaminan Hari Tua, dan/atau&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;** Tunjangan Hari Tua&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;yang dibayar sendiri oleh &lt;b&gt;pegawai yang bersangkutan&lt;/b&gt; melalui pemberi kerja kepada Dana Pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan atau kepada &lt;b&gt;Badan Penyelenggara Program Jamsostek&lt;/b&gt;.&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa sebenarnya yang ditanggung pengusaha (pemberi kerja)?&lt;br /&gt;Kalau lihat persentase diatas maka kita bisa menjumlahkan total persentase dari upah sebulan.&lt;br /&gt;&amp;gt;&amp;gt; Premi Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), sebesar 1,74% (&lt;i&gt;kelompok V&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;&amp;gt;&amp;gt; Iuran Jaminan Hari Tua, sebesar 3,7%&lt;br /&gt;&amp;gt;&amp;gt; Premi Jaminan Kematian (JK) sebesar 0,3% &lt;br /&gt;&amp;gt;&amp;gt; Premi Jaminan Pemeliharaan Kesehataan (JPK) sebesar 6% (&lt;i&gt;sudah berkeluarga&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;Total yang ditanggung pengusaha &lt;b&gt;11,74% dari upah sebulan&lt;/b&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena premi yang dibayar oleh pemberi kerja merupakan penghasilan, maka atas premi ini tentu wajib dipotong PPh Pasal 21 oleh pemberi kerja. Artinya persentasenya akan berkurang sebesar 11,74% dikurangi PPh Pasal 21. Padahal jumlah yang harus diterima oleh PT Jamsostek tidak boleh berkurang dari 11,74%. Bagaimana solusinya? PPh Pasal 21 &lt;b&gt;ditanggung pemberi kerja dengan metode&lt;i&gt; gross-up&lt;/i&gt;.&lt;/b&gt; PPh Pasal 21 yang ditanggung tersebut harusnya termasuk PPh Pasal 21 atas premi Jamsostek yang ditanggung oleh pengusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumus gross-up PPh Pasal 21 banyak diberikan oleh member &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=kontri"&gt;ortax.org&lt;/a&gt; dengan nama laman "&lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=kontri"&gt;kontribusi member&lt;/a&gt;". Silakan dicari :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semoga bermanfaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-7584974342405145951?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/7584974342405145951/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/10/premi-jamsostek.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7584974342405145951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7584974342405145951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/10/premi-jamsostek.html' title='Premi Jamsostek'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-1114725140539131968</id><published>2011-10-10T10:45:00.002+07:00</published><updated>2011-11-29T17:42:55.497+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Objek PPN'/><title type='text'>PPN pemakaian sendiri dan cuma-cuma</title><content type='html'>Pemakaian sendiri Barang Kena Pajak adalah pemakaian untuk kepentingan Pengusaha sendiri, Pengurus, atau diberikan kepada anggota keluarganya atau karyawannya, baik barang produksi sendiri maupun bukan produksi sendiri, &lt;b style="color: red;"&gt;selain pemakaian Barang Kena Pajak untuk tujuan produktif&lt;/b&gt; [Pasal 1 angka 1 KEP-87/PJ/2002].&amp;nbsp; Pemakaian sendiri termasuk penyerahan yang terutang PPN. Artinya jika barang tersebut merupakan Barang Kena Pajak [BKP] maka atas penyerahan yang terutang PPN. Tetapi jika bukan BKP tentu penyerahannya juga menjadi tidak terutang PPN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian cuma-cuma Barang Kena Pajak adalah pemberian yang diberikan tanpa imbalan pembayaran baik barang produksi sendiri maupun bukan produksi sendiri, termasuk pemberian contoh barang untuk promosi kepada relasi atau pembeli [Pasal 1 angka 3 KEP-87/PJ/2002]. Sama seperti pemakaian sendiri, pemberian cuma-cuma juga merupakan penyerahan terutang PPN. Keputusan Dirjen Pajak No. KEP-87/PJ/2002 merupakan penjabaran dari Keputusan Menteri Keuangan No. 567/KMK.04/2000 yang mengatur tentang nilai lain. Walaupun Keputusan Menteri Keuangan No. 567/KMK.04/2000 sudah dicabut dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 75/PMK.03/2010 tentang nilai lain sebagai DPP PPN, tetapi&amp;nbsp; Keputusan Dirjen Pajak No. KEP-87/PJ/2002 belum dicabut. Saya berpendapat, KEP-87/PJ/2002 tetap berlaku karena&amp;nbsp; KMK-567/2000 dan PMK-75/2010 sama-sama mengatur nilai lain sebagai DPP PPN. Jadi substansi yang diatur sama. Sehingga penjabaran dari pemberian cuma-cuma tidak bertentangan dengan aturan diatasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cara berpikir"&amp;nbsp; KEP-87/PJ/2002 nampaknya memisahkan antara BKP untuk tujuan produktif dan BKP untuk tujuan konsumtif. BKP untuk tujuan produktif belum terutang PPN atau tidak termasuk pengertian pemakaian sendiri sebagaimana dimaksud di UU PPN. Hal ini ditegaskan di Pasal 2 KEP-87/PJ/2002, yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Pemakaian Barang Kena Pajak dan ataupemanfaatan Jasa Kena Pajak untuk tujuan produktif &lt;b&gt;belum merupakanpenyerahan&lt;/b&gt; Barang Kena Pajak dan atau Jasa kena Pajak sehingga tidakterutang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Kenapa dianggap belum merupakan penyerahan? &lt;br /&gt;Filosofi yang saya dapat seperti ini: &lt;br /&gt;1. PPN adalah pajak atas konsumsi sehingga penanggung PPN adalah &lt;i&gt;end-user&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;2. &lt;i&gt;Non-end-user&lt;/i&gt; boleh mengkreditkan PPN dengan maksud "menggeser" ke &lt;i&gt;end-user&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPN atas pemberian cuma-cuma dan pemakaian sendiri adalah "koreksi" atas pajak masukan yang pernah di"geser". Awalnya dia berposisi &lt;i&gt;non-end-user&lt;/i&gt;, sehingga pajak masukan boleh dikreditkan. Tetapi kemudian berubah jadi &lt;i&gt;end-user&lt;/i&gt;, sehingga atas pajak masukkan yang pernah dikreditkan harus dibayar lagi dengan dikenakan PPN. Berapa DPP-nya?&amp;nbsp; Sebesar &lt;i&gt;cost&lt;/i&gt; atau harga pokok yang dibebankan. Asumsi yg digunakan adalah jumlah biaya sama dengan pembelian yang pajak masukkanya dikreditkan. Walaupun hasilnya sama, tetapi istilah yang digunakan oleh KEP-87/PJ/2002 bukan &lt;i&gt;cost&lt;/i&gt; tetapi harga jual dikurangi laba kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dulu tidak mengerti kenapa PPN atas jasa boleh dikreditkan. Padahal yang namanya jasa tidak bisa digeser. Berbeda dengan barang yang atas "kepemilikan" barang tersebut bisa berpindah-pindah atau bergeser dari produsen ke konsumen. Harusnya jasa itu melekat kepada yang penerima manfaat, sehingga atas PPN-nya tidak boleh dikreditkan karena perusahaan penerima manfaat sebagai &lt;i&gt;end-user&lt;/i&gt;. Sampai ada salah satu dosen yang menjawab bahwa &lt;i&gt;end-user&lt;/i&gt; itu sektor rumah tangga atau orang pribadi yang membeli barang tidak untuk memproduksi barang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga semua PKP (pengusaha kena pajak) sebenarnya bukan &lt;i&gt;end-user&lt;/i&gt;. Aturan umumnya, PKP boleh mengkreditkan semua pajak masukan. Tetapi bisa juga PKP bertindak sebagai &lt;i&gt;end-user&lt;/i&gt;. Kondisi PKP bertindak sebagai &lt;i&gt;end-use&lt;/i&gt;r menurut definisi pemakaian sendiri dan pemberian cuma adalah:&lt;br /&gt;[a.]  pemakaian untuk kepentingan sendiri, &lt;br /&gt;[b.]  diberikan kepada anggota keluarganya atau karyawannya, atau&lt;br /&gt;[c.] diberikan tanpa imbalan pembayaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga penyerahan tersebut sudah selaras dengan UU PPN karena ketiga penyerahan tersebut berseberangan dengan &lt;b&gt;kegiatan produksi, distribusi, pemasaran, dan manajemen.&lt;/b&gt; Pasal 9 ayat (8) huruf b UU PPN mengatakan bahwa Pengkreditan Pajak Masukan &lt;b style="color: red;"&gt;tidak dapat diberlakukan&lt;/b&gt; bagi pengeluaran untuk perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian penjelasan mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Yang dimaksud dengan pengeluaran yang langsung berhubungan dengan kegiatan usaha adalah pengeluaran untuk &lt;b&gt;kegiatan produksi, distribusi, pemasaran, dan manajemen. &lt;/b&gt;Ketentuan ini berlaku untuk semua bidang usaha. Agar dapat dikreditkan, Pajak Masukan juga harus memenuhi syarat bahwa pengeluaran tersebut &lt;b&gt;berkaitan dengan adanya penyerahan yang terutang Pajak Pertambahan Nilai&lt;/b&gt;. Oleh karena itu, meskipun suatu pengeluaran telah memenuhi syarat adanya hubungan langsung dengan kegiatan usaha, masih dimungkinkan Pajak Masukan tersebut tidak dapat dikreditkan, yaitu apabila pengeluaran dimaksud tidak ada kaitannya dengan penyerahan yang terutang Pajak Pertambahan Nilai. &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Sehingga jelas bahwa bagi pengeluaran (pembelian atau pajak masukan) yang bukan kegiatan produksi, distribusi, pemasaran, dan manajemen tidak dapat dikreditkan. Pemakaian sendiri dan pemberian cuma-cuma tentu tidak ada hubungannya dengan kegiatan produksi, distribusi, pemasaran, dan manajemen sehingga atas pajak masukan yang sudah dikreditkan harus ditagih lagi dengan cara dikenakan PPN. Sedangkan untuk tujuan produktif walaupun masih bisa disebut pemakaian sendiri, karena bertujuan produktif&amp;nbsp; maka boleh dikreditkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salaam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-1114725140539131968?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/1114725140539131968/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/10/ppn-pemakaian-sendiri-dan-cuma-cuma.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/1114725140539131968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/1114725140539131968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/10/ppn-pemakaian-sendiri-dan-cuma-cuma.html' title='PPN pemakaian sendiri dan cuma-cuma'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-6170884236099773555</id><published>2011-10-05T16:27:00.000+07:00</published><updated>2011-10-05T16:31:31.742+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='syariah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Objek PPh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biaya'/><title type='text'>Bidang Usaha Berbasis Syariah</title><content type='html'>Berdasarkan kuasa Pasal 31D UU PPh amandemen 2008, yang mengatur bahwa ketentuan perpajakan dibidang usaha berbasis syariah diatur lebih lanjut oleh peraturan pemerintah, keluar Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2009. Peraturan pemerintah ini mengatur:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a.] PerlakuanPajak Penghasilan dari kegiatan Usaha Berbasis Syariah.&lt;br /&gt;Usaha&amp;nbsp;Berbasis Syariahdilakukanmelalui beberapa pendekatan antara lain: transaksi &lt;b&gt;bagi hasil &lt;/b&gt;dalam bentuk &lt;i&gt;mudharabah&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;musyarakah&lt;/i&gt;; transaksi &lt;b&gt;jual beli&lt;/b&gt; dalam bentuk &lt;i&gt;murabahah, salam,&lt;/i&gt; dan&lt;i&gt;istisna&lt;/i&gt;; transaksi &lt;b&gt;sewa menyewa&lt;/b&gt; dalam bentuk&lt;i&gt; ijarah&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;ijarahmuntahiya bittamlik&lt;/i&gt;; dan transaksi &lt;b&gt;pinjam meminjam&lt;/b&gt; dalam bentuk&lt;i&gt; qardh.&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b.] Biayadari Kegiatan Usaha Berbasis Syariah. &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hak pihak ketiga&lt;/b&gt; atas bagihasil yangdibayarkan merupakan biaya yang&amp;nbsp;dapat dikurangkan. Bagi hasiliniberbeda dengan dividen yang dibagikan,&amp;nbsp;terkait dengan statusdanayang digunakan. Dividen diberikan atas modal&amp;nbsp;yang ditanamkanpadausaha yang menunjukkan kepemilikan usaha. Sedangkan bagi hasil dibayarkan atas dana pihak ketiga yangdigunakan&amp;nbsp;untuk jangka waktu tertentu yang tidak menunjukkankepemilikan usaha.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kerugian yang timbul daritransaksibagi hasil&lt;/b&gt; merupakan biaya yang dapat&amp;nbsp;dikurangkan. Kerugianyangtimbul harus diteliti lebih lanjut, apabila kerugian&amp;nbsp;tersebuttimbul akibat kelalaian atau kesalahan pengelola dana,maka&amp;nbsp;kerugian tersebut merupakan tanggung jawab pengelola dana.Sedangkan apabila setelahditelitidiketahui bahwa kerugian tersebut timbul&amp;nbsp;dan terjadi bukankarenakelalaian atau kesalahan pengelola dana, maka&amp;nbsp;kerugiantersebutdibebankan kepada pemilik modal sesuai dengan akad/perjanjian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[c.] Pemotonganpajak atau pemungutan pajak dari kegiatan Usaha BerbasisSyaria.&lt;br /&gt;Hak pihak ketiga atas bagihasil,bonus, margin, dan hasil berbasis syariah lainnya&amp;nbsp;yang sejenismerupakan penghasilan yang dibayarkan berkenaan denganpenggunaan&amp;nbsp;dana pihak ketiga yang terkait dengan kepemilikanusaha, contoh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol style="list-style-type: lower-alpha;"&gt;&lt;li&gt;deposito &lt;i&gt;mudharabah&lt;/i&gt; menggunakan &lt;i&gt;akad mudharabah&lt;/i&gt;. Terhadappara&amp;nbsp;deposan diberikan bagi hasil atas pemanfaatan dana yangdisimpan pada bank syariah;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;giro pada bank syariah menggunakan &lt;i&gt;akad wadiah&lt;/i&gt; (titipan),karenadana yang&amp;nbsp;disimpan dapat ditarik setiap saat. Terhadappemeganggiro, bank syariah&amp;nbsp;tidak menjanjikan hasil yang diberikan,tetapidapat memberikan bonus yang&amp;nbsp;tidak ditentukan besarnya; dan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;pembiayaan murabahah menggunakan prinsip jual belisehingga&amp;nbsp;memunculkan margin yang merupakan selisih antara danayang diberikan&amp;nbsp;dengan total dana yang harus dikembalikan olehpenerima dana. Karena&amp;nbsp;terkait dengan pembiayaan, bukansemata-matatransaksi jual beli, maka&amp;nbsp;terhadap margin tersebutdiperlakukansebagai penghasilan yang merupakan&amp;nbsp;objek pemotongan PajakPenghasilan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;b&gt;PERBANKAN SYARIAH&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Kemudian dengan &lt;b&gt;Peraturan Menteri Keuangan No. 136/PMK.03/2011&lt;/b&gt; diatur pengenaan PPh untuk kegiatan usaha perbankan syariah. Peraturan menteri keuangan ini mengatur:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Penghasilan Perbankan Syariah&lt;br /&gt;Penghasilan yang merupakan objek pajak penghasilan perbankan syariah adalah semua penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apapun termasuk bonus,bagi hasil, dan margin keuntungan yang diterima atau diperolehPerbankan Syariah dari kegiatan/transaksi Nasabah Penerima Fasilitas. &lt;b&gt;Bonus,bagi hasil, dan margin keuntungan diperlakukan seperti bunga di perbankan konvensional.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b&lt;b&gt;. &lt;/b&gt;Penghasilan yang diterima Nasabah&lt;br /&gt;Penghasilanyang diterima atau diperoleh Nasabah Penyimpan atau NasabahInvestor dari Perbankan Syariah dengan nama dan dalam bentuk apapuntermasuk bonus, bagi hasil, dan penghasilan lainnya &lt;b&gt;diperlakukan seperti penghasilan bunga di perbankan konvensional&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasabah Investor adalah nasabah yang menempatkan dananya dibank syariah dan/atau unit usaha syariah dalam bentuk investasiberdasarkan akad antara bank syariah atau unit usaha syariah dan nasabah yang bersangkutan. Nasabah Penyimpan adalah nasabah yang menempatkan dananyadi bank syariah dan/atau unit usaha syariah dalam bentuk Simpananberdasarkan akad antara bank syariah atau unit usaha syariah dan nasabah yang bersangkutan.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Biaya Perbankan Syariah&lt;br /&gt;Biaya yang diperbolehkan di perbankan syariah berlaku berlaku ketentuan:&lt;br /&gt;&amp;gt;&amp;gt; Berlaku Pasal 6 UU PPh termasukbonus, bagi hasil, dan imbalan lainnya yang dibayarkan atau terutangoleh Perbankan Syariah kepada Nasabah Penyimpan dan Nasabah Investor&lt;b style="color: red;"&gt;kecuali&lt;/b&gt; biaya penyusutan dalam rangka pembiayaan dengan akad &lt;i&gt;IjarahMuntahiyah Bittamlik&lt;/i&gt;;&lt;br /&gt;&amp;gt;&amp;gt; Jumlah yang diperjanjikan dalam akad berdasarkanPrinsip Syariah, dan&lt;br /&gt;&amp;gt;&amp;gt; Berlaku Pasal 9 UU PPh, yaitu biaya yang tidak boleh dikurangkan secara fiskal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Pengalihan harta atau sewa harta&lt;br /&gt;&amp;gt;&amp;gt; Transaksi pengalihan harta dari pihak ketiga yang dilakukansemata-mata untuk memenuhi Prinsip Syariah &lt;b style="color: red;"&gt;tidak termasuk&lt;/b&gt; dalampengertian pengalihan harta sebagaimana dimaksud dalam Undang-UndangPajak Penghasilan.&lt;br /&gt;&amp;gt;&amp;gt; Dalam hal terjadi pengalihan harta maka pengalihan harta tersebut dianggap pengalihan hartalangsung dari pihak ketiga kepada Nasabah Penerima Fasilitas. Nasabah Penerima Fasilitas adalah nasabah yang memperolehfasilitas dana atau yang dipersamakan dengan itu, berdasarkan prinsipsyariah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PEMBIAYAAN SYARIAH&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Kemudian dengan &lt;b&gt;Peraturan Menteri Keuangan No. 137/PMK.03/2011&lt;/b&gt; diatur pengenaan PPh untuk kegiatan usaha pembiayaan syariah. Peraturan menteri keuangan ini mengatur:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Ruang Lingkup Pembiayaan Syariah&lt;br /&gt;Ketentuanusaha pembiayaan yang dilakukan oleh Perusahaan meliputi:&lt;br /&gt;[1.] Sewa Guna Usaha, yang dilakukan berdasarkan &lt;i&gt;Ijarah&lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;Ijarah Muntahiyah Bittamlik&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ijarah&lt;/i&gt; adalah akad penyaluran dana untuk pemindahan hakguna (manfaat) atas suatu barang dalam waktu tertentu dengan pembayaransewa (&lt;i&gt;ujrah&lt;/i&gt;), antara Perusahaan sebagai pemberi sewa(&lt;i&gt;mu’ajjir&lt;/i&gt;) dengan penyewa (&lt;i&gt;musta’jir&lt;/i&gt;) tanpa diikutipengalihan kepemilikan barang itu sendiri.&lt;i&gt; Ijarah&lt;/i&gt; setara dengan sewa guna usaha tanpa hak opsi (&lt;i&gt;operating lease&lt;/i&gt;), karena itu aturan perpajakan terkait &lt;i&gt;ijarah&lt;/i&gt; diperlakukan sama dengan kegiatansewa guna usaha tanpa hak opsi (&lt;i&gt;operating lease&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ijarah Muntahiyah Bittamlik&lt;/i&gt; adalah akad penyaluran danauntuk pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang dalam waktutertentu dengan pembayaran sewa (&lt;i&gt;ujrah&lt;/i&gt;), antara Perusahaan sebagaipemberi sewa (&lt;i&gt;mu’ajjir&lt;/i&gt;) dengan penyewa (&lt;i&gt;musta’jir&lt;/i&gt;)disertai opsi pemindahan hak milik atas barang yang disewa kepadapenyewa setelah selesia masa sewa. &lt;i&gt;Ijarah Muntahiyah Bittamlik&lt;/i&gt; setara dengan sewa guna usaha dengan hak opsi (&lt;i&gt;financial lease&lt;/i&gt;), karena itu aturan perpajakan terkait &lt;i&gt;Ijarah Muntahiyah Bittamlik &lt;/i&gt;diperlakukan sama dengan kegiatansewa guna usaha dengan hak opsi (&lt;i&gt;financial lease&lt;/i&gt;).   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2.] Anjak Piutang, yang dilakukan berdasarkan akad&lt;i&gt;Wakalah bil Ujrah&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Wakalah bil Ujrah&lt;/i&gt; adalah pelimpahan kuasa oleh satu pihak(&lt;i&gt;al muwakkil&lt;/i&gt;) kepada pihak lain (&lt;i&gt;al wakil&lt;/i&gt;) dalam hal-hal yang bolehdiwakilkan dengan pemberian keuntungan (&lt;i&gt;ujrah&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3.] Pembiayaan Konsumen, yang dilakukan berdasarkan&lt;i&gt;Murabahah&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Salam&lt;/i&gt;, atau &lt;i&gt;Istishna&lt;/i&gt;’. &lt;i&gt;Murabahah &lt;/i&gt;adalah akad pembiayaan untuk pengadaan suatubarang dengan menegaskan harga belinya (harga perolehan) kepada pembelidan pembeli membayarnya secara angsuran dengan harga lebih sebagai laba. &lt;i&gt;Salam&lt;/i&gt; adalah akad pembiayaan untuk pengadaan suatu barangdengan cara pemesanan dan pembayaran harga lebih dahulu dengansyarat-syarat tertentu yang disepakati para pihak. &lt;i&gt;Istishna’&lt;/i&gt; adalah akad pembiayaan untuk pemesananpembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yangdisepakati antara pemesan (pembeli, &lt;i&gt;mustahni&lt;/i&gt;’) dan penjual(pembuat, &lt;i&gt;shani&lt;/i&gt;’) dengan harga yang disepakati bersama olehpara pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4.] Usaha Kartu Kredit yang dilakukan sesuai denganPrinsip Syariah.&lt;br /&gt;[5.] Kegiatan pembiayaan lainnya yang dilakukan sesuaidengan Prinsip Syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Perlakuan Perpajakan Pembiayaan Syariah&lt;br /&gt;** &lt;i&gt;Ijarah ---&amp;gt; &lt;/i&gt;PPh atas&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;i&gt;operating lease&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;** &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Ijarah Muntahiyah Bittamlik&lt;/i&gt; --&amp;gt; PPh atas &lt;i&gt;financial lease&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;** &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Wakalah bil Ujrah --&amp;gt; &lt;/i&gt;PPh atas bunga&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;** &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Murabahah&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Salam&lt;/i&gt;, atau &lt;i&gt;Istishna&lt;/i&gt;’ --&amp;gt; PPh atas bunga&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;** Kartu Kredit Syariah --&amp;gt; PPh atas fee atau imbalan&lt;br /&gt;** Usaha Pembiayaan Syariah Lainnya --&amp;gt; PPh atas fee atau imbalan&lt;br /&gt;** &lt;i&gt;Mudharabah&amp;nbsp;&lt;/i&gt; --&amp;gt; PPh atas bunga&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;** &lt;i&gt;Mudharabah Musytarakah &lt;/i&gt;--&amp;gt; PPh atas bunga&lt;br /&gt;&amp;nbsp;** &lt;i&gt;Musyarakah&lt;/i&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;--&amp;gt; PPh atas bunga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Mudharabah&lt;/i&gt; adalah kegiatan pendanaan yang dilakukan melaluiakad kerja sama antara Perusahaan dan pihak lain yang bertindak sebagaipenyandang dana (&lt;i&gt;shahibul maal&lt;/i&gt;), dimana penyandang dana (&lt;i&gt;shahibul maal&lt;/i&gt;)membiayai 100% (seratus persen) modal kegiatan pembiayaan untuk proyekyang tidak ditentukan oleh Perusahaan (&lt;i&gt;Mudharabah Mutlaqah&lt;/i&gt;) atau untukproyek yang ditentukan Perusahaan (&lt;i&gt;Mudharabah Muqayyadah&lt;/i&gt;), dankeuntungan usaha dibagi sesuai dengan kesepakatan yang dituangkan dalamakad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Mudharabah Musytarakah&lt;/i&gt; adalah kegiatan pendanaan yangdilakukan melalui akad kerja sama antara Perusahaan dan pihak lain yangbertindak sebagai penyandang dana (&lt;i&gt;shahibul maal&lt;/i&gt;), dimana penyandang dana (&lt;i&gt;shahibul maal&lt;/i&gt;) dan Perusahaan selaku pengelola dana (&lt;i&gt;mudharib&lt;/i&gt;)turut menyertakan modalnya dalam kerja sama investasi dan keuntunganusaha dibagi sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam akad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Musyarakah&lt;/i&gt; adalah kegiatan pendanaan yang dilakukan melaluiakad kerja sama antara Perusahaan dan pihak lain untuk suaha tertentu,dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan ketentuanbahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengankesepakatan yang dituangkan dalam akad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Biaya Pembiayaan Syariah&lt;br /&gt;Perusahaan dapat membebankan biaya sesuai:&lt;br /&gt;[1.] Ketentuan yang diatur dalam Pasal 6 dan Pasal 9Undang-Undang Pajak Penghasilan, termasuk keuntungan dan/atau &lt;b&gt;bagihasil &lt;/b&gt;yang dibayarkan atau terutang oleh Perusahaan kepada penyandangdana (&lt;i&gt;shohibul maal&lt;/i&gt;); dan &lt;br /&gt;[2.] Jumlah yang diperjanjikan dalam akad berdasarkan PrinsipSyariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Pengalihan Harta atau Sewa Harta terkait Pembiayaan Syariah&lt;br /&gt;[1.] Transaksi pengalihan harta dari pihak ketiga yang dilakukansemata-mata untuk memenuhi Prinsip Syariah dalam rangka kegiatanpembiayaan oleh Perusahaan &lt;b style="color: red;"&gt;tidak termasuk&lt;/b&gt; dalam pengertian pengalihanharta sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan.&lt;br /&gt;[2.] Dalam hal terjadi pengalihan harta, maka pengalihan harta tersebut &lt;b&gt;dianggap pengalihan hartalangsung dari pihak ketiga kepada Nasabah Perusahaan&lt;/b&gt;, yang dikenaiPajak Penghasilan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidangperpajakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-6170884236099773555?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/6170884236099773555/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/10/bidang-usaha-berbasis-syariah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/6170884236099773555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/6170884236099773555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/10/bidang-usaha-berbasis-syariah.html' title='Bidang Usaha Berbasis Syariah'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-2934042646441372265</id><published>2011-10-03T12:00:00.001+07:00</published><updated>2011-10-03T15:54:17.204+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Faktur Pajak'/><title type='text'>Dokumen tertentu sebagai Faktur Pajak</title><content type='html'>Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak atau penyerahan Jasa Kena Pajak [Pasal 1 angka 23 UU PPN]. Berbeda dengan faktur atau invoice yang merupakan tagihan kepada pihak pembeli barang atau pemakai jasa, maka faktur pajak [ada tambahan kata "pajak"] merupakan istilah khusus di Pajak Pertambahan Nilai [PPN].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai definisi yang diberikan UU PPN, faktur pajak merupakan bukti pungutan PPN. Sehingga akan lebih pas jika kita membaca faktur pajak dari sisi penjual sebagai pemungut PPN. Dan memang PPN dipungut oleh penjual. Pembeli adalah pihak yang dipungut.Faktur pajak harus dibuat paling lambat pada akhir bulan penyerahan [Pasal 13 (2a) UU PPN]. Ini adalah ketentuan khusus jika Pengusaha Kena Pajak tidak membuat faktur pajak setiap transaksi, tetapi membuat satu faktur pajak untuk setiap bulan [Pasal 13 (2) UU PPN].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, faktur pajak harus dibuat:&lt;br /&gt;[1]. saat penyerahan&lt;br /&gt;[2.] saat penerimaan pembayaran jika pembayaran mendahului penyerahan&lt;br /&gt;[3.] saat penerimaan pembayaran termin&lt;br /&gt;[4.] saat lain yang diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak berlakunya UU PPN amandemen 2009, pengusaha tidak perlu membuat faktur pajak terpisah dari invoice atau faktur komersial lainnya. Bahkan tidak perlu diberijudul "faktur pajak". Nama dokumen tersebut boleh apa saja, yang penting memuat (sekurang-kurangnya) informasi:&lt;br /&gt;[1.] nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak &lt;b&gt;yang menyerahkan&lt;/b&gt; Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2.] nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak &lt;b&gt;pembeli&lt;/b&gt; Barang Kena Pajak atau &lt;b&gt;penerima&lt;/b&gt; Jasa Kena Pajak;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3.] jenis barang atau jasa, jumlah Harga Jual atau Penggantian, dan potongan harga;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4.] Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5.] Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dipungut;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6.] kode, nomor seri, dan tanggal pembuatan Faktur Pajak; dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7.] nama dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh syarat yang harus ada diatas diatur di Pasal 13 (5) UU PPN. Jika &lt;b&gt;tidak ada &lt;/b&gt;salah satu dari ketujuh informasi diatas maka faktur pajak tersebut tidak dapat dikreditkan oleh pembeli BKP atau penerima JKP. Pajak masukannya tidak dapat dikreditkan oleh pembeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikecualikan dari ketentuan Pasal 13 (5) UU PPN,  ada dokumen tertentu yang dipersamakan dengan faktur pajak. Dokumen tertentu ini ditetapkan dengan Peraturan Dirjen Pajak berdasarkan kewenangan yang diberikan Pasal 13 (6) UU PPN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-sama dokumen tertentu yang berlaku &lt;b&gt;sejak 19 Sepetember 2011&lt;/b&gt; adalah:&lt;br /&gt;[a.] Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) yang telah diberikan persetujuan ekspor oleh pejabat yang berwenang dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan dilampiri dengan invoice yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan PEB tersebut;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b.] Surat Perintah Penyerahan Barang (SPPB) yang dibuat/dikeluarkan oleh BULOG/DOLOG untuk penyaluran tepung terigu;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[c.] Paktur Nota Bon Penyerahan (PNBP) yang dibuatkan/dikeluarkan oleh PERTAMINA untuk penyerahan Bahan Bakar Minyak dan/atau bukan Bahan Bakar Minyak;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[d.] Bukti tagihan atas penyerahan jasa telekomunikasi oleh perusahaan telekomunikasi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[e.] Tiket, tagihan Surat Muatan Udara (Airway Bill), atau Delivery Bill, yang dibuat/dikeluarkan untuk penyerahan jasa angkutan udara dalam negeri;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[f.] Nota Penjualan Jasa yang dibuat/dikeluarkan untuk penyerahan jasa kepelabuhanan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[g.] Bukti tagihan atas penyerahan listrik oleh perusahaan listrik;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[h.] Pemberitahuan Ekspor Jasa Kena Pajak/Barang Kena Pajak Tidak Berwujud yang dilampiri dengan invoice yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Pemberitahuan Ekspor Jasa Kena Pajak/Barang Kena Pajak Tidak Berwujud, untuk ekspor Jasa Kena Pajak/Barang Kena Pajak Tidak Terwujud;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;[i.] Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang mencantumkan identitas pemilik barang berupa nama, alamat dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan dilampiri dengan Surat Setoran Pajak, Surat Setoran Pabean, Cukai dan Pajak (SSPCP), dan/atau bukti pungutan pajak oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, yang mencantumkan identitas pemilik barang berupa nama, alamat dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan PIB tersebut, untuk impor Barang Kena Pajak;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[j.] Surat Setoran Pajak untuk pembayaran Pajak Pertambahan Nilai atas pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak terwujud atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[k.] Bukti tagihan atas penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak oleh Perusahaan Air Minum:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[l.] Bukti tagihan (Trading Confirmation) atas penyerahan Jasa Kena Pajak oleh perantara efek; dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[m.] Bukti tagihan atas penyerahan Jasa Kena Pajak oleh perbankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar dokumen tertentu diatas berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. 27/PJ/2011 yang merubah Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. 10/PJ/2010.  Sebenarnya Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. 27/PJ/2011 hanya merubah redaksi huruf i yang diatas saya &lt;b&gt;tebalkan&lt;/b&gt;. Penambahan huruf  k, l, dan m sudah ada di Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. 67/PJ/2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sekarang ditegaskan bahwa PIB harus :&lt;br /&gt;a. mencantumkan identitas  pemilik barang berupa nama, alamat dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), dan&lt;br /&gt;b. dilampiri dengan Surat Setoran Pajak, Surat Setoran Pabean, Cukai dan Pajak (SSPCP)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salaam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-2934042646441372265?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/2934042646441372265/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/10/dokumen-tertentu-sebagai-faktur-pajak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/2934042646441372265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/2934042646441372265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/10/dokumen-tertentu-sebagai-faktur-pajak.html' title='Dokumen tertentu sebagai Faktur Pajak'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-32129956340506155</id><published>2011-09-21T00:53:00.000+07:00</published><updated>2011-11-29T22:17:28.808+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pajak Masukan'/><title type='text'>PM atas Kebun Kelapa Sawit</title><content type='html'>CPO merupakan komoditas unggulan ekspor nasional dan penghasil devisa terbesar di luar migas. Sebagai gambaran,&amp;nbsp;&lt;a href="http://duniaindustri.com/agroindustri/316-ekspor-cpo-indonesia-tembus-us-20-miliar-di-2011.html"&gt;ekspor CPO&lt;/a&gt; dari Indonesia untuk tahun 2011 sekitar 180 trilyun rupiah.&amp;nbsp;Menurut&amp;nbsp;&lt;a href="http://agribisnis.deptan.go.id/disp_informasi/1/5/54/1188/perkembangan_ekspor_kelapa_sawit.html"&gt;Kementrian Pertanian&lt;/a&gt;, pertumbuhan permintaan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bursa_komoditi"&gt;CPO&lt;/a&gt; dunia selama lima tahun sekitar 9,92%.&amp;nbsp;Artinya, tahun depan, bisa jadi ekspor CPO dari Indonesia mencapai 200 trilyun rupiah. Dan akan terus tumbuh sebagai komoditas unggulan nasional.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tidak heran jika ada perhatian lebih besar pemerintah. Termasuk dari &lt;a href="http://pajak.go.id/"&gt;DJP&lt;/a&gt; sebagai regulator dan administrator perpajakan. Salah satu perhatiannya adalah Surat Edaran No. &lt;a href="http://ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=14856"&gt;SE-90/PJ/2011&lt;/a&gt; yang secara khusus menafsirkan pengkreditkan pajak masukan perusahaan kelapa sawit. Tentu saja surat edaran ini hanya berlaku untuk perusahaan kelapa sawit.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebenarnya yang paling berkepentingan dengan keseragaman penafsiran adalah Wajib Pajak. Karena peraturan yang ada tidak jelas, sangat mungkin setiap pemeriksa yang akan menghitung pajak terutang menafsirkan berbeda. Padahal kondisinya sama. Salah satunya pendapat tentang pajak masukan untuk kebun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kelapa_sawit"&gt;kelapa sawit&lt;/a&gt; yang terintegrasi dengan pabrik (CPO). Ada yang bilang boleh dan sebagian lagi tidak boleh.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pendapat&lt;b&gt; pertama&lt;/b&gt;: pajak masukan atas kebun kelapa sawit BOLEH dikreditkan. Saya termasuk yang berpendapat bahwa atas pajak masukan atas kebun kelapat sawit boleh dikreditkan asal kebun dan pabrik terintegrasi. Pengertian terintegrasi mengacu kepada "ban berjalan" di pabrik, yaitu produk satu bagian akan menjadi bahan baku produk lain. Produk kebun kelapa sawit akan menjadi bahan baku pabrik kelapa sawit.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Contoh yang dulu sering diajarkan para widyaiswara adalah industri tekstil. Bisa jadi satu pabrik hanya menghasilkan benang. Pabrik lain menghasilkan kain gray setengah jadi. Pabrik lain menghasilan kain baik dengan pesanan maupun tidak. Pabrik lain justru memotong-motong kain untuk dijadikan pakaian jadi. Jika pabrik tersebut dimiliki oleh Wajib Pajak terpisah maka "perpindahan" produk dari pabrik ke pabrik merupakan penyerahan atau penjualan. Tetapi jika mulai pabrik benang sampai pabrik pakaian jadi milik satu Wajib Pajak, maka "perpindahan" produk dari pabrik ke pabrik lainnya bukan penyerahan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pengertian yang sama kemudian "diterapkan" untuk memahami Peraturan Menteri Keuangan No. &lt;a href="http://ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=14207"&gt;78/PMK.03/2010&lt;/a&gt; bahwa perpindahan TBS ke pabrik bukan penyerahan kecuali jika pemilik TBS berbeda dengan pemilik pabrik. Tentu saja karena berbeda Wajib Pajak, apapun yang diserahkan menjadi penjualan. &amp;nbsp; Sehingga untuk yang terintegrasi, maka penyerahannya adalah CPO. Dan CPO adalah BKP yang atas penyerahannya terutang PPN.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kenapa harus dari kacamata penyerahan? Surat Edaran No. &lt;a href="http://ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;id_topik=&amp;amp;id_jenis=&amp;amp;p_tgl=tahun&amp;amp;tahun=2010&amp;amp;nomor=95&amp;amp;q=&amp;amp;q_do=macth&amp;amp;cols=isi&amp;amp;hlm=1&amp;amp;page=show&amp;amp;id=14398"&gt;SE-95/PJ/2010&lt;/a&gt; tentang BKP strategis yang diekspor, memberikan penegasan bahwa yang dibebaskan itu penyerahan. Bukan produk BKP-nya. Produk BKP strategis memang diatur di Peraturan Pemerintah No.&lt;a href="http://ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=62"&gt; 12 tahun 2001&lt;/a&gt; dan perubahannya. Berikut saya kutip bunyi angka 3 di SE-93/PJ/2010:&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 11px; line-height: 17px;"&gt;Fasilitas perpajakan berupa Pajak Pertambahan Nilai terutang tidak dipungut atau dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud pada angka 1 huruf f dan angka 2, terbatas untuk penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu atau Jasa Kena Pajak Tertentu, impor Barang Kena Pajak Tertentu, pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud Tertentu dan Jasa Kena Pajak Tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean, dan &lt;b&gt;tidak mencakup&lt;/b&gt; &lt;b&gt;ekspor&lt;/b&gt; Barang Kena Pajak Berwujud, ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau ekspor Jasa Kena Pajak&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div&gt;Saya berpendapat, jika "berkacamata" SE-95/PJ/2010 maka kita bicara penyerahan. Membaca pasal 2 dan pasal 3 Peraturan Pemerintah No. &lt;a href="http://ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=12712"&gt;31 tahun 2007&lt;/a&gt; juga cukup jelas "atas impor" dan atas "penyerahan". Jadi impor dan penyerahan merupakan syarat pembebasan. Bukan barangnya. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pendapat &lt;b&gt;kedua&lt;/b&gt;,&amp;nbsp;pajak masukan atas kebun kelapa sawit &lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;TIDAK BOLEH&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; dikreditkan. Inilah &lt;b&gt;pendapat&lt;/b&gt; &lt;b&gt;resmi DJP&lt;/b&gt; yang dituangkan dalam Surat Edaran No. &lt;a href="http://ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=14856"&gt;SE-90/PJ/2011&lt;/a&gt;! Dasar pemikirannya adalah&amp;nbsp;&lt;i&gt;equal treatment&lt;/i&gt; yaitu perlakuan yang sama terhadap semua Wajib Pajak atau terhadap kasus-kasus dalam bidang perpajakan yang pada hakekatnya sama. Pajak masukan atas kebun kelapa sawit yang dimiliki para petani tidak boleh dikreditkan. Kenapa? Karena penyerahan TBS dibebaskan. Perlakuan yang sama harus diterapkan kepada kebun kelapa sawit milik Wajib Pajak yang memiliki pabrik. Petani orang pribadi dan perseroan terbatas yang sama-sama memiliki kebun kelapa sawit harus mendapat perlakuan yang sama. Perusahaan yang memiliki kebun dan pabrik pengolahan CPO dengan perusahaan yang hanya memiliki kebun harus mendapat perlakuan yang sama.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;SE-90/PJ/2011 tidak bicara penyerahan! Apapun pajak masukannya, jika pajak masukan tersebut diperuntukkan BKP strategis yang dibebaskan, maka tidak boleh dikreditkan. Tidak relevan apakah ada penyerahan atau tidak. Dengan demikian pajak masukan dari pupuk, peralatan perkebunan, dan semua pajak masukan yang digunakan oleh kebun kelapa sawit tidak boleh dikreditkan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sampai dengan tulisan ini selesai dibuat, saya masih berpendapat bahwa cara pandang SE-95/PJ/2010 dan SE-90/PJ/2011 berbeda dan bertolak belakang. Semoga kedepan saya akan mendapat pencerahan lagi :-)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;salaam&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-32129956340506155?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/32129956340506155/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/09/pm-atas-kebun-kelapa-sawit.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/32129956340506155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/32129956340506155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/09/pm-atas-kebun-kelapa-sawit.html' title='PM atas Kebun Kelapa Sawit'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-2003154444187244453</id><published>2011-09-15T08:10:00.000+07:00</published><updated>2011-09-15T08:10:21.277+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DJP'/><title type='text'>Ayo Sukseskan SPN</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-c8Izd1k5JI4/TnFQS6pA5eI/AAAAAAAAAPk/Mb7Y3wz1EOA/s1600/ayosukseskanSPN.jpg" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="400" width="306" src="http://3.bp.blogspot.com/-c8Izd1k5JI4/TnFQS6pA5eI/AAAAAAAAAPk/Mb7Y3wz1EOA/s400/ayosukseskanSPN.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-2003154444187244453?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/2003154444187244453/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/09/ayo-sukseskan-spn.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/2003154444187244453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/2003154444187244453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/09/ayo-sukseskan-spn.html' title='Ayo Sukseskan SPN'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-c8Izd1k5JI4/TnFQS6pA5eI/AAAAAAAAAPk/Mb7Y3wz1EOA/s72-c/ayosukseskanSPN.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-4011697936032471774</id><published>2011-09-08T11:10:00.000+07:00</published><updated>2011-09-08T11:27:58.558+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jasa konstruksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 23'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 4 (2)'/><title type='text'>Jasa Konstruksi vs Jasa Pemeliharaan Bangunan</title><content type='html'>Banyak yang bingung membedakan "jasa konstruksi" dengan "jasa pemeliharaan bangunan". Kedua harus dibedakan karena memang perlakuan perpajakan yang beda. Yang pertama, jasa konstruksi dikenakan tarif final. Dilihat dari sisi penerima jasa alias pemberi penghasilan maka dia pada saat membayar tagihan maka si pemberi penghasilan wajib potong PPh. Hanya saja, apakah si pemberi penghasilan memotong PPh Final atas jasa konstruksi atau PPh Pasal 23 atas jasa pemeliharaan bangunan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah mem-tweet lewat twitter, kalo dilihat dari sisi pemberi penghasilan atau pemotong sangat sederhana. Tanya saja ke penerima penghasilan, apakah dia di SPT PPh Tahunannya melaporkan PPh Final atau bukan. Jika si penerima penghasilan melaporkan PPh dengan tarif umum, bukan tarif final jasa konstruksi, maka si pemberi penghasilan tinggal memotong PPh Pasal 23. Begitu juga sebaliknya. Bisa terjadi ketidaksinkronan antara Bukti Potong dengan dengan SPT Tahunan jika si pemberi penghasilan tidak tanya dulu. Kalau tidak sinkron, bisa jadi Bukti Potong tersebut tidak bisa dikreditkan jika petugas KPP tegas pada bukti formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pemberi penghasilan berpegang pada bukti formal, yaitu sertifikat sebagai pengusaha jasa konstruksi yang dikeluarkan oleh &lt;a href="http://www.lpjk.org/"&gt;LPJK&lt;/a&gt;, maka hanya pemilik sertifikat saja yang dikenakan tarif final penghasilan jasa konstruksi. Kalau tidak punya sertifikat sebagai pengusaha jasa konstruksi maka dianggap sebagai jasa pemeliharaan bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang di PMK-244/2008 disebutkan bahwa jasa pemeliharan bangunan ".. selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang lingkupnya dibidang konstruksi dan mempunyai izin atau sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi". Artinya jika si penerima penghasilan &lt;b&gt;memiliki sertifikat sebagai pengusaha konstruksi&lt;/b&gt; maka PMK-244/2008 tidak digunakan, dan wajib baginya menghitung PPh secara Final dan dipotong oleh pemberi penghasilan sebagai PPh Pasal 4 (2) Final. Untuk hal ini saya pikir sudah jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja di &lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/2008/08/tarif-baru-jasa-konstruksi.html"&gt;Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2008&lt;/a&gt; ada tarif untuk pengusaha jasa konstruksi yang tidak punya sertifikat. Lebih jelasnya saya kutip lagi postingan bulan &lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/2008/08/tarif-baru-jasa-konstruksi.html"&gt;Agustus 2008&lt;/a&gt; :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Tarif PPh Final usaha jasa kontruksi sejak Januari 2008 sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a.]  2% (dua persen) untuk  Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang memiliki kualifikasi usaha kecil;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b.]  4% (empat  persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[c.]  3% (tiga persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa selain Penyedia Jasa sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[d.]  4% (empat  persen) untuk Perencanaan Konstruksi atau Pengawasan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang memiiiki kualifikasi usaha; dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[e.]  6% (enam persen) untuk Perencanaan Konstruksi atau Pengawasan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;"Tidak memiliki kulifikasi" berarti si pemberi jasa atau si pengusaha tidak memiliki sertifikat yang dikeluarkan oleh &lt;a href="http://www.lpjk.org/"&gt;LPJK&lt;/a&gt; dan asosiasi-nya. Karena tidak memiliki sertifikat maka bukan jasa konstruksi dong? Terus bagaimana membedakan dengan jasa pemeliharaan bangunan sebagaimana diatur di PMK-244/2008?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membedakannya, saya mengacu ke definisi pekerjaan konstruksi yang diatur di Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2008:&lt;blockquote&gt;Pekerjaan konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan dan/atau pelaksanaan beserta pengawasan yang mencakup pekerjaan arsitektural, sipil, mekanikal, elektrikal, dan tata lingkungan masing-masing beserta kelengkapannya &lt;b&gt;untuk mewujudkan suatu bangunan&lt;/b&gt; atau bentuk fisik lain.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Saya sengaja menebalkan kata "untuk mewujudkan suatu bangunan". Bangunan tersebut benar-benar baru. Artinya pekerjaan tersebut bukan merenovasi, atau memperbaiki yang sudah ada tapi membuat bangunan yang baru. Inilah jasa konstruksi bagi pengusaha yang tidak memiliki kualifikasi dari &lt;a href="http://www.lpjk.org/"&gt;LPJK&lt;/a&gt;. Sesuai dengan namanya, jasa "pemeliharaan" bangunan tentu bukan pekerjaan membuat bangunan baru. Tetapi hanya membercantik, seperti : mengecat ulang, memperbaiki yang retak atau sudah lapuk, menambah "casing" supaya terlihat lebih modern, merenovasi, atau bisa juga menambah yang sudah ada tetapi menyatu dengan bangunan lama. Inilah pekerjaa jasa pemeliharaan bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semoga bermanfaat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-4011697936032471774?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/4011697936032471774/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/09/jasa-konstruksi-vs-jasa-pemeliharaan.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/4011697936032471774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/4011697936032471774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/09/jasa-konstruksi-vs-jasa-pemeliharaan.html' title='Jasa Konstruksi vs Jasa Pemeliharaan Bangunan'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-2302344147094571179</id><published>2011-09-07T10:06:00.000+07:00</published><updated>2011-09-07T10:06:58.759+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fasilitas Pajak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Objek PPh'/><title type='text'>fasilitas pembebasan pajak</title><content type='html'>Ini tentu berita baik bagi para pebisnis besar. Bagi kalangan UMKM (usaha menengah, kecil, dan mikro) tidak termasuk. Menteri Keuangan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan No.  130/PMK.011/2011 tentang Pemberian Fasilitas Pembebasan atau Pengurangan PPh Badan. Ah, siapa pula yang menolak bebas bayar pajak? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermula dari Pasal 18 ayat (5) Undang-Undang Penanaman Modal dan Pasal 29 Peraturan Pemerintah No. 94 Tahun 2010 tentang Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam Tahun Berjalan. Saya kutip dulu Pasal 29 PP 94/2010:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;(1) Kepada Wajib Pajak yang melakukan penanaman modal baru yang merupakan industri pionir, yang tidak mendapatkan fasilitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31A Undang-Undang Pajak Penghasilan dapat diberikan fasilitas pembebasan atau pengurangan Pajak Penghasilan badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (5) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.&lt;br /&gt;(2) Industri pionir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah industri yang memiliki keterkaitan yang luas, memberi nilai tambah dan eksternalitas yang tinggi, memperkenalkan teknologi baru, serta memiliki nilai strategis bagi perekonomian nasional.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Menteri Keuangan memberikan pembebasan PPh Badan untuk jangka waktu paling lama sepuluh tahun dan paling singkat lima tahun, terhitung sejak Tahun Pajak  dimulainya produksi komersial. Tidak hanya itu, setelah fasilitas pembebasan PPh Badan berlalu, si industri pionir juga bisa memanfaatkan fasilitas pengurangan PPh Badan sebesar 50% selama dua tahun. Artinya, 10 tahun pertama bebas PPh Badan dan 2 tahun kemudian dapat diskon 50% PPh Badan. Wah ....... fasilitas ini seharusnya lebih menarik daripada fasilitas &lt;i&gt;tax holiday&lt;/i&gt; yang sering diberikan cuma 10 tahun saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa Wajib Pajak yang mendapatkan fasilitas pembebasan PPh Badan dan diskon PPh Badan? Peraturan Menteri Keuangan No. 130/PMK.011/2011 menyebutkan:&lt;br /&gt;[1]. merupakan Industri Pionir;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. mempunyai rencana penanaman modal baru yang telah mendapatkan pengesahan dari instansi yang berwenang paling sedikit sebesar Rp1.000.000.000.000,00 (satu triliun rupiah); &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. menempatkan dana di perbankan di Indonesia paling sedikit 10% (sepuluh persen) dari total rencana penanaman modal dan tidak boleh ditarik sebelum saat dimulainya pelaksanaan realisasi penanaman modal; &lt;b&gt;dan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]. harus berstatus sebagai badan hukum Indonesia yang pengesahannya ditetapkan paling lama 12 (dua belas) bulan sebelum Peraturan Menteri Keuangan No. 130/PMK.011/2011  mulai berlaku atau pengesahannya ditetapkan sejak atau setelah berlakunya PMK ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ditambah syarat:&lt;br /&gt;[5]. telah merealisasikan seluruh penanaman modalnya dan&lt;br /&gt;]6]. telah berproduksi secara komersial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang dimaksud industri pionir?&lt;br /&gt;[a]. Industri logam dasar;&lt;br /&gt;[b]. Industri pengilangan minyak bumi dan/atau kimia dasar organik yang bersumber dari minyak bumi dan gas alam;&lt;br /&gt;[c]. Industri permesinan;&lt;br /&gt;[d]. Industri di bidang sumberdaya terbarukan; dan/atau&lt;br /&gt;[e]. Industri peralatan komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para industri pionir yang meminta fasilitas pembebasan PPh Badan ini harus mengajukan permohonan dulu ke Kementrian Perindustrian atau  Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal. Kementrian Perindustrian atau Kepala BKPM kemudian menyampaikan ke Menteri Keuangan dengan melampirkan fotokopi:&lt;br /&gt;[1]. kartu Nomor Pokok Wajib Pajak;&lt;br /&gt;[2]. surat persetujuan penanaman modal baru yang diterbitkan dilengkapi dengan rinciannya; dan&lt;br /&gt;[3]. bukti penempatan dana di perbankan di Indonesia &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ditambah uraian penelitian mengenai:&lt;br /&gt;[4]. ketersediaan infrastruktur di lokasi investasi;&lt;br /&gt;[5]. penyerapan tenaga kerja domestik;&lt;br /&gt;[6]. kajian mengenai pemenuhan kriteria sebagai Industri pionir;&lt;br /&gt;[7]. rencana tahapan alih teknologi yang jelas dan konkret; dan&lt;br /&gt;[8]. adanya ketentuan mengenai tax sparing di negara domisili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tax sparing&lt;/i&gt; adalah pengakuan pemberian fasilitas pembebasan dan pengurangan dari Indonesia dalam penghitungan Pajak Penghasilan di negara domisili sebesar fasilitas yang diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri Keuangan kemudian menugaskan Komite Ferivikasi untuk melakukan penelitian dan verifikasi dengan mempertimbangkan dampak strategis bagi perekonomian Indonesia. Jika hasilnya positif, maka Menteri Keuangan kemudian akan menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan (KMK) mengenai pemberian fasilitas pembebasan atau pengurangan Pajak Penghasilan badan. Berdasarkan KMK ini, maka para mitra bisnis industri pionir tidak boleh melakukan pemotongan PPh Pasal 23 atau withholding taxes lainnya dengan syarat penghasilan tersebut terkait langsung KMK yang diterbitkan Menteri Keuangan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-2302344147094571179?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/2302344147094571179/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/09/fasilitas-pembebasan-pajak.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/2302344147094571179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/2302344147094571179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/09/fasilitas-pembebasan-pajak.html' title='fasilitas pembebasan pajak'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-6243667384224368653</id><published>2011-08-08T09:07:00.000+07:00</published><updated>2011-08-08T09:07:23.388+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Faktur Pajak'/><title type='text'>Kapan Buat Faktur Pajak?</title><content type='html'>Berikut catatan yang diringkas dari SE-50/PJ/2011 terkait dengan saat pembuatan faktur pajak. Secara umum pembuatan faktur pajak adalah saat penyerahan atau saat pembayaran, mana yang lebih dulu. Tetapi SE-50/PJ/2011 lebih detil menyebutkannya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengusaha Kena Pajak &lt;b&gt;wajib membuat Faktur Pajak &lt;/b&gt;untuk setiap penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak pada saat:&lt;br /&gt;[a.] penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak; atau&lt;br /&gt;[b.] penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak.&lt;br /&gt;[c.] pada saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan, sehubungan dengan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang diselesaikan dalam suatu masa tertentu, misalnya penyerahan jasa pemborong bangunan; atau&lt;br /&gt;[d.] pada saat Pengusaha Kena Pajak Rekanan Pemerintah menyampaikan tagihan, sehubungan dengan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak kepada Pemungut PPN Bendahara Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal satu faktur penjualan diterbitkan untuk mencatat atau mengakui beberapa kali pengiriman barang yang sesuai dengan dokumen pengiriman barang (&lt;i&gt;delivery order&lt;/i&gt;), atas penyerahan barang tersebut dapat diterbitkan satu Faktur Pajak, baik dalam bentuk Faktur Pajak atau faktur penjualan (dalam hal faktur penjualan berfungsi sebagai Faktur Pajak). Penerbitan faktur penjualan tersebut adalah sebagai dasar pengakuan piutang atau pencatatan penghasilan bagi Pengusaha Kena Pajak Penjual dan harus dilakukan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum dan dilakukan secara konsisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selaras dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum dan kelaziman dalam praktek bisnis dengan memperhatikan substansi penjelasan dalam Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai maka saat penyerahan Barang Kena Pajak dan saat penyerahan Jasa Kena Pajak dapat dijabarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;Saat penyerahan &lt;b&gt;Barang Kena Pajak&lt;/b&gt; berlaku ketentuan sebagai berikut:&lt;br /&gt;[a.] untuk penyerahan Barang Kena Pajak berwujud yang menurut sifat atau hukumnya berupa barang bergerak, terjadi pada saat:&lt;br /&gt;[a.1.] Barang Kena Pajak berwujud tersebut diserahkan secara langsung kepada pembeli atau pihak ketiga untuk dan atas nama pembeli;&lt;br /&gt;[a.2.] Barang Kena Pajak berwujud tersebut diserahkan secara langsung kepada penerima barang, untuk pemberian cuma-cuma, pemakaian sendiri, dan penyerahan dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan/atau penyerahan antarcabang;&lt;br /&gt;[a.3.] Barang Kena Pajak berwujud tersebut diserahkan kepada juru kirim atau pengusaha jasa angkutan; atau &lt;br /&gt;[a.4]. harga atas penyerahan Barang Kena Pajak diakui sebagai piutang atau penghasilan, atau pada saat diterbitkan faktur penjualan oleh Pengusaha Kena Pajak, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum dan diterapkan secara konsisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b.] untuk penyerahan Barang Kena Pajak berwujud yang menurut sifat atau hukumnya berupa barang tidak bergerak, terjadi pada saat penyerahan hak untuk menggunakan atau menguasai Barang Kena Pajak berwujud tersebut, secara hukum atau secara nyata, kepada pihak pembeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[c.] untuk penyerahan Barang Kena Pajak tidak berwujud, terjadi pada saat:&lt;br /&gt;[c.1.] harga atas penyerahan Barang Kena Pajak tidak berwujud diakui sebagai piutang atau penghasilan atau pada saat diterbitkan faktur penjualan oleh Pengusaha Kena Pajak, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum dan diterapkan secara konsisten; atau&lt;br /&gt;[c.2.] kontrak atau perjanjian ditandatangani atau saat mulai tersedianya fasilitas atau kemudahan untuk dipakai secara nyata, sebagian atau seluruhnya, dalam hal saat tidak diketahui saat pengakuan piutang atau penghasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat penyerahan &lt;b&gt;Jasa Kena Pajak&lt;/b&gt; terjadi pada saat:&lt;br /&gt;[a.] harga atas penyerahan Jasa Kena Pajak diakui sebagai piutang atau penghasilan atau pada saat diterbitkan faktur penjualan oleh Pengusaha Kena Pajak sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum dan diterapkan secara konsisten;&lt;br /&gt;[b.] kontrak atau perjanjian ditandatangani, dalam hal saat tidak diketahui saat pengakuan piutang atau penghasilan; atau&lt;br /&gt;[c.] saat mulai tersedianya fasilitas atau kemudahan untuk dipakai secara nyata, baik sebagian atau seluruhnya, dalam hal pemberian cuma-cuma atau pemakaian sendiri Jasa Kena Pajak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-6243667384224368653?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/6243667384224368653/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/08/kapan-buat-faktur-pajak.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/6243667384224368653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/6243667384224368653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/08/kapan-buat-faktur-pajak.html' title='Kapan Buat Faktur Pajak?'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-5504401549675272256</id><published>2011-08-01T09:02:00.001+07:00</published><updated>2011-08-01T09:09:18.988+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 22'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Objek PPN'/><title type='text'>PPN dan PPh Film Impor</title><content type='html'>Menteri Keuangan telah mengubah Nilai Lain yang menjadi Dasar Pengenaan Pajak (DPP) PPN dari semula  perkiraan hasil rata-rata per judul film menjadi Rp.12.000.000,00 (dua belas juta rupiah) saja. Semula Nilai Lain DPP PPN (semua) diatur di Peraturan Menteri Keuangan No. 75/PMK.03/2010 yang mengatur bahwa Nilai Lain DPP PPN  adalah :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;a.untuk pemakaian sendiri Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak adalah Harga Jual atau Penggantian setelah dikurangi laba kotor;&lt;br /&gt;b.untuk pemberian cuma-cuma Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak adalah Harga Jual atau Penggantian setelah dikurangi laba kotor;&lt;br /&gt;c. untuk penyerahan media rekaman suara atau gambar adalah perkiraan harga jual rata-rata;&lt;br /&gt;d. &lt;b&gt;untuk penyerahan film cerita adalah perkiraan hasil rata-rata per judul film&lt;/b&gt;;&lt;br /&gt;e. untuk penyerahan produk hasil tembakau adalah sebesar harga jual eceran;&lt;br /&gt;f. untuk Barang Kena Pajak berupa persediaan dan/atau aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan, adalah harga pasar wajar;&lt;br /&gt;g. untuk penyerahan Barang Kena Pajak dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan/atau penyerahan Barang Kena Pajak antar cabang adalah harga pokok penjualan atau harga perolehan;&lt;br /&gt;h. untuk penyerahan Barang Kena Pajak melalui pedagang perantara adalah harga yang disepakati antara pedagang perantara dengan pembeli;&lt;br /&gt;i. untuk penyerahan Barang Kena Pajak melalui juru lelang adalah harga lelang;&lt;br /&gt;j. untuk penyerahan jasa pengiriman paket adalah 10% (sepuluh persen) dari jumlah yang ditagih atau jumlah yang seharusnya ditagih; atau&lt;br /&gt;k. untuk penyerahan jasa biro perjalanan atau jasa biro pariwisata adalah 10% (sepuluh persen) dari jumlah tagihan atau jumlah yang seharusnya ditagih.&lt;/blockquote&gt;Berbeda dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 75/PMK.03/2010 yang mengatur "semua penyerahan film cerita" baik film impor maupun film lokal, Peraturan Menteri Keuangan No. 102/PMK.011/2011 hanya mengatur film impor saja. Baik Nilai Lain DPP PPN saat impor maupun penyerahan ke bioskop. Menurut saya,  ada tiga aturan baru berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan ini :&lt;br /&gt;a. DPP PPN atas impor media Film Cerita Impor;&lt;br /&gt;b. DPP PPN atas penyerahan copy Film Cerita Impor kepada Pengusaha Bioskop;&lt;br /&gt;c. DPP PPh Pasal 22 atas impor media Film Cerita Impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DPP PPN ditetapkan hanya Rp.12.000.000,00 (dua belas juta rupiah) saja. Baik atas impor media Film Cerita Impor maupun atas penyerahan copy Film Cerita Impor kepada Pengusaha Bioskop. Sedangkan DPP PPh Pasal 22 atas impor Film Cerita Impor sebesar &lt;i&gt;Cost Insurance and Freight&lt;/i&gt; (CIF) ditambah dengan Bea Masuk dan pungutan lainnya yang dikenakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan kepabeanan di bidang impor. Saya menduga, DPP PPN atas Film Cerita Impor sekarang lebih murah daripada sebelumnya. Apakah akan lebih murah daripada film lokal? Bisa y bisa tidak karena film lokal masih menggunakan DPP lama yaitu hasil rata-rata per judul. Jika "hasinya" lebih besar berarti bisa lebih mahal. Sedangkan jika hasilnya lebih kecil maka bisa lebih kecil. Sedangkan DPP PPN Fil Cerita Impor menjadi flat alias tetap baik film yang laku maupun tidak laku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada perbedaan kode nomenklatur antara Peraturan Menteri Keuangan No. 75/&lt;b&gt;PMK.03&lt;/b&gt;/2010 dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 102/&lt;b&gt;PMK.011&lt;/b&gt;/2011. Sebelumnya menggunakan kode 03 yang berarti konsep Peraturan Menteri Keuangan berasal dari DJP, sedangka yang terbaru menggunakan kode 011 yang berarti konsep Peraturan Menteri Keuangan berasal dari BKF. Konon kabarnya, nantinya aturan terkait tarif dan objek pajak akan dibuat oleh BKF. Sedangkan DJP hanya mengatur masalah prosedur saja karena DJP sebenarnya lembaga administrasi perpajakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salaam hormat: AGUS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-5504401549675272256?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/5504401549675272256/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/08/ppn-dan-pph-film-impor.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/5504401549675272256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/5504401549675272256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/08/ppn-dan-pph-film-impor.html' title='PPN dan PPh Film Impor'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-7711902396784715692</id><published>2011-07-25T12:02:00.000+07:00</published><updated>2011-07-25T12:02:23.661+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Objek PPh'/><title type='text'>Surplus Bank Indonesia</title><content type='html'>Sebelum lahir &lt;a href="http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/C7402D01-A030-454A-BC75-9858774DF852/13447/uu_bi_no0304.pdf"&gt;Undang-undang No. 3 Tahun 2004&lt;/a&gt;, banyak perdebatan tentang surplus Bank Indonesia sebagai objek atau bukan. Waktu saya kuliah di &lt;a href="http://admsci.ui.ac.id/pasca.html"&gt;UI&lt;/a&gt; diskusinya dari sisi : apakah Bank Indonesia sebagai bagian dari pemerintah atau bukan? Namanya diskusi, maka ada yang bilang subjek pajak dan surplus sebagai objek Pajak Penghasilan dan ada juga yang sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan diterbitkanya &lt;a href="http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/C7402D01-A030-454A-BC75-9858774DF852/13447/uu_bi_no0304.pdf"&gt;Undang-undang No. 3 Tahun 2004&lt;/a&gt; maka posisi Bank Indonesia dan surplus Bank Indonesia menjadi jelas. Hal ini karena di Pasal II angka 4 disebutkan :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Sepanjang belum ada peraturan perundang-undangan yang mengatur bahwa surplus Bank Indonesia dikenakan pajak penghasilan, maka berdasarkan Undang-undang ini surplus Bank Indonesia tidak dikenakan pajak penghasilan.&lt;/blockquote&gt;Artinya, aturan ini mengatakan bahwa surplus Bank Indonesia bukan objek PPh &lt;b&gt;KECUALI&lt;/b&gt; ada undang-undang yang mengatakan bahwa surplus Bank Indonesia merupakan objek PPh. Tentu saja satu-satunya undang-undang yang menyatakan sesuatu objek Pajak Penghasilan atau bukan adalah Undang-undang Pajak Penghasilan 1984 dan perubahannya. Karena itu, di perubahan (amandemen) &lt;a href="http://www.pajak.go.id/dmdocuments/UU-36-2008.pdf"&gt;UU PPh tahun 2008&lt;/a&gt;,  &lt;b&gt;dibunyikan&lt;/b&gt; bahwa surplus Bank Indonesia sebagai objek PPh, Pasal 4 ayat (1) huruf s UU PPh 1984. Dengan demikian, sejak tahun pajak 2009 surplus Bank Indonesia kemudian menjadi objek PPh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Peraturan Pemerintah No. &lt;a href="http://www.sjdih.depkeu.go.id/fullText/2010/94TAHUN2010PP.htm"&gt;94 Tahun 2010&lt;/a&gt; mengatur :&lt;blockquote&gt;Surplus Bank Indonesia yang merupakan objek Pajak Penghasilan adalah surplus Bank Indonesia menurut laporan keuangan audit setelah dilakukan penyesuaian atau koreksi fiskal sesuai dengan Undang-Undang Pajak Penghasilan dengan memperhatikan karakteristik Bank Indonesia.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Terakhir dengan &lt;a href="http://www.sjdih.depkeu.go.id/fullText/2011/100~PMK.03~2011Per.HTM"&gt;Peraturan Menteri Keuangan No. 100 tahun 2011&lt;/a&gt; diatur lebih detil lagi. Berikut catatan saya dari &lt;a href="http://www.sjdih.depkeu.go.id/fullText/2011/100~PMK.03~2011Per.HTM"&gt;Peraturan Menteri Keuangan No. 100 tahun 2011&lt;/a&gt; :&lt;br /&gt;[1.] Surplus Bank Indonesia yang merupakan objek Pajak Penghasilan adalah surplus Bank Indonesia menurut laporan keuangan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan setelah dilakukan penyesuaian atau koreksi fiskal sesuai dengan Undang-Undang PPh dengan memperhatikan karakteristik Bank Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2.] Penyesuaian atau koreksi fiskal sesuai dengan Undang-Undang PPh dengan memperhatikan karakteristik Bank Indonesia :&lt;br /&gt;[2.a.] pengakuan keuntungan atau kerugian selisih kurs mata uang asing; &lt;br /&gt;[2.b.] penyisihan aktiva; dan&lt;br /&gt;[2.c.] penyusutan aktiva tetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan atau kerugian selisih kurs mata uang asing diakui berdasarkan sistem pembukuan yang dianut dan dilakukan secara taat asas sesuai dengan Pedoman Akuntansi Keuangan Bank Indonesia. Keuntungan atau kerugian selisih kurs mata uang asing yang diakui sebagai penghasilan atau yang dibebankan sebagai biaya dalam menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak adalah keuntungan atau kerugian selisih kurs mata uang asing yang telah direalisasi, yang diperoleh dari selisih antara kurs jual mata uang asing pada tanggal transaksi dengan harga perolehan rata-rata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyisihan aktiva dapat dibebankan sebagai biaya dalam menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak. Penyisihan aktiva hanya dilakukan terhadap piutang tak tertagih berdasarkan sistem pembukuan yang dianut dan dilakukan secara taat asas sebagaimana diatur dalam Pedoman Akuntansi Keuangan Bank Indonesia. Kerugian yang berasal dari piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dibebankan pada perkiraan cadangan piutang tak tertagih. Dalam hal jumlah cadangan piutang tak tertagih seluruhnya atau sebagian tidak dipakai untuk menutup kerugian, jumlah kelebihan cadangan tersebut diperhitungkan sebagai penghasilan. Dalam hal jumlah cadangan piutang tak tertagih dipakai untuk menutup kerugian namun tidak mencukupi, jumlah kekurangan cadangan tersebut diperhitungkan sebagai kerugian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusutan aktiva tetap atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun, dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang PPh beserta peraturan pelaksanaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyesuaian atau koreksi fiskal yang terkait dengan surplus Bank Indonesia yang tidak diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan ini, mengikuti peraturan perundang-undangan di bidang Pajak Penghasilan yang berlaku secara umum.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-7711902396784715692?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/7711902396784715692/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/07/surplus-bank-indonesia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7711902396784715692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7711902396784715692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/07/surplus-bank-indonesia.html' title='Surplus Bank Indonesia'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-3544447555411359747</id><published>2011-07-21T06:22:00.002+07:00</published><updated>2011-07-21T06:26:22.028+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 4 (2)'/><title type='text'>Jasa Konstruksi di Luar Negeri</title><content type='html'>Berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor &lt;a href="http://pajak.go.id/dmdocuments/PP-51-2008.pdf"&gt;51 tahun 2008&lt;/a&gt; bahwa tarif PPh Final usaha jasa kontruksi sejak Januari 2008 sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a.]  2% (dua persen) untuk  Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang memiliki kualifikasi usaha kecil;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b.]  4% (empat  persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[c.]  3% (tiga persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa selain Penyedia Jasa sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[d.]  4% (empat  persen) untuk Perencanaan Konstruksi atau Pengawasan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang memiiiki kualifikasi usaha; dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[e.]  6% (enam persen) untuk Perencanaan Konstruksi atau Pengawasan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengenaan PPh atas jasa konstruksi bersifat final dan dipotong oleh pihak yang membayarkan penghasilan (pemilik bangunan) pada saat membayarkan kemudian membuat Bukti Potong dan wajib dilaporkan di SPT Masa. Perusahaan konstruksi sebagai pihak yang menerima penghasilan akan mendapatkan Bukti Potong. Dokumen Bukti Potong setara dengan Surat Setoran Pajak (SSP). Dan pada akhir tahun, perusahaan jasa konstruksi tinggal melaporkan SPT Tahunan PPh Badan dengan melampirkan bukti potong yang telah diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimana jika proyek konstruksi berada di Luar Negeri dan pemberi penghasilan juga Wajib Pajak Luar Negeri? Contohnya ada proyek pembuatan gedung di Dubai. Pemilik gedung tentunya pengusaha Uni Emirat Arab. Bukan Wajib Pajak Dalam Negeri. Bagaimana kewajiban perpajakan perusahaan konstruksi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Edaran No. &lt;a href="http://pajak.go.id/dmdocuments/SE-05-2008.pdf"&gt;SE-05/PJ.03/2008&lt;/a&gt; memberikan petunjuk sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pajak Penghasilan yang bersifat final atas jasa konstruksi diatas:&lt;br /&gt;a. dipotong oleh Pengguna Jasa pada saat pembayaran,dalam hal Pengguna Jasa merupakan pemotong pajak; atau&lt;br /&gt;b. &lt;b&gt;disetor sendiri oleh Penyedia Jasa, dalam hal pengguna jasa bukan merupakan pemotong pajak&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarnya Pajak Penghasilan yang dipotong atau disetor sendiri diatas adalah:&lt;br /&gt;a. jumlah pembayaran, tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai, dikalikan tarif Pajak Penghasilan ; atau&lt;br /&gt;b. &lt;b&gt;jumlah penerimaan pembayaran&lt;/b&gt;, tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai, dikalikan tarif Pajak Penghasilan dalam hal Pajak Penghasilan disetor sendiri oleh Penyedia Jasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pemberi penghasilan merupakan Wajib Pajak Luar Negeri tentu dalam menentukan nilai proyek yang tertera di kontrak belum menghitung PPN. Sehingga dasar pengenaan pajak (DPP) PPN sejumlah yang diterima. Jumlah PPh yang terutang tinggal meng-kali-kan tarif diatas dengan pembayaran yang diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan perusahaan konstruksi wajib bayar PPh? Pada saat terima pembayaran penghasilan! PPh atas jasa konstruksi menjadi &lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/2008/09/cash-basis-di-pph-konstruksi.html"&gt;cash basis&lt;/a&gt; seperti yang pernah saya &lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/2008/09/cash-basis-di-pph-konstruksi.html"&gt;tulis&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salaam hormat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-3544447555411359747?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/3544447555411359747/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/07/jasa-konstruksi-di-luar-negeri.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/3544447555411359747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/3544447555411359747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/07/jasa-konstruksi-di-luar-negeri.html' title='Jasa Konstruksi di Luar Negeri'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-26113087687141065</id><published>2011-06-20T23:23:00.001+07:00</published><updated>2011-06-20T23:24:12.263+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='konsultasi'/><title type='text'>PPh Pasal 25</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;1. Perusahaan ini mau melaporkan PPh Pasal 25, bagaimana pelaporannya, saya sudah menghubungi AR, beliau mengatakan dibutuhkan surat pernyataan perihal perusahaan belum melakukan transaksi/operasional keuangan di tahun 2010, jika surat pernyataan ini diperlukan, ditujukan kepada siapa yah pak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Lalu form2 apa saja yang dibutuhkan untuk melaporkan PPh Pasal 25 ini? apakah laporan keuangan Nov-Des 2010 perlu juga dilampirkan? Apakah dibutuhkan SPT Masa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Untuk tahun 2011, bagaimana pelaporan PPh Pasal 25nya pak? Setiap bulan PPh pasal 25 harus dibayar yah? bagaimana pembayaran dan pelaporannya pak?&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Pernyataan merupakan "pernyataan"  tertulis seseorang tentang sesuatu atau tentang fakta tertentu. Fungsi surat pernyataan lebih kepada &lt;b&gt;penguatan&lt;/b&gt; atau pengukuhan fakta atau &lt;b&gt;keadaan&lt;/b&gt; yang dinyatakan di surat pernyataan. Biasanya, surat pernyataan tidak ditujukan kepada orang tertentu atau kepada alamat tertentu. Berbeda dengan surat permohonan, misalnya. Karena itu, surat pernyataan bisa digunakan untuk keperluan apa saya yang memerlukan "pernyataan" tersebut. Untuk lebih menguatkan pernyataan, biasanya surat pernyataan dibubuhi materai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan Wajib Pajak yang belum memiliki penghasilan dan melaporkan SPT PPh Tahunan "Nihil", biasanya pihak fiskus meminta Surat Pernyataan. Yaitu sebuah pernyataan dari Wajib Pajak yang menyatakan bahwa Wajib Pajak yang bersangkutan belum memiliki penghasilan. Surat Pertanyaan ini akan menjadi lampiran SPT Tahunan. Surat Pertanyaan ini juga akan menjadi pelengkap laporan keuangan yang juga dilaporkan "Nihil". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPT Masa PPh Pasal 25? Saya cek ke &lt;a href="http://www.pajak.go.id/index.php?option=com_docman&amp;task=cat_view&amp;gid=226&amp;Itemid=152"&gt;www.pajak.go.id&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=download"&gt;www.ortax.org&lt;/a&gt; untuk mencari formulir SPT Masa PPh Pasal 25. Ternyata tidak ada. Berarti yang dilaporkan ke KPP hanyalah Surat Setoran Pajak (SSP) Pasal 25 "Nihil". Silakan cek postingan terkait pelaporan &lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/2008/05/pph-pasal-25.html"&gt;PPh Pasal 25&lt;/a&gt; sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Peraturan Dirjen Pajak No. PER-22/PJ/2008 bahwa pembayaran PPh Pasal 25 melalui modul penerimaan negara (MPN) dan SSP PPh Pasal 25 telah mendapat validasi NTPN  dari &lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/2010/04/bank-persepsi.html"&gt;bank persepsi&lt;/a&gt;, maka Wajib Pajak dianggap telah lapor PPh Pasal 25. Untuk lebih lengkapnya, berikut saya kutip Pasal 4 PER-22/PJ/2008 :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Wajib Pajak yang melakukan pembayaran PPh Pasal 25 pada tempat pembayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan SSP nya telah mendapat validasi dengan NTPN, maka Surat Pemberitahuan Masa PPh Pasal 25 dianggap telah disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak sesuai dengan tanggal validasi yang tercantum pada SSP.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertanyaan nomor 3, silakan baca di postingan &lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/2008/05/pph-pasal-25.html"&gt;terdahulu&lt;/a&gt; :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semoga berkenan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-26113087687141065?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/26113087687141065/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/06/pph-pasal-25.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/26113087687141065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/26113087687141065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/06/pph-pasal-25.html' title='PPh Pasal 25'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-7316015072600886464</id><published>2011-06-16T22:24:00.003+07:00</published><updated>2011-06-16T22:31:40.112+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='konsultasi'/><title type='text'>faktur pajak tanpa identitas pembeli</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;siang pak .. saya mau nanya gimana kalo misalnya ada pembeli yg tdk minta di buatkan FP krn NPWP tdk ada ....&lt;br /&gt;tpi Dari sisi penjual ingin membuat FP sederhana dan ppnx dijadikan pajak keluaran ,.. bgimana pak ??&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Tanpa kita sadari, jika kita belanja di supermarket atau toko waralaba seperti Indomart, kita sebagai pembeli sebenarnya selalu diberi faktur pajak. Kita sebagai pembeli dikasih struk yg berfungsi faktur pajak keluaran bagi Indomaret. Apakah pembeli memerlukan struk itu dan mengarsipkan di rumah? Kebanyakan kita justru membuang struk tersebut saat keluar toko persisnya ke tempat sampah di samping pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak Indomaret wajib melaporkan semua omsetnya dan wajib pula membuat faktur pajak. Struk berfungsi sebagai faktur pajak. Hanya saja karena tida ada identitas dan NPWP pembeli maka faktur pajak tersebut tidak bisa dikreditkan oleh pembeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pasal 3 ayat (1) Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. PER-13/PJ/2010, bahwa bentuk dan ukuran formulir Faktur Pajak disesuaikan dengan kepentingan Pengusaha Kena Pajak. DJP tidak mengatur lagi format atau bentuk faktur pajak. Karena itu, bisa saja "judul" dalam dokumen tersebut bukan faktur pajak seperti "faktur pajak standar" sebelumnya. Bisa jadi judulnya invoice atau faktur atau istilah lain. SE-56/PJ/2010 menegaskan bahwa invoice dipersamakan dengan faktur pajak jika memenuhi syarat Pasal 13 ayat (5) UU PPN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 13 ayat (5) UU PPN mengatur bahwa keterangan yang wajib dicantumkan dalam faktur pajak adalah :&lt;br /&gt;[1.] nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak &lt;b&gt;yang menyerahkan&lt;/b&gt; Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak;&lt;br /&gt;[2.] nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak &lt;b&gt;pembeli&lt;/b&gt; Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak;&lt;br /&gt;[3.] jenis barang atau jasa, jumlah Harga Jual atau Penggantian, dan potongan harga;&lt;br /&gt;[4.] Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut;&lt;br /&gt;[5.] Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dipungut;&lt;br /&gt;[6.] kode, nomor seri, dan tanggal pembuatan Faktur Pajak; dan&lt;br /&gt;[7.] nama dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan Pasal 13 ayat (5) UU PPN bagian akhirnya berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Faktur Pajak yang tidak diisi sesuai dengan ketentuan dalam ayat ini mengakibatkan Pajak Pertambahan Nilai yang tercantum di dalamnya tidak dapat dikreditkan sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 9 ayat (8) huruf f.&lt;/blockquote&gt;Artinya boleh saja kita membuat faktur pajak tidak mencantumkan identitas pembeli. Hanya saja faktur pajak yang tidak mencantumkan identitas pembeli tidak dapat dikreditkan oleh pembeli. Dan DJP juga tidak akan memberikan sanksi STP sebagaimana diatur di Pasal 14 ayat (1) huruf e UU KUP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aturan Pasal 14 ayat (1) huruf e UU KUP kira-kira seperti ini :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Tagihan Pajak apabila:&lt;br /&gt;pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak yang tidak mengisi faktur pajak secara lengkap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya, &lt;b&gt;selain&lt;/b&gt;: identitas pembeli sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) huruf b Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya; &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Kata "selain" sengaja ditebalkan. Seolah-olah DJP akan memaafkan kesalahan WP dengan &lt;b&gt;tidak menerbitkan STP&lt;/b&gt;  jika kesalahannya karena faktur pajak yang dibuat tanpa identitas pembeli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga menjadi lebih jelas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-7316015072600886464?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/7316015072600886464/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/06/faktur-pajak-sederhana.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7316015072600886464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7316015072600886464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/06/faktur-pajak-sederhana.html' title='faktur pajak tanpa identitas pembeli'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-7853837383192270404</id><published>2011-06-16T21:30:00.001+07:00</published><updated>2011-06-16T21:33:58.151+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='konsultasi'/><title type='text'>ekspor</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;pak saya ingin bertanya tentang export , bgaimana cara memasukan data peb ke espt ppn karena saya bingung ,untuk nilai dpp nya ?&lt;br /&gt;di form peb nya ada data :&lt;br /&gt;freight : 400 us &lt;br /&gt;fob  : 150 us &lt;br /&gt;dari dua data tersebut yg mana kah yg di jadikan sebagai DPP yg di masukan ke dalam e - spt &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Ada kebiasaan yang lazim digunakan oleh para pebisnis di Indoneisa terkait dengan syarat ekspor dan impor. Jika pebisnis melakukan ekspor maka syarat penjualan lazimnya adalah FOB. Sebaliknya jika melakukan impor barang, maka syarat impor lazimnya adalah CIF. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FOB alias Free On Board artinya eksportir (penjual) menyerahkan barang diatas kapal "clean on board". Pembeli di luar negeri kemudian membayar freight dan menanggung asuransi. Keuntungan bagi penjual antara lain :&lt;br /&gt;[1.] pelabuhan pemuatan di negerinya sendiri dan penjual telah mengenal kondisi, peraturan perpajakan dan kepabeanan;&lt;br /&gt;[2.] menghindari fluktuasi freight rate dan valuta asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CIF alias cost insurance &amp; freight artinya penjual menanggung biaya freight sampai tempat tujuan yang ditunjuk pembeli (pembeli di Indonesia) ditambah asuransi. Penjual mengapalkan barang dalam keadaan "clean for export". Menguntungkan penjual jika eksportir besar bisa dapat memilih "term" yang lebih baik cari "carrier". Dapat menguntungkan pembeli karena menghindari fluktuasi rate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokumen-dokumen terkait ekspor biasanya :&lt;br /&gt;[1.] kontrak penjualan (sales contract)&lt;br /&gt;[2.] faktur (commercial invoice)&lt;br /&gt;[3.] letter of credit (L/C)&lt;br /&gt;[4.] Pemberitahuan ekspor barang (PEB)&lt;br /&gt;[5.] Bill of lading (B/L)&lt;br /&gt;[6.] Polis asuransi&lt;br /&gt;[7.] Packing list&lt;br /&gt;[8.] Certificate of origin (COO)&lt;br /&gt;[9.] Surat pernyataan mutu (Quality Statement)&lt;br /&gt;[10.] Wesel ekspor (bill of exchange)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan dokumen-dokumen tersebut, nilai ekspor mana yang dilaporkan di SPT PPN? Nilai ekspor yang sebenarnya adalah nilai yang tertera di invoice. Biasanya disinilah harga ekspor yang ditagihkan ke pembeli di Luar Negeri. Karena itu, nilai ekspor yang dilaporkan di SPT PPN adalah nilai yang tertera di invoice.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada kelaziman pebisnis di Indonesia. Kenapa pebisnis di Indonesia menghindari bayar freight? Kalau jual barang yang bayar freight pembeli di luar negeri (FOB). Sebaliknya, jika membeli barang yang bayar freight juga tetep penjual di luar negeri (CIF). Terima beres "ditempat". Alasanya yang sebenarnya tentu pebisnis tersebut yang tahu. Tetapi kabar kabur  yang  "terdengar" adalah menghindari pembayaran PPh Pasal 26.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salaam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-7853837383192270404?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/7853837383192270404/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/06/ekspor.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7853837383192270404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7853837383192270404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/06/ekspor.html' title='ekspor'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-5686540779162978992</id><published>2011-06-15T08:49:00.001+07:00</published><updated>2011-06-15T08:51:42.590+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 22'/><title type='text'>Pengecualian PPh Pasal 22 Impor</title><content type='html'>Berdasarkan kuasa Pasal 22 UU PPh 1984, Menteri Keuangan melalui 154/PMK.03/2010 telah menetapkan Pemungut PPh Pasal 22 yang terdiri dari :&lt;br /&gt;a. Bank Devisa dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, atas impor barang;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. bendahara pemerintah dan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) sebagai pemungut pajak pada Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Instansi atau lembaga Pemerintah dan lembaga-lembaga negara lainnya berkenaan dengan pembayaran atas pembelian barang;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. bendahara pengeluaran untuk pembayaran yang dilakukan dengan mekanisme uang persediaan (UP);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) atau pejabat penerbit Surat Perintah Membayar yang diberi delegasi oleh KPA, untuk pembayaran kepada pihak ketiga yang dilakukan dengan mekanisme pembayaran langsung (LS);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.Badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri semen, industri kertas, industri baja, dan industri otomotif, yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak, atas penjualan hasil produksinya di dalam negeri;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f.Produsen atau importir bahan bakar minyak, gas, dan pelumas atas penjualan bahan bakar minyak, gas, dan pelumas;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g.Industri dan eksportir yang bergerak dalam sektor kehutanan, perkebunan, pertanian, dan perikanan yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak atas pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri atau ekspor mereka dari pedagang pengumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kemudian, tidak semua impor barang dikenakan PPh Pasal 22. Ada beberapa impor yang dapat dibebaskan dengan Surat Keterangan Bebas (SKB). Untuk memperoleh SKB PPh Pasal 22 Impor ini, Wajib Pajak harus mengajukan permohonan dulu ke KPP terdaftar. Tanpa SKB ini, pihak DJBC tetap akan melakukan pemungutan PPh Pasal 22 atas Impor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata cara untuk mendapatkan SKB PPh Pasal 22 Impor diatur di Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. PER-15/PJ/2011. Selain mengatur tata cara, PER-15/PJ/2011 juga menentukan impor apa saja yang dapat diberikan SKP PPh Pasal 22 Impor. Berikut ini daftar impor barang yang dapat dibebaskan dari PPh Pasal 22 Impor :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. barang perwakilan negara asing beserta para pejabatnya yang bertugas di lndonesia berdasarkan asas timbal balik;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. barang untuk keperluan badan internasional beserta pejabatnya yang bertugas di lndonesia dan tidak memegang paspor lndonesia yang diakui dan terdaftar dalam peraturan menteri keuangan yang mengatur tentang tata cara pemberian pembebasan bea masuk dan cukai atas impor barang untuk keperluan badan internasional beserta para pejabatnya yang bertugas di Indonesia;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. barang kiriman hadiah untuk keperluan ibadah umum, amal, sosial, kebudayaan atau untuk kepentingan penanggulangan bencana;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. barang untuk keperluan museum, kebun binatang, konservasi alam dan tempat lain semacam itu yang terbuka untuk umum;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. barang untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. barang untuk keperluan khusus kaum tunanetra dan penyandang cacat lainnya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. peti atau kemasan lain yang berisi jenazah atau abu jenazah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. barang pindahan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. barang pribadi penumpang, awak sarana pengangkut, pelintas batas, dan barang kiriman sampai batas jumlah tertentu sesuai dengan ketentuan perundang-undangan kepabeanan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. barang yang diimpor oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah yang ditujukan untuk kepentingan umum;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. persenjataan, amunisi, dan perlengkapan militer, termasuk suku cadang yang diperuntukkan bagi keperluan pertahanan dan keamanan negara;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. barang dan bahan yang dipergunakan untuk menghasilkan barang bagi keperluan pertahanan dan keamanan negara;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. vaksin Polio dalam rangka pelaksanaan program Pekan lmunisasi Nasional (PIN);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. kapal laut, kapal angkutan sungai, kapal angkutan danau, kapal angkutan penyeberangan, kapal pandu, kapal tunda, kapal penangkap ikan, kapal tongkang, dan suku cadang serta alat keselamatan pelayaran atau alat keselamatan manusia yang diimpor dan digunakan oleh Perusahaan Pelayaran Niaga Nasional atau perusahaan penangkapan ikan nasional;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. pesawat udara dan suku cadang serta alat keselamatan penerbangan atau alat keselamatan manusia, peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan yang diimpor dan digunakan oleh Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. kereta api dan suku cadang serta peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan serta prasarana yang diimpor dan digunakan oleh PT Kereta Api Indonesia;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. peralatan yang digunakan untuk penyediaan data batas dan foto udara wilayah Negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia; dan/atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. barang untuk kegiatan hulu Minyak dan Gas Bumi yang importasinya dilakukan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nomor 1 sampai dengan 19 diatas adalah impor yang dibebaskan dari pungutan bea masuk dan atau  Pajak Pertambahan Nilai (PPN).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. impor sementara, jika pada waktu impornya nyata-nyata dimaksudkan untuk diekspor kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. impor emas batangan yang akan diproses untuk menghasilkan barang perhiasan dari emas untuk tujuan ekspor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih jelasnya tentang tata cara mendapatkan SKP PPh Pasal 22, silakan &lt;a href="http://www.pajak.go.id/dmdocuments/PER-15-2011.pdf"&gt;PER-15/PJ/2011&lt;/a&gt; [&lt;i&gt;pada saat ditulis, saya justru tidak bisa buka dokumen dari pajak.go.id ini. Mudah-mudahan segera diperbaiki. Saya mendapatkan PER-15/PJ/2011 dari portal intranet&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salaam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-5686540779162978992?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/5686540779162978992/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/06/pengecualian-pph-pasal-22-impor.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/5686540779162978992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/5686540779162978992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/06/pengecualian-pph-pasal-22-impor.html' title='Pengecualian PPh Pasal 22 Impor'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-1424725136616867195</id><published>2011-06-14T22:17:00.001+07:00</published><updated>2011-06-15T21:30:58.162+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='konsultasi'/><title type='text'>NPWP untuk wanita kawin</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;Wanita yg sdh menikah punya NPWP sendiri baik memiliki Ph dari 1 pemberi kerja maupun buka usaha sendiri SPT Tahunannya pisah dgn suami ya pak? yg SPT Tahunannya gabung dgn suami hanya untuk istri yg NPWPnya tdk ikut dgn NPWP suami ya pak? &lt;br /&gt;satu lagi pak sy bingung NPWP istri yg ikut dg NPWP suami itu yg no. akhir NPWP nya 1, atau NPWP Istri sama dgn suami dari awal hingga akhir tanpa ada perbedaan sedikitpun?&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU KUP :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Kewajiban mendaftarkan diri tersebut berlaku pula terhadap wanita kawin yang dikenai pajak secara terpisah karena hidup terpisah berdasarkan keputusan hakim atau dikehendaki secara tertulis berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2 PER-51/PJ/2008&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang dapat mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP bagi anggota keluarga adalah :&lt;br /&gt;a.Anggota keluarga yang diakui oleh Penanggung Biaya Hidup, termasuk anak yang belum dewasa serta memiliki penghasilan dari mana pun sumber penghasilannya dan apa pun sifat pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.Wanita kawin yang :&lt;br /&gt;1.menjalankan usaha dan/atau melakukan pekerjaan bebas; dan/atau&lt;br /&gt;2.tidak menjalankan usaha atau tidak melakukan pekerjaan bebas dan memiliki penghasilan sampai dengan suatu bulan yang disetahunkan telah melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan tidak terikat perjanjian pisah harta, serta tidak menghendaki untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakannya sendiri.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan aturan tersebut, dalam satu keluarga dapat satu NPWP. Teman-teman di DJP sering menyebut NPWP cabang bagi anggota keluarga. Misalnya NPWP untuk istri pertama 01.234.456.8-kpp-999 NPWP untuk istri kedua 01.234.456.8-kpp-998 (masing-masing istri memiliki usaha sendiri), atau NPWP untuk anak yang sudah terkenal sebagai artis  01.234.456.8-kpp-997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus untuk istri, UU KUP sekarang membolehkan memiliki NPWP yang terpisah dari suami. Syarat istri dapat memiliki NPWP yang terpisah adalah :&lt;br /&gt;[a.] memiliki perjanjian pisah harta, atau&lt;br /&gt;[b.] menghendaki untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakannya sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 8 ayat (2) UU PPh 1984 :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Penghasilan suami-isteri dikenai pajak secara terpisah apabila: &lt;br /&gt;a. suami-isteri telah hidup berpisah berdasarkan putusan hakim; &lt;br /&gt;b. dikehendaki secara tertulis oleh suami-isteri berdasarkan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan; &lt;br /&gt;c. dikehendaki oleh isteri yang memilih untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakannya sendiri.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Sekedar mengingatkan saja, NPWP terpisah tidak berarti penghitungan perpajakan juga terpisah. Penghitungan PPh OP atas keluarga tersebut tetap digabung dulu, baru kemudian dihitung kewajiban PPh secara proporsional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 8 ayat (3) UU PPh 1984 :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Penghasilan neto suami-isteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dan huruf c dikenai pajak berdasarkan penggabungan penghasilan neto suami-isteri, dan besarnya pajak yang harus dilunasi oleh masing-masing suami-isteri dihitung sesuai dengan perbandingan penghasilan neto mereka.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Berikut saya kutip contoh di penjelasan Pasal 8 ayat (1) UU PPh :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Wajib Pajak A, yang memperoleh penghasilan dari usaha sebesar Rp100.000.000,00 mempunyai seorang isteri yang menjadi pegawai dengan penghasilan sebesar Rp50.000.000,00. Apabila penghasilan isteri tersebut diperoleh dari satu pemberi kerja dan telah dipotong pajak oleh pemberi kerja dan pekerjaan tersebut tidak ada hubungannya dengan usaha suami atau anggota keluarga lainnya, penghasilan sebesar Rp50.000.000,00 tidak digabung dengan penghasilan A dan pengenaan pajak atas penghasilan isteri tersebut bersifat final.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila selain menjadi pegawai, isteri A juga menjalankan usaha, misalnya salon kecantikan dengan penghasilan sebesar Rp75.000.000,00, seluruh penghasilan isteri sebesar Rp125.000.000,00 (Rp50.000.000,00 + Rp75.000.000,00) digabungkan dengan penghasilan A. Dengan penggabungan tersebut A dikenai pajak atas penghasilan sebesar Rp225.000.000,00 (Rp100.000.000,00 + Rp50.000.000,00 + Rp75.000.000,00). Potongan pajak atas penghasilan isteri tidak bersifat final, artinya dapat dikreditkan terhadap pajak yang terutang atas penghasilan sebesar Rp225.000.000,00 tersebut yang dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan. &lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;Ini contoh lanjutan, di ayat (2) dan (3) apabila ada perjanjian pisah harta  :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;apabila isteri menjalankan usaha salon kecantikan, pengenaan pajaknya dihitung berdasarkan jumlah penghasilan sebesar Rp225.000.000,00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya pajak yang terutang atas jumlah penghasilan tersebut adalah sebesar Rp 56.250.000,00, maka untuk masing-masing suami dan isteri pengenaan pajaknya dihitung sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami : 100.000.000,00/225.000.000,00 x Rp56.250.000,00 = Rp25.000.000,00                  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteri : 125.000.000,00/225.000.000,00 x Rp56.250.000,00 = Rp31.250.000,00&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;salaam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-1424725136616867195?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/1424725136616867195/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/06/spt-pph-21-untuk-wanita-kawin.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/1424725136616867195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/1424725136616867195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/06/spt-pph-21-untuk-wanita-kawin.html' title='NPWP untuk wanita kawin'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-7158500962129881327</id><published>2011-06-13T11:46:00.001+07:00</published><updated>2011-06-13T11:48:56.161+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BUT'/><title type='text'>PPh atas laba BUT</title><content type='html'>Pasal 26 ayat (4) UU PPh 1984 &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari suatu bentuk usaha tetap di Indonesia dikenai pajak sebesar 20% dua puluh persen), kecuali penghasilan tersebut ditanamkan kembali di Indonesia, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan&lt;/blockquote&gt;Contoh:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Penghasilan Kena Pajak bentuk usaha tetap di Indonesia dalam tahun 2009 sebesar Rp17.500.000.000,00 &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pajak Penghasilan&lt;/b&gt;:&lt;br /&gt;28% x Rp17.500.000.000,00 =Rp4.900.000.000,00 &lt;br /&gt;Penghasilan Kena Pajak setelah pajak Rp12.600.000.000,00 &lt;br /&gt;Pajak Penghasilan &lt;b&gt;Pasal 26&lt;/b&gt; yang terutang &lt;br /&gt;20% X Rp12.600.000.000 = Rp2.520.000.000,00&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Pengenaan PPh Pasal 26 diatas bisa dihindari dengan menanamkan laba BUT tersebut di Indonesia sesuai dengan &lt;a href="http://www.sjdih.depkeu.go.id/fullText/2011/14~PMK.03~2011Per.HTM"&gt;Peraturan Menteri Keuangan&lt;/a&gt; No. &lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/02/penanaman-kembali-laba-but.html"&gt;14/PMK.03/2011&lt;/a&gt;. Salah satu syarat penanaman kembali laba BUT agar terhindar dari pengenaan PPh Pasal 26 adalah memberitahukan penanaman kembali laba BUT tersebut kepada DJP. Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. &lt;a href="http://www.pajak.go.id/dmdocuments/PER-16-2011.pdf"&gt;16/PJ/2011&lt;/a&gt; mengatur tata cara pemberitahuan tersebut. Inilah catatan saya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1.] Pemberitahuan disampaikan kepada Kantor Pelayanan Pajak setempat (tempat BUT terdaftar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2.] Pemberitahuan secara tertulis mengenai bentuk, realisasi, dan atau saat berproduksi komersial bagi perusahaan yang baru didirikan secara lengkap. Jika tidak lengkap, KPP penerima pemberitahuan memberitahukan kekurangan-kekurangannya. Wajib Pajak BUT dapat membetulkan pemberitahuan dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal pemberitahuan kekurangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3.] Bentuk pemberitahuan penanaman kembali laba BUT seperti ini :&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-5wx8jq8pzvk/TfWWLcNta4I/AAAAAAAAAPQ/_4tG86XKblc/s1600/PER_16_2011_kompress.bmp" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="400" width="174" src="http://2.bp.blogspot.com/-5wx8jq8pzvk/TfWWLcNta4I/AAAAAAAAAPQ/_4tG86XKblc/s400/PER_16_2011_kompress.bmp" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;lebih lengkapnya ada di &lt;a href="http://www.pajak.go.id/dmdocuments/PER-16-2011.pdf"&gt;pajak.go.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;salaam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-7158500962129881327?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/7158500962129881327/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/06/pph-atas-laba-but.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7158500962129881327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7158500962129881327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/06/pph-atas-laba-but.html' title='PPh atas laba BUT'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-5wx8jq8pzvk/TfWWLcNta4I/AAAAAAAAAPQ/_4tG86XKblc/s72-c/PER_16_2011_kompress.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-4966204064007100558</id><published>2011-06-13T09:57:00.000+07:00</published><updated>2011-06-13T09:57:48.154+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biaya'/><title type='text'>Syarat Sumbangan</title><content type='html'>Pada prinsipnya, sumbangan tidak dapat dibiayakan atau tidak dapat mengurangi penghasilan bruto. Tetapi UU PPh 1984 amandemen 2008 mengeculikan 5 jenis sumbangan yang dapat dibiayakan. Kelima sumbangan dimaksud :&lt;br /&gt;1. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional, yang merupakan sumbangan untuk korban bencana nasional yang disampaikan secara langsung melalui badan penanggulangan bencana atau disampaikan secara tidak langsung melalui lembaga atau pihak yang telah mendapat izin dari instansi/lembaga yang berwenang untuk pengumpulan dana penanggulangan bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan, yang merupakan sumbangan untuk penelitian dan pengembangan yang dilakukan di wilayah Republik Indonesia yang disampaikan melalui lembaga penelitian dan pengembangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sumbangan fasilitas pendidikan, yang merupakan sumbangan berupa fasilitas pendidikan yang disampaikan melalui lembaga pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga, yang merupakan sumbangan untuk membina, mengembangkan dan mengoordinasikan suatu atau gabungan organisasi cabang/jenis olahraga prestasi yang disampaikan melalui lembaga pembinaan olah raga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Biaya pembangunan infrastruktur sosial yang merupakan biaya yang dikeluarkan untuk keperluan membangun sarana dan prasarana untuk kepentingan umum dan bersifat nirlaba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan Menteri Keuangan No. 76/PMK.03/2011 kemudian mengatur lebih rinci &lt;b&gt;syarat-syarat pengeluaran sumbangan&lt;/b&gt; yang dapat dibiayakan. Berikut catatan saya :&lt;br /&gt;[1.] Wajib Pajak mempunyai penghasilan neto fiskal berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2.] pemberian sumbangan dan/atau biaya tidak menyebabkan rugi pada Tahun Pajak sumbangan diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3.] didukung oleh bukti yang sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4.] lembaga yang menerima sumbangan dan/atau biaya memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak, kecuali badan yang dikecualikan sebagai subjek pajak sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5.] Besarnya nilai sumbangan dan/atau biaya pembangunan infrastruktur sosial yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto untuk 1 (satu) tahun dibatasi tidak melebihi &lt;b&gt;5% (lima persen) dari penghasilan neto fiskal&lt;/b&gt; Tahun Pajak sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6.] Pemberi dan penerima tidak memiliki hubungan istimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain persyaratan diatas, Peraturan Menteri Keuangan No. &lt;a href="http://www.sjdih.depkeu.go.id/fullText/2011/76~PMK.03~2011Per.HTM"&gt;76/PMK.03/2011&lt;/a&gt; juga mengatur nilai sumbangan, tata cara pencatatan dan pelaporan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-4966204064007100558?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/4966204064007100558/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/06/syarat-sumbangan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/4966204064007100558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/4966204064007100558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/06/syarat-sumbangan.html' title='Syarat Sumbangan'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-4224186299096815599</id><published>2011-06-13T09:37:00.002+07:00</published><updated>2011-06-13T10:03:50.306+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='konsultasi'/><title type='text'>PPh 26 atas Jasa Luar Negeri</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;Pertanyaan saya:&lt;br /&gt;1. Apakah betul Penerimaan WP LN atas Jasa yang diberikan kpd PT ABC merupakan obyek PPh26.&lt;br /&gt;2. Meskipun PT ABC belum membayar tagihan selama bertahun tahun apakah tetap harus pungut dan setor PPh 26?&lt;br /&gt;3.Mengapa di tax treaty (Singapore dan Malaysia) tidak memberikan secara tegas pasala yang menyatakan penghasilan atas jasa yang diterima WP LN dikenakan PPh26 sebesar 20%?&lt;br /&gt;4. Jika ada COR atau COD (Certificate of Resident/Domicile) dikenakan hanya 10% atas PPh 26...Mana pasal yang mendukung atau KEPMEN yang mendukung statement ini?&lt;br /&gt;5. Apakah PPh 26 yang kita pungut dari tagihan dan kita setor dengan SSP dapat dikreditkan dengan PAJAK BADAN WP LN (Wajib Pajak Luar Negeri).&lt;br /&gt;6. Untuk kode SSP atas PPh26 JASA Luar Negeri apa ya pak..?&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;Benar bahwa atas pembayaran jasa ke luar negeri wajib dipotong PPh Pasal 26 sebesar 20%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 26 adalah pemotongan PPh atas penghasilan yang diterima wajib pajak luar negeri. Ini berdasarkan asas sumber. Indonesia sebagai sumber penghasilan memiliki kewenangan untuk mengenakan PPh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena subjek pajaknya di luar negeri maka kewajiban perpajakan mereka sebatas atas penghasilan dari Indonesia saja. Tetapi jika Indonesia menagih ke si subjek pajak yang di luar negeri maka sangat susah karena mereka berada di luar negeri. Karena itu pembayar penghasilan (sumber di Indonesia) diberikan kewajiban untuk memotong dan menyetor. Dengan disetorkannya PPh oleh wajib pajak dalam negeri, maka kewajiban perpajakan si wajib pajak luar negeri selesai. Inilah yang disebut PPh Pasal 26 karena diatur di Pasal 26 UU PPh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban pemotongan PPh Pasal 26 sudah timbul saat terjadi tagihan dari mitra kerja kita di luar negeri. Walaupun atas tagihan tersebut belum dibayar tetapi tetap sudah terutang. Hanya saja saat bayar ke bank persepsi, saran saya di SSP harus dicantumkan nomor tagihan tersebut. Ini untuk meyakinkan siapa saja dan KAPAN saja bahwa atas tagihan tersebut sudah dipotong PPh Pasal 26. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konstruksi tax treaty dengan UU PPh tentu beda. Tax treaty hanya "mancabuti" kewenangan UU PPh berdasarkan jenis penghasilan. Apakah passive income atau active income. Pasal 7 biasanya mengatur active income dengan judul BUSINESS INCOME. Berdasarkan Pasal 7 tax treaty, hak pemajakan negara sumber "dibatasi" hanya jika penghasilan tersebut melalui permanent establisment. Saya kutip Pasal 7 ayat (1) tax treaty Singapur - Indonesia :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;The profits of an enterprise of a Contracting State shall be taxable only in that State unless the enterprise carries on business in the other Contracting State through a permanent establishment situated therein. If the enterprise carries on business as aforesaid, the profits of the enterprise may be taxed in the other State but only so much of them as is attributable to that permanent establishment. &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Certificate of domicile (COD) adalah syarat penggunaan tax treaty. Apakah benar penerima penghasilan orang singapur? Jawabnnya ada di COD. Ini persyaratan formal yang harus dipenuhi oleh si wajib pajak luar negeri. Jika wajib pajak luar negeri yang menjadi mitra kerja kita tidak dapat memberikan COD maka aturan yang berlaku kembali ke Pasal 26 UU PPh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena PPh Pasal 26 merupakan pembayaran PPh atas wajib pajak luar negeri maka PPh Pasal 26 tidak bisa dikreditkan dengan PPh Badan penyetor. "Pemilik" PPh-nya berbeda. Tetapi bisa dikreditkan oleh si wajib pajak luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, bisa atau tidak tergantung sistem perpajakan yang berlaku di Negara yang bersangkutan. Dalam konteks Indonesia, di UU PPh diatur di Pasal 24 sehingga disebut PPh Pasal 24. Kebetulan saya tidak mempelajari sistem perpajakan di Singapur atau Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salaam hormat&lt;br /&gt;raden agus suparman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-4224186299096815599?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/4224186299096815599/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/06/re-pph-26-atas-jasa-luar-negeri.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/4224186299096815599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/4224186299096815599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/06/re-pph-26-atas-jasa-luar-negeri.html' title='PPh 26 atas Jasa Luar Negeri'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-1605555064832195215</id><published>2011-06-10T16:54:00.000+07:00</published><updated>2011-06-10T16:54:23.018+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 4 (2)'/><title type='text'>Contoh Pemotongan PPh Obligasi</title><content type='html'>Berikut ini saya &lt;b&gt;salin&lt;/b&gt; dari Lampiran Peraturan Menteri Keuangan No. &lt;a href="http://ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;hlm=1&amp;page=show&amp;id=14710"&gt;85/PMK.03/2011&lt;/a&gt;. Sekedar catatan karena biasanya kalau dari contoh lebih gampang dipahami :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CONTOH PENGHITUNGAN MENGENAI TATA CARA PEMOTONGAN PAJAK&lt;br /&gt;PENGHASILAN ATAS BUNGA OBLIGASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pada tanggal 1 Juli 2011, PT. ABC (emiten) menerbitkan Obligasi dengan kupon(&lt;i&gt;interest bearing bond&lt;/i&gt;) sebagai berikut :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; ● Nilai nominal Rp10.000.000,00 per lembar. &lt;br /&gt; ● Jangka waktu Obligasi 5 tahun (jatuh tempo tanggal 1 Juli 2016). &lt;br /&gt; ● Bunga tetap (fixed rate) sebesar 16% per tahun, jatuh tempo bunga setiap tanggal 30 Juni dan 31 Desember. &lt;br /&gt; ● Penerbitan perdana tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;PT. XYZ (investor) pada saat penerbitan perdana membeli 10 lembar Obligasi dengan harga di bawah nilai nominal (at discount), yaitu sebesar Rp9.000.000,00 per lembar. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penghitungan bunga dan Pajak Penghasilan yang bersifat final (PPh final) yang terutang oleh PT. XYZ pada saat jatuh tempo bunga tanggal 31 Desember 2011 adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt; ● Bunga = (6/12 x 16% x Rp10.000.000,00) x 10 &lt;br /&gt;         = Rp8.000.000,00 &lt;br /&gt;● PPh final = 15% x Rp8.000.000,00 = Rp1.200.000,00&lt;br /&gt;            = dipotong oleh emiten atau kustodian yang ditunjuk sebagai agen pembayaran (&lt;i&gt;cash settlement&lt;/i&gt;). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keterangan :&lt;br /&gt;Dalam kenyataanya, harga perolehan Obligasi dengan kupon (&lt;i&gt;interest bearing bond&lt;/i&gt;) pada saat penerbitan perdana tidak harus selalu sama dengan nilai nominalnya. Pembeli bisa memperoleh Obligasi dengan harga di bawah nilai nominal (&lt;i&gt;at discount&lt;/i&gt;) atau di atas nilai nominal (&lt;i&gt;at premium&lt;/i&gt;). Pada hakekatnya selisih harga beli di bawah atau di atas nilai nominal tersebut merupakan penyesuaian tingkat bunga Obligasi yang diperhitungkan ke dalam harga perolehan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apabila dalam contoh di atas investor atau pembeli Obligasi adalah Wajib Pajak Reksadana maka penghitungan PPh final atas bunga yang diperoleh pada saat jatuh tempo tanggal 31 Desember 2011 adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;● bunga     = (6/12 x 16% x Rp10.000.000,00) x 10 &lt;br /&gt;            = Rp8.000.000,00 &lt;br /&gt;● PPh final = 5% x Rp8.000.000,00&lt;br /&gt;            = Rp400.000,00&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. Pada tanggal 31 Maret 2012, PT. XYZ menjual seluruh Obligasi yang dimilikinya kepada PT. PQR melalui perusahaan efek PT. MNO Sekuritas di &lt;i&gt;over the counter&lt;/i&gt; (OTC), dengan harga jual Rp10.400.000,00 per lembar termasuk bunga berjalan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penghitungan bunga berjalan, diskonto, dan PPh final yang terutang oleh PT. XYZ pada saat penjualan Obligasi tanggal 31 Maret 2012 adalah sebagai berikut : &lt;br /&gt;● bunga berjalan = (3/12 x 16% x Rp10.000.000,00) x 10 &lt;br /&gt;                 = Rp4.000.000,00 &lt;br /&gt;● diskonto = [(Rpl0.400.000,00 - Rp400.000,00) - Rp9.000.000,00] x 10 &lt;br /&gt;           = Rp10.000.000,00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena dikenakan PPh final dengan tarif yang sama, bunga berjalan dan diskonto dapat dihitung sekaligus yaitu : &lt;br /&gt; ● bunga berjalan dan diskonto  = (Rp10.400.000,00 - Rp9.000.000,00) x 10 &lt;br /&gt;                                = 14.000.000,00 &lt;br /&gt; ● PPh final                    = 15% x Rp14.000.000,00 = Rp2.100.000,00&lt;br /&gt;                                = dipotong oleh PT. MNO Sekuritas selaku perantara. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3. PT. PQR memiliki Obligasi yang dibelinya dari PT. XYZ tersebut hingga tanggal 31 Desember 2014. Maka pada setiap tanggal jatuh tempo bunga selama masa kepemilikan Obligasi tersebut, PT. PQR terutang PPh final sebesar 15% atas bunga yang diterima atau diperolehnya (lihat contoh 1) yang dipotong oleh emiten atau kustodian yang ditunjuk sebagai agen pembayaran. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4. Pada tanggal 31 Desember 2014, PT. PQR setelah menerima bunga dati emiten menjual seluruh Obligasi yang dimilikinya kepada PT. CDE melalui Bank Pundi Nasional selaku perantara dengan harga jual Rp10.500.000,00 per lembar. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penghitungan bunga, diskonto, dan PPh final yang terutang oleh PT. PQR pada saat jatuh tempo bunga atau saat penjualan Obligasi tanggal 31 Desember 2014 adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;● bunga                = (6/12 x 16% x Rp10.000.000,00) x 10 &lt;br /&gt;                       = Rp8.000.000,00 &lt;br /&gt;● PPh final atas bunga = 15% x Rp8.000.000,00 = Rp1.200.000,00 &lt;br /&gt;                       = dipotong oleh emiten atau kustodian yang ditunjuk sebagai agen pembayaran. &lt;br /&gt;● diskonto             = (Rp10.500.000,00 - Rp10.000.000,00) x 10 &lt;br /&gt;                       = Rp5.000.000,00 &lt;br /&gt;● PPh final atas diskonto = 15% x Rp5.000.000,00 = Rp750.000,00 &lt;br /&gt;                          = dipotong oleh Bank Pundi Nasional selaku perantara. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keterangan : &lt;br /&gt;Pengertian diskonto dalam peraturan ini tidak hanya terbatas pada realisasi selisih harga perolehan perdana di bawah (at discount) nilai nominal Obligasi, melainkan mencakup selisih lebih harga jual di atas harga perolehan Obligasi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5.Pada tanggal 31 Mei 2016, PT. CDE menjual seluruh Obligasi yang dimilikinya kepada Dana Pensiun Sejahtera Mandiri (telah mendapat persetujuan Menteri Keuangan) langsung tanpa melalui perantara dengan harga jual Rp10.666.667,00 per lembar termasuk bunga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghitungan bunga berjalan, diskonto, dan PPh yang terutang oleh PT. CDE pada saat penjualan Obligasi tanggal 31 Mei 2016 adalah sebagai berikut : &lt;br /&gt;● bunga berjalan   = (5/12 x 16% x Rp10.000.000,00) x 10 &lt;br /&gt;                   = Rp6.666.670,00 &lt;br /&gt;● diskonto         = [(Rp10.666.667,00 - Rp666.667,00) - Rp10.500.000,00] x 10 &lt;br /&gt;                   = (Rp5.000.000,00) &lt;br /&gt;                     diskonto negatif atau rugi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perolehan diskonto negatif atau rugi tidak dapat diperhitungkan dengan penghasilan bunga berjalan. PPh terutang yang bersifat final karena penjualan Obligasi, sebagai berikut: &lt;br /&gt;PPh Final = 15% X Rp6.666.670,00 &lt;br /&gt;          = Rp1.000.001,00 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keterangan : &lt;br /&gt;Meskipun penjualan Obligasi tidak dilakukan melalui perantara dan tidak dilaporkan ke bursa, dana pensiun sebagai pembeli wajib melakukan pemotongan pajak. Ketentuan yang sama juga berlaku dalam hal pembelian langsung dilakukan oleh perusahaan efek, bank, dan reksa dana selaku investor. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;6. Pada tanggal 1 [uli 2016 (jatuh tempo Obligasi), Dana Pensiun Sejahtera Mandiri menerima pelunasan seluruh Obligasi yang dimilikinya beserta imbalan bunga sesuai masa kepemilikan (1 bulan) dari PT. ABC, emiten Obligasi tersebut. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penghitungan bunga, diskonto, dan PPh final yang terutang oleh Dana Pensiun Sejahtera Mandiri pada saat jatuh tempo/ pelunasan Obligasi tanggal 1 Juli 2016 adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;● bunga     = (1/12 x 16% x Rp10.000.000,00) x 10 &lt;br /&gt;            = Rp1.333.330,00 &lt;br /&gt;● diskonto  = (Rp10.000.000,00 - Rp10.000.000,00) x 10 &lt;br /&gt;              nihil. &lt;br /&gt;● PPh final tidak terutang oleh dana pensiun yang memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan Pasal 2 Peraturan Menteri Keuangan ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;7. Pada tanggal 1 Januari 2011, PT. ABC menerbitkan Obligasi tanpa bunga (&lt;i&gt;non-interest bearing debt securitiest&lt;/i&gt;) berjangka waktu 10 tahun (jatuh tempo tanggal 1 Januari 2021) dengan nilai nominal sebesar Rp10.000.000,00. Penerbitan perdana Obligasi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PT. GHI membeli 100 lembar Obligasi tanpa bunga tersebut dengan harga perdana sebesar Rp6.000.000,00 per lembar. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada tanggal 31 Agustus 2014, PT. GHI menjual 50 lembar Obligasi tersebut di Bursa Efek Indonesia melalui perusahaan efek PT. MNO Sekuritas kepada PT. JKL seharga Rp7.000.000,00 per lembar. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penghitungan diskonto dan PPh final yang terutang oleh PT. GHI adalah sebagai berikut : &lt;br /&gt;● diskonto   = (Rp7.000.000,00 - Rp6.000.000,00) x 50 &lt;br /&gt;             = Rp50.000.000,00 &lt;br /&gt;● PPh final  = 15% x Rp50.000.000,00 &lt;br /&gt;             = Rp7.500.000,00 &lt;br /&gt;               dipotong oleh PT. MNO Sekuritas selaku perantara. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keterangan : &lt;br /&gt;Diskonto Obligasi tanpa bunga dikenakan pemotongan PPh final pada setiap kali dilakukan penjualan, sepanjang : &lt;br /&gt;* penjualan dilakukan melalui perantara atau pembeli langsung yang ditunjuk sebagai pemotong pajak: &lt;br /&gt;* penjual Obligasi tidak dikecualikan dari pemotongan Pajak Penghasilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat jatuh tempo/pelunasan Obligasi, atas diskonto terakhir dikenakan PPh final.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-1605555064832195215?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/1605555064832195215/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/06/contoh-pemotongan-pph-obligasi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/1605555064832195215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/1605555064832195215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/06/contoh-pemotongan-pph-obligasi.html' title='Contoh Pemotongan PPh Obligasi'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-3439418479727804167</id><published>2011-06-07T15:04:00.000+07:00</published><updated>2011-06-07T15:04:28.897+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DJP'/><title type='text'>The Best Contact Center Indonesia 2011</title><content type='html'>Rabu malam, tanggal 1 Juni 2011 lalu di Hotel Bidakara Jakarta, Direktorat Jenderal Pajak memborong penghargaan di ajang bergengsi pada malam penghargaan &lt;i&gt;&lt;b&gt;The Best Contact Center  Indonesia 2011&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; yang diselenggarakan oleh Indonesia Contact Center Association (ICCA).  Malam penghargaan yang dihadiri lebih seribu orang dari kalangan praktisi Contact Center di antaranya dari Bank Central Asia, Bank Mandiri, Avaya, Infomedia, Indosat, Telkom Indonesia, Huawei, Bakrie Telecom, BRI, 168 Solution, Pertamina, PT KAI, PT AXA Mandiri, Ditjen Pajak dan lain-lain, demikian meriah dan ditunggu-tunggu oleh peserta dan hadirin untuk mendengarkan pembacaan penerima penghargaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajang penghargaan ini diadakan setiap tahun dimulai sejak tahun 2007 dengan jumlah peserta yang meningkat dari tahun ke tahun. Kring Pajak 500200 baru mulai mengikuti ajang tersebut tahun 2009 dan ketika itu meraih penghargaan sebagai Institusi Pemerintah yang pertama kali memiliki Contact Center. Tahun 2010 lalu DJP mengirimkan empat orang untuk dua katagori dan berhasil meraih dua penghargaan, yaitu satu Platinum untuk kategori &lt;i&gt;The Best Agent Inbound Below 100 Seat &lt;/i&gt;dan satu Silver untuk katagori &lt;i&gt;The Best Supervisor&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2011, ajang The Best Contact Center Indonesia diikuti oleh lebih dari 40 perusahaan swasta ternama dan beberapa perusahaan milik pemerintah dan sekitar 250 peserta untuk katagori individual. Lomba yang diadakan mulai tanggal 2 sampai dengan 5 Mei 2011 tersebut memperlihatkan persaingan yang sangat ketat. Para peserta adalah orang-orang terbaik di institusinya. Kring Pajak 500200, tahun ini mengirimkan 15 orang  untuk mengikuti delapan kategori lomba individual yaitu kategori: The Best Supervisor, The Best Team Leader, The Best Trainer, The Best Technical Support, The Best Quality Assurance, The Best Back Office, The Best Telemarketer dan The Best Agent.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini Kring Pajak 500200 berhasil memboyong tujuh penghargaan individual yaitu satu Platinum (penghargaan tertinggi) sebagai The Best Quality Assurance yang diraih oleh Yosinta Suwastika,  tiga Gold untuk The Best Back Office Operation oleh Adhy Putranto, The Best Inbound Agent oleh Putri Akhirina dan The Best Telemarketer (outbound agent) oleh Andy Fitriono, dua Silver sebagai The Best Agent olehSeptianTrisetyo Adi, The Best Quality Assurance oleh Nimas Fitriana dan satu Bronze sebagai The Best Supervisor yang diraih oleh Andri Ebenhard Panangian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Penyuluhan Pelayanan dan Humas N.E. Fatimah yang turut hadir menyemangati hingga acara usai, menyatakan bahwa prestasi yang sangat membanggakan ini merupakan sebuah bukti bahwa Direktorat Jenderal Pajak adalah institusi pemerintah yang concern terhadap upaya peningkatan mutu pelayanan kepada masyarakat dan selalu mengedepankan kepuasan stakeholder. Ajang ini merupakan sebuah proses pencapaian yang dilakukan dengan kerendahan hati untuk memberikan jawaban atas keluhan, pendapat dan pandangan yang disampaikan masyarakat agar Ditjen Pajak terus memperbaiki diri. &lt;b&gt;Kring Pajak 500200 menjadi salah satu unit kebanggaan &lt;/b&gt;Ditjen Pajak untuk membangun citra institusi menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disalin dari &lt;a href="http://www.pajak.go.id/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=11532"&gt;www.pajak.go.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Ikut bangga :-)&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-3439418479727804167?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/3439418479727804167/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/06/best-contact-center-indonesia-2011.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/3439418479727804167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/3439418479727804167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/06/best-contact-center-indonesia-2011.html' title='The Best Contact Center Indonesia 2011'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-2225172292926212266</id><published>2011-05-27T01:35:00.007+07:00</published><updated>2011-05-27T01:49:02.191+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keberatan dan banding'/><title type='text'>sengketa pajak</title><content type='html'>Surat Ketetapan Pajak [skp] bukanlah keputusan final. Memang akan menjadi final jika Wajib Pajak menerima dan membayar skp tersebut. Saya berpendapat skp adalah produk "pemahaman pemeriksa pajak". Sehingga tidak ada yang pasti atas skp tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koreksi fiskal yang dilakukan oleh pemeriksa pajak disebabkan oleh dua hal :&lt;br /&gt;[1.] akuntansi&lt;br /&gt;[2.] aturan pajak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koreksi fiskal karena akuntansi maksudnya koreksi fiskal yang dilakukan karena pemeriksa menganggap : bukti tidak cukup sehingga tidak bisa dibiayakan, selisih antara pembukuan WP dan SPT (sering kali yang diambil adalah yang paling menguntungkan untuk negara), WP salah hitung (ini masalah matematis dan manusiawi), perbedaan metode pembukuan (misalnya saat pengakuan ekspor atau impor),  atau yang paling sering saya gunakan : Wajib Pajak belum melaporkan semua penghasilan, dan belum melaporkan semua objek pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan koreksi fiskal karena aturan pajak berbeda dengan akuntansi. Contoh Pasal 6 ayat (1) UU PPh mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;Sehingga, bisa jadi secara akuntansi bisa dibiayakan tetapi secara fiskal tidak bisa dibiayakan. Lebih jelas lagi dengan ketentuan Pasal 9 UU PPh yang mengatur pengeluaran yang tidak dapat dibiayakan atau tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto. Atau ketentuan Pasal 10 ayat (3) UU PPh yang hanya membolehkan metode penilaian persediaan dengan cara "rata-rata" atau FIFO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin koreksi karena akuntansi lebih banyak diterima. Misal koreksi karena Wajib Pajak memperkecil omset. Saat diperiksa, omset sebenarnya ketahuan. Sehingga WP akan menerima hasil pemeriksaan tersebut karena memang hasil pemeriksaan berdasarkan fakta sebenarnya. Walaupun demikian tidak berarti koreksi berdasarkan akuntansi juga tidak akan jadi &lt;b&gt;sengketa pajak&lt;/b&gt;. Apalagi jika koreksi fiskal karena aturan pajak. Lebih khusus lagi jika aturan pajak yang dijadikan dasar koreksi masuk wilayah "gray area" atau wilayah abu-abu. Sebagian ada yang menyebut multitafsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak Wajib Pajak yang bermotif dagang. Mana yang lebih menguntungkan secara finansial, itulah yang ditempuh. Jika menurutnya hasil pemeriksaan tersebut bisa dikurangi, maka dia bisa tempuh jalur itu. Maka &lt;b&gt;dicarilah&lt;/b&gt; kelemahan hasil pemeriksaan. Namanya juga produk manusia, tidak sempurna. Selalu ada sisi kekurangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambut boleh sama hitam, tapi pemikiran dan pendapat bisa berbeda-beda. Aturan yang menurut pemeriksa jelas, bisa ditafsirkan lain sehingga menjadi tidak jelas. Sudut pandang atau cara memahami aturan bisa beda-beda tergantung latar belakang masing-masing. Termasuk yang menurut keumuman atau kelaziman disebut "aneh". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana untuk mengurangi hasil pemeriksaan sebenarnya ada 3 jalur, yaitu normal, extraordinary, dan terbatas. Tiga istilah tersebut saya dapatkan dari Majalah Berita Pajak bulan April 2011. Istilah tersebut dikemukakan oleh orang yang kebetulan saat ini sebagai Sekretaris DJP yang sebelumnya menjadi "Tim KUP".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a.] Jalur Normal&lt;br /&gt;Jalur normal berdasarkan Pasal 25, 26, dan 27 UU KUP. Untuk lebih lengkapnya saya kutip dulu biar jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 25 UU KUP mengatur proses pengajuan keberatan. Pasal 25 ayat (1) UU KUP berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Direktur Jenderal Pajak atas suatu: &lt;br /&gt;a. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar; &lt;br /&gt;b. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan; &lt;br /&gt;c. Surat Ketetapan Pajak Nihil; &lt;br /&gt;d. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar; atau &lt;br /&gt;e. pemotongan atau pemungutan pajak oleh pihak ketiga berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;Pasal 26 UU KUP mengatur hasil keberatan. Pasal 26 ayat (1) UU KUP berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal surat keberatan diterima harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan. &lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;Pasal 27 UU KUP mengatur pengajuan permohonan banding. Pasal 27 ayat (1) UU KUP berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan banding hanya kepada badan peradilan pajak atas Surat Keputusan Keberatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1). &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b.] Jalur Extraordinary&lt;br /&gt;Jalu extraordinary berdasarkan Pasal 36 UU KUP. Mengapa disebut extraordinary? Wah, saya juga lupa alasannya :D Tetapi kemungkinan karena pasal ini mengatur kewenangan DJP yang lebih kuat. Saya kutip dulu bunyi Pasal 36 ayat (1) UU KUP :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Direktur Jenderal Pajak karena jabatan atau atas permohonan Wajib Pajak dapat: &lt;br /&gt;a. mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan yang terutang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dalam hal sanksi tersebut dikenakan karena kekhilafan Wajib Pajak atau bukan karena kesalahannya; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. mengurangkan atau membatalkan surat ketetapan pajak yang tidak benar; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. mengurangkan atau membatalkan Surat Tagihan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 yang tidak benar; atau &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. membatalkan hasil pemeriksaan pajak atau surat ketetapan pajak dari hasil pemeriksaan yang dilaksanakan tanpa: &lt;br /&gt;1. penyampaian surat pemberitahuan hasil pemeriksaan; atau &lt;br /&gt;2. pembahasan akhir hasil pemeriksaan dengan Wajib Pajak. &lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Wajib Pajak dapat meminta menghapus sanksi administrasi yang sudah dihitung oleh pemeriksa pajak. Jalur ini bisa diambil Wajib Pajak jika tidak melakukan proses keberatan. Artinya, dia menerima hasil pemeriksaan. Karena menerima hasil pemeriksaan, dia bayar dulu pokok pajaknya sampai lunas. Setelah lunas, dia minta pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi. Biasanya alasan yang sering digunakan adalah kemampuan liquiditas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajib Pajak dapat meminta mengurangi hasil pemeriksaan atau membatalkan skp dan STP. Jalur ini bisa digunakan jika Wajib Pajak sudah menggunakan jalur keberatan berdasarkan Pasal 26 UU KUP. Tetapi karena kekurangan syarat formal, maka keberatan Wajib Pajak ditolak. Padahal bisa jadi materi keberatan Wajib Pajak benar. Nah untuk mewujudkan keadilan, maka dibuka pintu ini. Artinya, ini seperti proses keberatan tetapi dengan "tidak memperhatikan" syarat formal. Bedanya dengan proses keberatan, pintu Pasal 36 UU KUP tidak bisa banding ke Pengadilan Pajak. Wajib Pajak harus menerima apapun hasilnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[c.] Jalur Terbatas&lt;br /&gt;Jalur terbatas berdasarkan Pasal 16 UU KUP. Pasal 16 UU KUP mengatur pembetulan atau koreksi ketetapan pajak. Tetapi koreksi dijalur ini terijadi karena kesalahan manusiawi. Lebih jelasnya saya kutip dulu Pasal 16 UU KUP dan penjelasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 16 ayat (1) UU KUP :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Atas permohonan Wajib Pajak atau karena jabatannya, Direktur Jenderal Pajak dapat membetulkan surat ketetapan pajak, Surat Tagihan Pajak, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi, Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi, Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak, Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak, Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak, atau Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga, yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan. &lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;Penjelasan Pasal 16 ayat (1) UU KUP (bagian tengah tidak dikutip supaya tidak terlalu panjang).&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Pembetulan menurut ayat ini dilaksanakan dalam rangka menjalankan tugas pemerintahan yang baik sehingga apabila terdapat kesalahan atau kekeliruan yang bersifat manusiawi perlu dibetulkan sebagaimana mestinya. Sifat kesalahan atau kekeliruan tersebut tidak mengandung persengketaan antara fiskus dan Wajib Pajak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian ”membetulkan” pada ayat ini, antara lain, menambahkan, mengurangkan, atau menghapuskan, tergantung pada sifat kesalahan dan kekeliruannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika masih terdapat kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan, Wajib Pajak dapat mengajukan lagi permohonan pembetulan kepada Direktur Jenderal Pajak, atau Direktur Jenderal Pajak dapat melakukan pembetulan lagi karena jabatan. &lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Memang tiga jalur tersebut tidak mencerminkan sengketa pajak sebagaimana judul posting kali ini.  Jalur yang "murni" sengketa pajak sebenarnya jalur normal yang bisa banding sampai Pengadilan Pajak dan bisa peninjauan kembali ke Mahkamah Agung. Jalur mana yang akan dipilih oleh Wajib Pajak? Kembali ke motif dagang, mana yang lebih menguntungkan finansial si Wajib Pajak :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salaam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-2225172292926212266?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/2225172292926212266/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/05/sengketa-pajak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/2225172292926212266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/2225172292926212266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/05/sengketa-pajak.html' title='sengketa pajak'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-7847716204190849393</id><published>2011-05-23T20:41:00.001+07:00</published><updated>2011-05-23T20:44:33.256+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemeriksaan'/><title type='text'>Revisi Aturan Pemeriksaan 2</title><content type='html'>Melanjutkan posting &lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/05/revisi-aturan-pemeriksaan-1.html"&gt;sebelumnya&lt;/a&gt;, pada posting kali ini saya akan bahas SPHP dan tanggapan WP serta pembahasan akhir hasil pemeriksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di undang-undang KUP ada dua kewajiban yang amanatkan sebagai prosedur pemeriksaan. Jika salah satu prosedur pemeriksaan dibawah ini tidak dilaksanakan maka hasil pemeriksaan bisa dibatalkan berdasarkan Pasal 36 ayat (1) huruf d UU KUP. Kedua prosedur tersebut yaitu pemeriksa wajib :&lt;br /&gt;[a.] memberikan SPHP kepada WP;&lt;br /&gt;[b.] melakukan pembahasan hasil pemeriksaan dengan WP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan (SPHP) Pemeriksaan adalah surat yang berisi tentang hasil Pemeriksaan yang meliputi pos-pos yang dikoreksi, nilai koreksi, dasar koreksi, perhitungan sementara jumlah pokok pajak, dan pemberian hak kepada Wajib Pajak untuk hadir dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan. Dalam prakteknya, bisa jadi sebelum SPHP, bagian akuntansi atau pajak dipanggil oleh pemeriksa untuk memberikan penjelasan. Bisa jadi beberapa pos yang sebelumnya dijadikan temuan, tetapi setelah ada penjelasan dari pihak WP maka tidak jadi temuan. Seringkali justru pos-pos yang dikoreksi yang dituangkan dalam SPHP adalah temuan yang benar-benar tidak bisa dibantah oleh WP. Walaupun demikian, bisa pula pemeriksa "ujug-ujug" memberikan SPHP kepada WP sedangkan pembahasan dan permintaan keterangan lebih lanjut justru setelah SPHP atau tepatnya di closing conference. Atau bisa juga kombisanasi dari dua hal tersebut. Misalnya sebagian temuan sudah dibahas sebelum SPHP tetapi diantara pos yang dikoreksi di SPHP sebagian belum dibahas dengan WP. Apapun kondisinya, pembahasan akhir hasil pemeriksaan adalah prosedur wajib dalam pemeriksaan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan akhir hasil pemeriksaan (closing conference) adalah pembahasan antara Wajib Pajak dan Pemeriksa Pajak atas temuan Pemeriksaan yang hasilnya dituangkan dalam Berita Acara Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan yang ditandatangani oleh kedua belah pihak dan berisi koreksi baik yang disetujui maupun yang tidak disetujui. Secara logika, pembahasan akhir hasil pemeriksaan akan ada jika WP memberikan respon atau menjawab atau memberikan tanggapan atas SPHP. Jika tidak ada tanggapan, maka apa yang dibahas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Peraturan Menteri Keuangan No. 82/PMK.03/2011 mewajibkan kepada pemeriksa untuk mengundang WP dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, baik WP memberikan tanggapan atau tidak. Konon kabarnya, aturan baru ini merupakan turunan dari UU KUP yang memberikan hak kepada WP untuk melakukan pembahasan hasil pemeriksaan. Bagi WP, hadir dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan merupakan hak. Sebaliknya bagi pemeriksa, memberikan kesempatan untuk hadir dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan merupakan kewajiban. UU KUP tidak mensyaratkan ada tanggapan SPHP atas kehadiran WP. Artinya, menurut UU KUP, ada atau tidak ada tanggapan SPHP maka WP harus diberikan kesempatan untuk hadir dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian timbul, apa yang akan dibahas jika WP tidak memberikan tanggapan SPHP? Kalau menurut pendapat saya pribadi, jika WP tidak memberikan tanggapan kemudian hadir dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan maka saya sebagai pemeriksa akan meminta secara lisan supaya WP melengkapi tanggapan secara tertulis. Mungkin dikasih satu hari untuk mengetik dan besoknya dilakukan pembahasan. Mungkin jangka waktu untuk tanggapan SPHP sudah lewat. Menurut saya tidak apa lewat satu dua hari, yang penting ada dokumen WP tentang ketidaksetujuan SPHP. Jika usaha ini tidak berhasil, maka terpaksa saya gunakan keterangan lisan sebagai tanggapan SPHP. Kemudian dibuatkan risalah pembahasan dan saya sarankan untuk pembahasan selanjutnya di Tim Quality Assurance Pemeriksaan. Artinya pemeriksa tetap pada SPHP dan WP tetap tidak setuju. Atas sengketa tersebut maka akan diputuskan di Tim Quality Assurance Pemeriksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangka waktu WP untuk memberikan tanggapan adalah 7 hari kerja. Di Peraturan Menteri Keuangan No. 199/PMK.03/2007 jangka waktu 7 hari kerja tersebut termasuk dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan. Di Peraturan Menteri Keuangan No. 82/PMK.03/2011 jangka waktu 7 hari kerja adalah kesempatan untuk memberikan tanggapan saja! Ditambah lagi, &lt;b&gt;WP bisa meminta perpanjangan 3 hari kerja &lt;/b&gt;jika memang belum cukup untuk menyusun surat tanggapan. Setelah surat tanggapan selesai, kemudian disampaikan ke KPP atau unit yang melaksanakan pemeriksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tanggapan WP diterima oleh KPP, atau jangka waktu 7 hari kerja sudah habis dan WP tidak memberikan tanggapan, maka 3 hari kerja kemudian akan ada &lt;b&gt;undangan&lt;/b&gt; untuk melakukan pembahasan akhir hasil pemeriksaan. Dulu, sebelum berlaku Peraturan Menteri Keuangan No. 199/PMK.03/2011, justru pemeriksa bisa membuat surat panggilan untuk melakukan pembahasan akhir. Revisi sekarang dikembalikan seperti itu, tetapi namanya &lt;b&gt;undangan&lt;/b&gt;. Apapun yang terjadi dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, maka pemeriksa wajib membuat risalah pembahasan. Jika WP tidak hadir, maka selain risalah pembahasan, juga ditambah dengan berita acara ketidakhadiran WP. Jika tanggapan WP setuju atas hasil pemeriksaan, baik persetujuan tersebut disebutkan dalam surat tanggapan maupun persetujuan tersebut setelah ada pembahasan, maka dibuat berita acara pembahasan akhir hasil pemeriksaan yang ditanda-tangani oleh pemeriksa dan WP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengketa atas hasil pemeriksaan antara pemeriksa dan WP sekarang akan diputuskan oleh Tim Quality Assurance Pemeriksaan. Dalam pembahasan sengketa tersebut Tim Quality Assurance Pemeriksaan wajib mengundang WP dan pemeriksa. Hasil pembahasan di Tim Quality Assurance Pemeriksaan kemudian dituangkan dalam risalah Tim Quality Assurance Pemeriksaan yang ditandatangani oleh Tim Quality Assurance Pemeriksaan, pemeriksa, dan Wajib Pajak. Kemudian, setelah ada keputusan atas sengketa oleh Tim Quality Assurance Pemeriksaan, maka pemeriksa membuat berita acara pembahasan akhir hasil pemeriksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah WP harus menerima keputusan Tim Quality Assurance Pemeriksaan? Tidak harus! Walaupun sekarang pembahasan sengketa hasil pemeriksaan diputuskan oleh tim yang independen, tetapi WP bisa saja tetap tidak setuju. Dan atas ketidaksetujuan tersebut, WP bisa mengajukan proses keberatan setelah surat ketetapan pajak keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersambung ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-7847716204190849393?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/7847716204190849393/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/05/revisi-aturan-pemeriksaan-2.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7847716204190849393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7847716204190849393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/05/revisi-aturan-pemeriksaan-2.html' title='Revisi Aturan Pemeriksaan 2'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-9162206448530590960</id><published>2011-05-20T04:41:00.008+07:00</published><updated>2011-05-20T05:17:31.158+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemeriksaan'/><title type='text'>Revisi Aturan Pemeriksaan 1</title><content type='html'>&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 19px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 13pt;"&gt;Menteri Keuangan telah merevisi tata cara pemeriksaan dengan Peraturan Menteri Keuangan No.&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sjdih.depkeu.go.id/fullText/2011/82~PMK.03~2011Per.HTM"&gt;82/PMK.03/2011&lt;/a&gt;&amp;nbsp;tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan No. 199/PMK.03/2007 tentang Tata Cara Pemeriksaan. Berikut catatan saya atas perubahan ini :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 13pt;"&gt;[1.] Jangka Waktu Pemeriksaan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 13pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 13pt;"&gt;Jangka waktu pemeriksaan baik pemeriksaan kantor maupun pemeriksaan lapangan tidak berubah. Tetapi "argo" awal pemeriksaan berubah dari sejak tanggal SP2 menjadi sejak tanggal Surat Pemberitahuan. Memang tidak signifikan karena prakteknya dua surat tersebut biasanya memiliki tanggal yang sama. Perubahan yang cukup signifikan di jangka waktu pemeriksaan adalah adanya&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;alasan tertentu&lt;/b&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;jika jangka waktu pemeriksaan diperpanjang. Kalau dulu, pemeriksa bisa seenaknya memperpanjang lamanya pemeriksaan sekarang harus ada alasan yang cukup kuat! Selain itu, sekarang pemeriksa harus&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;memberitahukan secara tertulis tentang perpanjangan jangka waktu pemeriksaan kepada wajib pajak&lt;/b&gt;! Ini hal baru dalam tata cara pemeriksaan. Setelah diperpanjang, artinya setelah 6 bulan untuk pemeriksaan kantor atau 8 bulan untuk pemeriksaan lapangan, pemeriksa belum menyelesaikan juga, maka menurut Pasal 5A ayat (4) pemeriksa harus menerbitkan dan menyampaikan SPHP kepada wajib pajak dalam jangka waktu 7 hari. Ini juga aturan baru yang memaksa pemeriksa menyelesaikan pemeriksaan paling lama 8 bulan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 13pt;"&gt;[2.] Kuesioner&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 13pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 13pt;"&gt;Pemeriksa&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;wajib menyampaikan kuesioner&lt;/b&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;kepada wajib pajak. Dulu memang pernah ada kuesioner yang disampaikan kepada Wajib Pajak dalam rangka pemeriksaan. Tetapi kuesioner disampaikan pada akhir pemeriksaan dan tidak diwajibkan. Sekarang, pemeriksa pajak akan memberikan sekurang-kurangnya 3 dokumen kepada Wajib Pajak saat pertama kali datang, yaitu :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 13pt;"&gt;[a.] Surat Pemberitahuan Pemeriksaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 13pt;"&gt;[b.] Kuesioner&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 13pt;"&gt;[c.] Salinan Surat Perintah Pemeriksaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 13pt;"&gt;[3.] Berita Acara Hasil Pertemuan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 13pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 13pt;"&gt;Berita acara hasil pertemuan sebenarnya pernah diatur. Seingat saya, dulu adanya di surat edaran yang merupakan kebijakan pemeriksaan tahun tertentu. Sekarang&lt;b&gt;&amp;nbsp;diwajibkan dibuat oleh pemeriksa&lt;/b&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;dan diatur dengan peraturan menteri keuangan. Lebih kuat dan lebih mengikat bagi pemeriksa dan Wajib Pajak. Pengalaman saya dulu, isi berita acara ini biasanya menerangkan langkah-langkah pada saat pemeriksa datang pertama kali. Isinya lebih formalitas seperti : menerangkan tujuan pemeriksaan, menerangkan hak dan kewajiban pemeriksa serta hak dan kewajiban Wajib Pajak. Format berita acara hasil pertemuan tidak diatur di PMK. Mungkin akan diatur lebih lanjut di peraturan dirjen pajak atau SE.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 13pt;"&gt;[4.]&amp;nbsp;Tim Quality Assurance Pemeriksaan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 13pt;"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 13pt;"&gt;Pasca lebara 2010 &amp;nbsp;menteri keuangan mengumumkan akan membentu unit quality assurance.&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/perbankan_keuangan/2010/09/14/brk,20100914-278087,id.html"&gt;Berita ini&lt;/a&gt;&amp;nbsp;bersamaan dengan pengumuman akan dialihkannya pembuat aturan perpajakan ke BKF. Peraturan menteri keuangan ini salah satu perwujudan dari ide tersebut.&amp;nbsp;&amp;nbsp;Tim Quality Assurance Pemeriksaan &amp;nbsp;akan berada di Kanwil DJP. Tugas Tim Quality Assurance :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 13pt;"&gt;[a.]&amp;nbsp;membahas perbedaan pendapat antara Wajib Pajak dengan Pemeriksa Pajak dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 13pt;"&gt;[b.]&amp;nbsp;memberikan simpulan dan keputusan atas perbedaan pendapat antara Wajib Pajak dengan Pemeriksa Pajak; dan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 13pt;"&gt;[c.]&amp;nbsp;membuat risalah Tim Quality Assurance Pemeriksaan yang berisi simpulan dan keputusan hasil pembahasan sebagaimana dimaksud pada huruf b, yang ditandatangani oleh Tim Quality Assurance Pemeriksaan dan Tim Pemeriksa, dan/atau dengan Wajib Pajak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 13pt;"&gt;Melihat tugasnya, Tim Quality Assurance Pemeriksaan hanya menggantikan tugas Tim Pembahas. Sebelumnya, Tim Pembahas ada dua tingkat, yaitu di tingkat UP2 atau KPP kalau sekarang, dan kalau belum puas bisa minta lagi Tim Pembahas di tingkat Kanwil DJP. Sekarang Tim Quality Assurance Pemeriksaan hanya ada di tingkat Kanwil DJP. Tim Quality Assurance Pemeriksaan juga sekarang lebih kuat karena ditugaskan untuk memberikan&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;keputusan&lt;/b&gt;&amp;nbsp;atas perbedaan pendapat. Artinya, pemeriksa bisa "lepas tangan" atas perbedaan hasil pemeriksaan. Keputusan Tim Quality Assurance Pemeriksaan juga seperti keputusan banding karena memberikan putusan atas sengketa pajak. Hanya saja, keputusan Tim Quality Assurance Pemeriksaan terjadi sebelum skp dangkan Putusan Keberatan setelah skp.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 13pt;"&gt;Jika memperhatikan&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/perbankan_keuangan/2010/09/14/brk,20100914-278087,id.html"&gt;berita ide&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;pembentukan quality assurance, maka di Kanwil DJP akan ada unit khusus atau struktur organisasi yang bertugas sebagai Tim Quality Assurance Pemeriksaan. Ini tentu berbeda dengan Tim Pembahas yang bersifat ad hoc atau "panitia" saja. Orang-orangnya diambil dari unit lain. Mungkin nanti akan ada re-organisasi di DJP untuk membentuk Tim Quality Assurance Pemeriksaan. Menurut Pak Agus Marto W, pembentukan &lt;b&gt;unit&lt;/b&gt; &lt;b&gt;quality assurance&lt;/b&gt; supaya "bekerja lebih independen".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 13pt;"&gt;bersambung ....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-9162206448530590960?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/9162206448530590960/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/05/revisi-aturan-pemeriksaan-1.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/9162206448530590960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/9162206448530590960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/05/revisi-aturan-pemeriksaan-1.html' title='Revisi Aturan Pemeriksaan 1'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-7773083898613480342</id><published>2011-04-25T09:10:00.000+07:00</published><updated>2011-04-25T09:10:43.642+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DJP'/><title type='text'>Itjen Lebih Superior</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Auditor dimanapun harus diletakkan lebih sederajat daripada auditee (pihak terperiksa). Setidaknya, ini pemahaman saya. Auditor harus diberikan kekuasaan untuk mengakses semua informasi dan meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang ada. Bahkan untuk internal auditor, harus lebih maju lagi, yaitu harus mencegah penyimpangan. Internal audit sering juga disebut kepatuhan internal. Karena berada di posisi intern, maka kepatuhan internal bisa “mendeteksi” potensi penyimpangan dan berusaha mencegahkan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Inspektorat Jenderal (Itjen) adalah auditor internal bagi sebuah lembaga. Kementrian Keuangan sebagai lembaga penting di Republik ini memiliki Itjen. Auditee atau pihak terperiksa adalah unit-unit eselon satu di Kementrian Keuangan seperti DJP. Karena merupakan posisinya sebagai auditor, maka Itjen Kemenkeu bisa memeriksa setiap berkas yang ada di DJP.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sebelum “rezim” Dirjen Pajak Hadi Poernomo, Itjen bisa memeriksa Kertas Kerta Pemeriksaan (KKP) dan Laporan Pemeriksaan Pajak (LPP). Karena memiliki kewenangan untuk mangaudit KKP dan LHP termasuk SPT Wajib Pajak, maka dulu banyak pemeriksaan ulang berasal dari hasil pemeriksaan Itjen. Saya sendiri beberapa kali melakukan pemeriksaan ulang berdasarkan rekomendasi hasil pemeriksaan Itjen. Seharusnya, menurut UU KUP sekarang, pemeriksaan ulang hanya bisa dilakukan jika ada data baru. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Setelah Hadi Poernomo menjadi Dirjen Pajak, DJP lebih “aman” dari jangkauan Itjen Kemenkeu. Ada sebuah surat yang dipegang oleh temen-temen di lapangan bahwa Itjen termasuk “orang lain”. Hanya DJP yang bisa mengakses berkas Wajib Pajak termasuk KKP dan LHP. Dasarnya adalah rahasia jabatan sebagaimana dimaksud di Pasal 34 UU KUP. Sejak itu, Itjen seperti macan kehilangan gigi. Itjen Kemenkeu hanya memeriksa anggaran atau penggunaan APBN oleh DJP. Tidak lagi melakukan pemeriksaan berkas Wajib Pajak.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Terkait dengan majalah &lt;a href="http://majalah.tempointeraktif.com//id/arsip/2011/04/25/LU/mbm.20110425.LU136537.id.html"&gt;Tempo&lt;/a&gt; minggu ini,&amp;nbsp; posisi Itjen sebagai kepatuhan internal, bukan sebagai auditor yang melakukan pemeriksaan berkas KPC. Sebagai internal auditor, jika dipandang ada kekeliruan prosedur, maka Itjen tentu memiliki kewenangan untuk melakukan koreksi. Domain internal auditor dalam hal ini sebatas prosedur-prosedur. Bukan kepada materi. Tetapi dalam kasus KPC, Wajib Pajak berusaha "meminjam" tangan Itjen untuk mempercepat proses. Materi dari hasil pemeriksaan sendiri saya yakin tidak dipengaruhi oleh Itjen Kemenkeu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Dulu, sebelum reformasi DJP para Wajib Pajak bisa lebih longgar untuk mempengaruhi hasil pemeriksaan. Tetapi setelah reformasi DJP banyak hal berubah. Walaupun saya yakin tidak 100% berubah. Namanya juga manusia. Tetapi dalam kasus KPC, saya menduga pemeriksa termasuk yang tidak bisa dipengaruhi sehingga Wajib Pajak harus meminjam tangan Itjen Kemenkeu. Jika si pemeriksa pajak bisa dipengaruhi, kenapa harus berpanjang tangan meminta tangan Itjen Kemenkeu?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;salaam hormat.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-7773083898613480342?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/7773083898613480342/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/04/itjen-lebih-superior.html#comment-form' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7773083898613480342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7773083898613480342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/04/itjen-lebih-superior.html' title='Itjen Lebih Superior'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-8953491717923780601</id><published>2011-04-01T09:14:00.001+07:00</published><updated>2011-04-01T09:16:52.448+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 21'/><title type='text'>Bukti pembayaran zakat</title><content type='html'>Berdasarkan ketentuan Pasal 9 ayat (1) huruf g UU PPh 1984 (nama resminya memang "UU PPh 1984") bahwa pembayaran zakat bisa dibiayakan atau mengurangi penghasilan kena pajak. Tetapi ada syarat-syarat tertentu supaya bukti pembayaran zakat bisa mengurangi penghasilan kena pajak. Syarat-syarat tersebut :&lt;br /&gt;[a.] Zakat dibayarkan kepada amil zakat yang dibentuk atau disahkan pemerintah,&lt;br /&gt;[b.] Bukti pembayaran zakat paling sedikit memuat informasi :&lt;br /&gt;[b.1.] Nama lengkap Wajib Pajak dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) pembayar;&lt;br /&gt;[b.2.] Jumlah pembayaran;&lt;br /&gt;[b.3.] Tanggal pembayaran;&lt;br /&gt;[b.4.] Nama badan amil zakat; lembaga amil zakat; atau lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan Pemerintah; dan&lt;br /&gt;[b.5.] Tanda tangan petugas badan amil zakat; lembaga amil zakat; atau lembaga keagamaan, yang dibentuk atau disahkan Pemerintah, di bukti pembayaran, apabila pembayaran secara langsung; atau&lt;br /&gt;[b.6.] Validasi petugas bank pada bukti pembayaran apabila pembayaran melalui transfer rekening bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat dari [b.1.] sampai dengan [b.4] kumulatif. Artinya keempat syarat tersebut harus terpenuhi di bukti pembayaran pajak yang kita lampirkan di SPT Tahunan. Ditambah validasi petugas bank jika pembayaran melalui transfer bank atau tanda tangan petugas badan amil zakat jika pembayaran secara langsung. Ketentuan lebih lanjut bisa dilihat di &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;hlm=1&amp;amp;page=show&amp;amp;id=14649"&gt;PER-6/PJ/2011&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman di &lt;a href="http://www.pkpu.or.id/"&gt;PKPU&lt;/a&gt;, walaupun pembayaran melalui transfer via ATM, tetapi pihak PKPU juga memberikan tanda terima yang ditandatangani oleh petugas. Mulai sekarang, tanda terima tersebut sebaiknya disesuai dengan dengan syarat-syarat di &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;hlm=1&amp;amp;page=show&amp;amp;id=14649"&gt;PER-6/PJ/2011&lt;/a&gt; diatas supaya bisa dibebankan sebagai pengurang penghasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, zakat ini belum diperhitungkan dalam perhitungan PPh Pasal 21. Tata cara perhitungan PPh Pasal 21 yang dikeluarkan oleh DJP sampai sekarang tidak memperhitungkan adanya zakat. Dengan demikian, jika zakat akan diperhitungkan sebagai pengurang penghasilan, untuk Wajib Pajak pekerja nanti akan menjadi lebih bayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri sebagai PNS tidak memperhitungkan zakat. Kalau PNS ada dua alasan :&lt;br /&gt;[a.] PPh untuk PNS ditanggung (dibayar) oleh negara. Diperhitungan PPh Pasal 21 untuk PNS (form A2) selalu ada tunjangan PPh Pasal 21 sebesar PPh Pasal 21 yang terutang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b.] Kalau zakat turut diperhitungkan di SPT Tahunan, maka akan terjadi lebih bayar. Sudah dibayarin negara, masih minta kembalian lagi .....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salaam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-8953491717923780601?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/8953491717923780601/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/04/bukti-pembayaran-zakat.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/8953491717923780601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/8953491717923780601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/04/bukti-pembayaran-zakat.html' title='Bukti pembayaran zakat'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-3047569880917541629</id><published>2011-03-30T22:07:00.006+07:00</published><updated>2011-03-30T22:11:32.248+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Restitusi'/><title type='text'>Restitusi PPh bukan objek</title><content type='html'>Saat membaca Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. &lt;a href="http://ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;hlm=1&amp;amp;page=show&amp;amp;id=14641"&gt;PER-5/PJ/2011&lt;/a&gt;, awalnya saya "berkerut dahi". Salah satu pajak yang seharusnya tidak terutang adalah Pajak Penghasilan (PPh) yang telah dibayar oleh Wajib Pajak yang bukan merupakan objek PPh yang terutang. Bukan objek pajak, kenapa Wajib Pajak bayar PPh? Itu salah satu kebingungan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pasal berikutnya diatur bahwa PPh&amp;nbsp;yang telah dibayar karena kesalahan pembayaran &amp;nbsp;yang dilakukan oleh Wajib Pajak atas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a.] penghasilan yang bukan merupakan objek Pajak Penghasilan; atau&lt;br /&gt;[b.] transaksi yang dibatalkan.&lt;br /&gt;Huruf [a.] tetap masih membingungkan karena yang namanya "dibayar oleh Wajib Pajak" artinya si Wajib Pajak memang sengaja membayar PPh bukan dipotong oleh orang lain. Mungkin sebagai aturan sekedar menampung segala kemungkinan. Misalnya, Wajib Pajak ingin "taat" pajak sehingga saat dapat warisan, dia bayar PPh :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPh yang dibayar oleh Wajib Pajak sendiri diatur di Pasal 25 dan Pasal 29 UU PPh. Pasal 25 merupakan pembayaran cicilan setiap bulan berdasarkan perkiraan tertentu sehingga diharapkan pada akhir tahun cicilan PPh yang dibayar mendekati PPh terutang. Jika PPh yang terutang masih lebih besar, maka kekurangannya akan dilunasi dan disebut PPh Pasal 29. Tetapi jika PPh terutang ternyata lebih kecil maka kelebihan bayar tersebut akan direstitusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi "transaksi yang dibatalkan" memang sering ditemukan. Biasanya ini terjadi saat ada akta perikatan jual beli tanah. Si penjual mengikat si pembeli di depan notaris untuk meyakinkan &amp;nbsp;(supaya tidak dijual ke pihak lain). Menurut Peraturan Pemerintah No.&lt;a href="http://ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;id_topik=&amp;amp;id_jenis=3000&amp;amp;p_tgl=tahun&amp;amp;tahun=&amp;amp;nomor=&amp;amp;q=tanah%20dan%20bangunan&amp;amp;q_do=macth&amp;amp;cols=isi&amp;amp;hlm=1&amp;amp;page=show&amp;amp;id=113#"&gt;48 Tahun 1994&lt;/a&gt; bahwa si notaris sebelum menandatangani akta harus meyakinkan bahwa si penjual membayar &lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/2009/01/cash-basis-bagi-penjual-tanah.html"&gt;PPh Final sebesar 5%&lt;/a&gt;. Akad jual beli belum terjadi. Mungkin si pembeli sedang mengumpulkan uangnya atau ada alasan lain. Nah, karena jual beli sebenarnya belum jadi, maka bisa jadi perikatan tersebut bubar. Artinya pembeli tidak jadi beli tanah tersebut. Inilah kondisi "transaksi yang dibatalkan". PPh Final yang telah dibayar tadi oleh pembayar PPh bisa diresitusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meminta kembali PPh yang telanjur dibayar,&amp;nbsp;Peraturan Direktur Jenderal Pajak No.&amp;nbsp;&lt;a href="http://ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;hlm=1&amp;amp;page=show&amp;amp;id=14641"&gt;PER-5/PJ/2011&lt;/a&gt;&amp;nbsp;memberi petunjuk bahwa Wajib Pajak dapat mengirim permohonan ke KPP terdaftar dengan menggunakan format beriktut :&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-4puYCWn8dPg/TZNE429IZ8I/AAAAAAAAAO8/YlQfDDQR0VY/s1600/LampiranPER5.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://4.bp.blogspot.com/-4puYCWn8dPg/TZNE429IZ8I/AAAAAAAAAO8/YlQfDDQR0VY/s640/LampiranPER5.jpg" width="417" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain karena kesalahan sendiri, telanjur bayar,&amp;nbsp;Peraturan Direktur Jenderal Pajak No.&amp;nbsp;&lt;a href="http://ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;hlm=1&amp;amp;page=show&amp;amp;id=14641"&gt;PER-5/PJ/2011&lt;/a&gt;&amp;nbsp;juga mengatur karena kesalahan orang lain, yaitu kesalahan pemotongan atau pemungutan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a.] yang diterima oleh bukan subjek pajak;&lt;br /&gt;[b.] yang seharusnya tidak dipotong atau tidak dipungut;&lt;br /&gt;[b.] yang mengakibatkan Pajak Penghasilan yang dipotong atau dipungut lebih besar daripada Pajak Penghasilan yang seharusnya dipotong atau dipungut; atau&lt;br /&gt;[c.] karena kesalahan penerapan ketentuan oleh pemotong atau pemungut.&lt;br /&gt;[d.]&amp;nbsp;bukan merupakan objek Pajak Penghasilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, jika salah pemotongan atau pemungutan maka pelaksanaan restitusi harus dilakukan oleh pihak yang memotong atau memungut (pemberi penghasilan). Tetapi jika pihak pemotong atau pemungut ternyata sudah dibubarkan maka restitusi boleh dilakukan oleh pihak penerima penghasilan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-3047569880917541629?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/3047569880917541629/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/restitusi-pph-bukan-objek.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/3047569880917541629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/3047569880917541629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/restitusi-pph-bukan-objek.html' title='Restitusi PPh bukan objek'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-4puYCWn8dPg/TZNE429IZ8I/AAAAAAAAAO8/YlQfDDQR0VY/s72-c/LampiranPER5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-5857296812046203757</id><published>2011-03-28T10:39:00.001+07:00</published><updated>2011-03-28T10:39:51.814+07:00</updated><title type='text'>TKI di luar negeri</title><content type='html'>Minggu ini hampir semua Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di seluruh Indonesia sedang &amp;quot;hajatan&amp;quot;. Banyak  KPP yang memasang tenda yang mengantisipasi lonjakan Wajib Pajak yang datang ke KPP terdekat. Dengan sistem dropbox, Wajib Pajak bisa menyampaikan SPT dimana saja, tidak perlu di KPP terdaftar tapi bisa di KPP terdekat atau ..... terjauh jika sedang dalam perjalanan. Bukan hanya di KPP, dropbox pun disediakan di pusat-pusat keramaian.&lt;br&gt; &lt;br&gt;Antusias menyampaikan SPT ternyata bukan hanya Wajib Pajak Dalam Negeri. Bahkan banyak juga para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang mencari penghidupan di negeri orang bersiap-siap menyampaikan SPT. Setidaknya ini terpantau dari beberapa email yang masuk ke saya dan banyaknya pertanyaan di milis perpajakan. Padahal berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. PER-2/PJ/2009 tentan perlakuan PPh bagi tenaga kerja di Luar Negeri bahwa orang pribadi WNI yang bekerja di Luar Negeri lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam 12 (dua belas) bulan merupakan subjek pajak luar negeri.&lt;br&gt; &lt;br&gt;Jika sudah jelas merupakan subjek pajak luar negeri maka status orang pribadi tersebut jadi Wajib Pajak Luar Negeri (WPLN). Administrasi perpajakan hanya menjangkau Wajib Pajak Dalam Negeri (WPDN). Kenapa? Karena memang WPLN itu seperti orang lain. Semua penduduk bumi yang jumlahnya milyaran orang merupakan subjek pajak. Setiap subjek pajak tersebut dibagi dua, yaitu subjek pajak dalam negeri dan subjek pajak luar negeri. Subjek pajak dalam negeri menurut UU PPh adalah mereka yang tinggal (berada di Indonesia) selama 183 hari dalam 12 bulan. Jika kita lahir di Indonesia, maka subjek pajak sudah melekat sejak lahir karena memang berada di Indonesia terus. Hal ini diatur di Pasal 2A UU PPh.&lt;br&gt; &lt;br&gt;Karena itu, saya selalu menganjurkan untuk para TKI di luar negeri untuk meminta penghapusan NPWP ke KPP terdaftar. Bukan berarti saya kontra dengan DJP tetapi memang aturan yang berlaku begitu, bahwa jika TKI bekerja di Luar Negeri lebih dari 183 hari maka jadi subjek pajak luar negeri. Artinya mereka sebenarnya sudah WPLN. Jika WPLN masih memiliki penghasilan dari Indonesia meka berlaku aturan di Pasal 26, yaitu dipotong dan disetornya PPh Pasal 26 oleh pihak pemberi penghasilan sebesar 20%. Mungkin dari kacamata umum terlihat aneh jika &amp;quot;orang Indonesia&amp;quot; menjadi WPLN dan dipotong PPh Pasal 26! &lt;br&gt; &lt;br&gt;Hanya saja, banyak juga yang berpendapat bahwa &amp;quot;orang Indonesia&amp;quot; hanya bisa menghapus NPWP jika meninggal dunia. Menurut Pasal 2A UU PPh memang kewajiban subjektif dari orang pribadi subjek pajak dalam negeri &lt;b&gt;akan berakhir&lt;/b&gt; pada saat meninggal dunia atau meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya. Untuk syarat pertama, meninggal dunia, saya yakin tidak ada perdebatan. Tetapi syarat kedua, meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya terjadi perdebatan. Salah satu yang memberatkan adalah ,&amp;quot;Bagaimana meyakinkan orang pribadi tersebut tidak akan kembali lagi ke Indonesia?&amp;quot;&lt;br&gt; &lt;br&gt;Terlepas pada perdebatan tersebut, jika TKI di luar negeri tidak boleh menghapus NPWP maka saya anjurkan untuk me&amp;quot;non-efektif&amp;quot;-kan NPWP tersebut. Biasa di kantor pajak disebut NE. Status NE memang tidak menghapus NPWP tetapi ada keuntungan bagi Wajib Pajak yang tidak menyampaikan yaitu tidak diterbitkan Surat Teguran. Secara umum boleh juga dibaca bahwa &lt;b&gt;WP NE boleh tidak menyampaikan SPT&lt;/b&gt;. Tata cara penanganan Wajib Pajak non-efektif diatur di Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak No. &lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;SE - &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;id_topik=&amp;amp;id_jenis=&amp;amp;p_tgl=tahun&amp;amp;tahun=2009&amp;amp;nomor=89&amp;amp;q=&amp;amp;q_do=macth&amp;amp;cols=isi&amp;amp;hlm=1&amp;amp;page=show&amp;amp;id=13928"&gt;89/PJ/2009&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;. Silakan diunduh jika ingin membaca secara utuh.&lt;br&gt; &lt;br&gt;Saya kutip aturan-aturan terkait TKI di Luar Negeri :&lt;br&gt;  &lt;blockquote style="margin: 0pt 0pt 0pt 0.8ex; border-left: 1px solid rgb(204, 204, 204); padding-left: 1ex;" class="gmail_quote"&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;2. Wajib Pajak dinyatakan sebagai WP NE apabila memenuhi salah satu kriteria sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;a. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;selama 3 (tiga) tahun berturut-turut tidak pernah melakukan pemenuhan kewajiban perpajakan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;baik berupa pembayaran pajak maupun penyampaian SPT Masa dan/atau SPT Tahunan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;b. &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;tidak diketahui/ditemukan lagi alamatnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;c.  &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Wajib Pajak orang pribadi yang telah meninggal dunia tetapi belum diterima pemberitahuan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;tertulis secara resmi dari ahli warisnya atau belum mengajukan penghapusan NPWP.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;d. &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;secara nyata tidak menunjukkan adanya kegiatan usaha.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;e. &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;bendahara tidak melakukan pembayaran lagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;f.  &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Wajib Pajak badan yang telah bubar tetapi belum ada Akte Pembubarannya atau belum ada &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;penyelesaian likuidasi (bagi badan yang sudah mendapat pengesahan dari instansi yang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;berwenang).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;g. &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Wajib Pajak orang pribadi yang bertempat tinggal atau berada atau bekerja di luar negeri lebih &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;dari 183 dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;  &lt;br&gt;Tulisan ditebalkan (di&lt;i&gt;bold&lt;/i&gt;) oleh saya karena terkait dengan TKI di Luar Negeri. Berikut syarat-syarat permohonan untuk menjadi Wajib Pajak Non Efektif ke KPP. &lt;br&gt;&lt;blockquote style="margin: 0pt 0pt 0pt 0.8ex; border-left: 1px solid rgb(204, 204, 204); padding-left: 1ex;" class="gmail_quote"&gt; &lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Wajib Pajak yang memenuhi kriteria sebagaimana dimaksud pada angka 2 huruf d, huruf e, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;huruf f dan &lt;b style=""&gt;huruf g mengajukan permohonan sebagai WP NE ke KPP, dengan melampirkan &lt;/b&gt;: &lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;1) surat pernyataan sudah tidak lagi melakukan kegiatan usaha, bagi Wajib Pajak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;sebagaimana dimaksud pada angka 2 huruf d, dengan menggunakan formulir &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;sebagaimana contoh pada Lampiran II Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;2)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;surat pernyataan sudah tidak melakukan pembayaran, bagi Wajib Pajak sebagaimana &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;dimaksud pada angka 2 huruf e, dengan menggunakan formulir sebagaimana contoh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;pada Lampiran II Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;3)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;surat keterangan dalam proses pembubaran atau likuidasi dari Notaris, bagi Wajib &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pajak sebagaimana dimaksud pada angka 2 huruf f.&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;4)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;fotokopi passpor dan kontrak kerja atau dokumen yang menyatakan bahwa Wajib &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pajak berada di luar negeri lebih dari 183 hari dalam dalam jangka waktu 12 (dua &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;belas) bulan, bagi Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada angka 2 huruf g.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br clear="all"&gt;Semoga bermanfaat&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-5857296812046203757?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/5857296812046203757/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/tki-di-luar-negeri.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/5857296812046203757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/5857296812046203757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/tki-di-luar-negeri.html' title='TKI di luar negeri'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-2632669407067659744</id><published>2011-03-17T10:28:00.000+07:00</published><updated>2011-03-17T10:28:45.769+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spanduk'/><title type='text'>Kewajiban pelaporan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh5.googleusercontent.com/-OQJqwcpyCN0/TYF_vOBzh8I/AAAAAAAAAO4/0B_orOSLpzA/s1600/punya+NPWP.bmp" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="https://lh5.googleusercontent.com/-OQJqwcpyCN0/TYF_vOBzh8I/AAAAAAAAAO4/0B_orOSLpzA/s400/punya+NPWP.bmp" width="308" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-2632669407067659744?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/2632669407067659744/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/kewajiban-pelaporan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/2632669407067659744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/2632669407067659744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/kewajiban-pelaporan.html' title='Kewajiban pelaporan'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh5.googleusercontent.com/-OQJqwcpyCN0/TYF_vOBzh8I/AAAAAAAAAO4/0B_orOSLpzA/s72-c/punya+NPWP.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-7183678369095482131</id><published>2011-03-17T10:10:00.000+07:00</published><updated>2011-03-17T10:10:35.363+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spanduk'/><title type='text'>batas waktu penyampaian SPT</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh6.googleusercontent.com/-fef7qoA1avE/TYF7iZ6TiZI/AAAAAAAAAO0/wVxU3htmAMQ/s1600/lapor+spt.bmp" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="95" src="https://lh6.googleusercontent.com/-fef7qoA1avE/TYF7iZ6TiZI/AAAAAAAAAO0/wVxU3htmAMQ/s400/lapor+spt.bmp" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-7183678369095482131?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/7183678369095482131/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/batas-waktu-penyampaian-spt.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7183678369095482131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7183678369095482131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/batas-waktu-penyampaian-spt.html' title='batas waktu penyampaian SPT'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh6.googleusercontent.com/-fef7qoA1avE/TYF7iZ6TiZI/AAAAAAAAAO0/wVxU3htmAMQ/s72-c/lapor+spt.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-5221945663879052551</id><published>2011-03-15T16:20:00.001+07:00</published><updated>2011-11-29T23:04:56.572+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BUT'/><title type='text'>Pentingnya NPWP bagi BUT</title><content type='html'>Bentuk usaha tetap [BUT] adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia. Menurut Pasal 2 ayat (4) UU PPh, orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia merupakan subjek pajak luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NPWP adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya [UU KUP]. Saya tidak tahu pasti, kenapa pengertian NPWP di UU KUP hanya dalam lingkup Wajib Pajak. Padahal Wajib Pajak itu bisa Wajib Pajak Dalam Negeri [WPDN] dan Wajib Pajak Luar Negeri [WPLN]. Adakah Wajib Pajak Luar Negeri yang memiliki NPWP?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WPLN dikenakan pajak hanya sebatas penghasilan yang berasal dari Indonesia. Tidak berlaku &lt;i&gt;world wide income &lt;/i&gt;seperti WPDN yang mewajibkan melaporkan dan memperhitungkan penghasilan baik yang diterima di dalan negeri maupun luar negeri. WPLN juga tidak wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan [SPT] karena kewajiban perpajakannya diserahkan kepada pemberi penghasilan di Indonesia. Kewajiban pemotongan ini diatur di Pasal 26 UU PPh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi jika WPLN yang memiliki "bentuk usaha" maka WPLN menjadi harus mengurus dirinya sendiri. Harus punya NPWP dan harus lapor &amp;nbsp;SPT. Bunyi dari bagian penjelasan Pasal 2 ayat (3) UU PPh bahwa BUT &lt;b&gt;dipersamakan dengan&lt;/b&gt; kewajiban WP Badan Dalam Negeri. Dipersamakan artinya tidak sama. Satu sisi beda tetapi sisi lain sama. Sisi yang beda adalah status subjek tetap subjek pajak luar negeri. Sisi yang sama adalah kewajibannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dipersamakan dengan WPDN Badan maka mitra bisnis di Indonesia menganggap BUT sebagai WPDN sama dengan si mitra. Contoh: jika BUT memberikan jasa konsultansi ke PT Abadijaya maka PT Abadi jaya akan memotong PPh Pasal 23 saat membayar jasa konsultansi. Bukan memotong PPh Pasal 26 karena dipersamakan dengan WPDN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi dengan dipersamakan dengan WPDN adalah DJP dapat menetapkan ketetapan pajak dan melakukan proses penagihan pajak kepada BUT. Sedangkan jika bukan BUT tentu saja DJP tidak dapat menagih pajak karena Wajib Pajak tidak ada dan tidak diadministrasikan di Indonesia. Kemana jurus sita menyita barang milik wajib pajak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-5221945663879052551?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/5221945663879052551/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/pentingnya-npwp-bagi-but.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/5221945663879052551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/5221945663879052551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/pentingnya-npwp-bagi-but.html' title='Pentingnya NPWP bagi BUT'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-8356152545803724808</id><published>2011-03-15T16:16:00.000+07:00</published><updated>2011-03-15T16:16:44.712+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tax Treaty'/><title type='text'>Beneficial Owner</title><content type='html'>Apa itu Beneficial Owner (BO)? Beriktu ini catatan saya dari salah satu salinan putusan pengadilan pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah BO di &lt;i&gt;tax treaty&lt;/i&gt; mempunyai makna yang tidak berlandaskan kepada pengertian hukum atau formal, melainkan mengandung makna ekonomis. Atau melihat kepada substansi. Hal ini sejalan dengan prinsip "&lt;i&gt;substance over-form&lt;/i&gt;" atau asas material.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OECD menggunakan pengertian negatif yang menjelaskan karakter &lt;b&gt;BO&lt;/b&gt; yaitu :&lt;br /&gt;[1.] &lt;b&gt;&lt;span style="color: orange;"&gt;bukan&lt;/span&gt; agent&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;[2.] &lt;b&gt;&lt;span style="color: orange;"&gt;bukan&lt;/span&gt; nominee&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;[3.] &lt;b&gt;&lt;span style="color: orange;"&gt;bukan&lt;/span&gt; mere fiduciary&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;[4.] &lt;b&gt;&lt;span style="color: orange;"&gt;bukan&lt;/span&gt; administrator&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;[5.] &lt;b&gt;&lt;span style="color: orange;"&gt;bukan&lt;/span&gt; conduit company&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian ini mirip dengan pengertian di PER-25/PJ/2010 bahwa&amp;nbsp; pemilik yang sebenarnya atas manfaat ekonomis dari penghasilan (BO) adalah penerima penghasilan yang :&lt;br /&gt;a. bertindak &lt;span style="color: red;"&gt;tidak&lt;/span&gt; sebagai Agen;&lt;br /&gt;b. bertindak &lt;span style="color: red;"&gt;tidak&lt;/span&gt; sebagai Nominee; dan&lt;br /&gt;c. &lt;span style="color: red;"&gt;bukan&lt;/span&gt; Perusahaan Conduit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan menurut Klaus Vogel bahwa BO orang yang bebas memutuskan tentang suatu modal dan harta dan atau hasil dari harta atau modal tersebut. &lt;b&gt;Conduit company&lt;/b&gt; meskipun merupakan pemilik penghasilan secara formal tetapi bukan merupakan BO jika didalam praktek ia mempunyai kekuasaan yang sempit atas penghasilan tesebut, seperti hanya sebagai orang yang diberi kepercayaan belaka atau sebagai pengadministrasi yang bertindak untuk pihak yang berkepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa BO penting?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tidak cukup dengan SKD (surat keterangan domisili) untuk memanfaatkan penurunan tarif sesuai &lt;i&gt;tax treaty&lt;/i&gt;. Memang, untuk menggunakan &lt;i&gt;tax treaty&lt;/i&gt; harus ada SKD. Menurut Pasal 3 ayat (2) PER-25/PJ/2010 bahwa kriteria &lt;i&gt;beneficial owner&lt;/i&gt;&amp;nbsp; &lt;b&gt;hanya diterapkan&lt;/b&gt; untuk penghasilan yang di dalam pasal P3B terkait memuat persyaratan &lt;i&gt;beneficial owner&lt;/i&gt;. Artinya, tidak semua pasal di &lt;i&gt;tax treaty &lt;/i&gt;memerlukan persyaratan BO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ambil contoh Pasal 1&lt;i&gt; &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=treaty&amp;amp;page=show&amp;amp;id=71&amp;amp;q=&amp;amp;hlm=&amp;amp;isi=1"&gt;Tax Treaty&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; yang biasanya berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;This Convention is applicable to persons who are residents of one or both of the Contracting States.&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;Bukti seorang &lt;i&gt;person&lt;/i&gt; sebagai &lt;i&gt;resident &lt;/i&gt;suatu negara adalah SKD atau CoD. Bukti formal berupa SKD perlu untuk memanfaatkan &lt;i&gt;tax treaty&lt;/i&gt;. Jika pemberi penghasilan (WPDN) dari Indonesia&lt;span style="color: red;"&gt; tidak bisa&lt;/span&gt; mendapatkan SKD dari mitra bisnis dari Luar Negeri maka WPDN wajib memotong PPh berdasarkan Pasal 26 UU PPh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi SKD saja belum cukup. Penurunan tarif PPh ternyata diberikan hanya kepada BO, bukan &lt;i&gt;resident&lt;/i&gt;.&amp;nbsp; Walaupun sudah ada SKD, tetapi jika &lt;span style="color: red;"&gt;bukan BO&lt;/span&gt;, maka tetap tidak bisa memanfaatkan tarif &lt;i&gt;tax treaty&lt;/i&gt;. Besaran tarif yang digunakan kembali ke Pasal 26 UU PPh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh berikut saya kutif ketentuan&lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=treaty&amp;amp;page=show&amp;amp;id=71&amp;amp;q=&amp;amp;hlm=&amp;amp;isi=1"&gt;&lt;i&gt; tax treaty&lt;/i&gt;&lt;/a&gt; Indonesia dengan USA terkait BO :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;However, if the &lt;b style="color: blue;"&gt;beneficial owner&lt;/b&gt; of the dividends is a resident of the other  Contracting State, the tax charged by the first-mentioned State may not exceed:&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;The rate of tax imposed by one of the Contracting States on interest derived  from sources within that Contracting State and &lt;b style="color: blue;"&gt;beneficially owned&lt;/b&gt; by a resident  of the other Contracting State shall not exceed 10 percent of the gross amount  of such interest.&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Pasal 13 &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;The rate of tax imposed by a Contracting State on royalties derived from sources  within that Contracting State and &lt;b style="color: blue;"&gt;beneficially owned&lt;/b&gt; by a resident of the other  Contracting State shall not exceed 10 percent of the gross amount of royalties  described in paragraph 3.&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;b&gt;Menentukan BO &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara menentukan seorang &lt;i&gt;resident&lt;/i&gt; merupakan BO atau bukan BO adalah dengan menentukan &lt;b&gt;kegiatan ekonomis&lt;/b&gt;. Kegiatan ekonomis bisa terlihat dari Laporan Keuangan. Setidaknya ada dua indikasi yang perlu "dipotret" :&lt;br /&gt;1. aktivitas &lt;i&gt;resident&lt;/i&gt; di luar negeri &lt;br /&gt;2. biaya yang terjadi di negara sesuai SKD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi untuk melihat secara lengkap, apakah kita bisa menggunakan ketentuan &lt;i&gt;tax treaty&lt;/i&gt; atau tidak, bisa mengacu ke &lt;span style="color: blue;"&gt;Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;id_topik=&amp;amp;id_jenis=6050&amp;amp;p_tgl=tahun&amp;amp;tahun=&amp;amp;nomor=25&amp;amp;q=&amp;amp;q_do=macth&amp;amp;cols=isi&amp;amp;hlm=1&amp;amp;page=show&amp;amp;id=14246" style="color: blue;"&gt;PER-25/PJ.2010&lt;/a&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;. &lt;span style="color: black;"&gt;Saya kutip beberapa yang dianggap penting :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;a. Individu yang bertindak &lt;span style="color: red;"&gt;tidak&lt;/span&gt; sebagai Agen atau Nominee;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;b. lembaga yang namanya disebutkan secara tegas dalam P3B atau yang telah disepakati oleh pejabat yang berwenang di Indonesia dan di negara mitra P3B;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;c. WPLN yang menerima atau memperoleh penghasilan melalui Kustodian sehubungan dengan penghasilan dari transaksi pengalihan saham atau obligasi yang diperdagangkan atau dilaporkan di pasar modal di Indonesia, selain bunga dan dividen, dalam hal WPLN bertindak &lt;span style="color: red;"&gt;tidak&lt;/span&gt; sebagai Agen atau sebagai Nominee;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;d. perusahaan yang sahamnya terdaftar di Pasar Modal dan diperdagangkan secara teratur;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;e. dana pensiun yang pendiriannya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di negara mitra P3B dan merupakan subjek pajak di negara mitra P3B;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;f. bank; atau&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;g. &lt;span style="color: blue;"&gt;perusahaan&lt;/span&gt; yang memenuhi persyaratan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;[1.] bagi perusahaan yang menerima atau memperoleh penghasilan yang di dalam pasal P3B terkait &lt;b&gt;tidak mengatur&lt;/b&gt; persyaratan &lt;i&gt;beneficial owner&lt;/i&gt;, yaitu : pendirian perusahaan atau pengaturan struktur/skema transaksi tidak semata-mata ditujukan untuk pemanfaatan P3B;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;[2.] bagi perusahaan yang menerima atau memperoleh penghasilan yang di dalam pasal P3B terkait &lt;b&gt;mengatur persyaratan&lt;/b&gt; &lt;i&gt;beneficial owner&lt;/i&gt;, yaitu :&lt;br /&gt;[2.a.] pendirian perusahaan atau pengaturan struktur/skema transaksi tidak semata-mata ditujukan untuk pemanfaatan P3B; &lt;span style="color: cyan;"&gt;dan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;[2.b.] kegiatan usaha dikelola oleh manajemen sendiri yang mempunyai kewenangan yang cukup untuk menjalankan transaksi; &lt;span style="color: cyan;"&gt;dan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;[2.c.] perusahaan mempunyai pegawai; &lt;span style="color: cyan;"&gt;dan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;[2.d.] mempunyai &lt;b&gt;kegiatan atau usaha aktif&lt;/b&gt;; &lt;span style="color: cyan;"&gt;dan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;[2.e.] penghasilan yang bersumber dari Indonesia terutang pajak di negara penerimanya; &lt;span style="color: cyan;"&gt;dan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;[2.f.] tidak menggunakan lebih dari 50% (lima puluh persen) dari total penghasilannya untuk memenuhi kewajiban kepada pihak lain dalam bentuk, seperti : bunga, royalti, atau imbalan lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-8356152545803724808?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/8356152545803724808/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/beneficial-owner.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/8356152545803724808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/8356152545803724808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/beneficial-owner.html' title='Beneficial Owner'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-3947465098737250026</id><published>2011-03-15T14:34:00.000+07:00</published><updated>2011-03-15T14:34:56.990+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DJP'/><title type='text'>Laporan Tahunan DJP</title><content type='html'>DJP sejak 2007 sudah memposisikan diri sebagai institusi yang reformis. Banyak sektor yang sudah mengalami perubahan. Pihak pegawai sendiri selalu melakukan &lt;i&gt;cut off &lt;/i&gt;kapan "jahiliah" kapan modern. Tentu saja garis batas tersebut tidak serta merta membuat semuanya sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butuh proses untuk menjadi institusi yang modern. Mungkin kasus Gayus bisa menjadi pemicu bagi internal DJP untuk selalu melakukan perubahan. Publik boleh saja memiliki persepsi berbeda. Tetapi banyak pegawai DJP yang ingin membuktikan dengan prestasi. Tidak dengan debat kusir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bentuk perubahan adalah dipublikasikannya &lt;a href="http://www.pajak.go.id/dmdocuments/ANUAL-REPORT-TAHUN-2009.zip"&gt;Laporan Tahunan DJP&lt;/a&gt; atau &lt;i&gt;Annual Report&lt;/i&gt;. Saya sangat setuju jika DJP setiap tahun mempublikasi kinerja. Biarkan masyarakat Wajib Pajak &lt;b&gt;mengenal DJP&lt;/b&gt;. Biarkan masyarakat menilai, apa yang sudah dilakukan DJP? Mudah-mudahan masyarakat akan lebih proporsional menilai DJP!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi DJP sebenarnya administrator pajak. DJP merupakan lembaga administrasi perpajakan. Ukuran keberhasilan DJP harusnya diukur dengan penerimaan pajak. Silakan menilai kinerja DJP berikut yang saya &lt;i&gt;crop&lt;/i&gt; dari halaman 35 Laporan Tahunan DJP :&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh3.googleusercontent.com/-u6H_cVycF_A/TX8WS5uMjYI/AAAAAAAAAOw/ejqq8U7Cxoc/s1600/KinerjaDJP.bmp" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="232" src="https://lh3.googleusercontent.com/-u6H_cVycF_A/TX8WS5uMjYI/AAAAAAAAAOw/ejqq8U7Cxoc/s400/KinerjaDJP.bmp" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-3947465098737250026?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/3947465098737250026/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/laporan-tahunan-djp.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/3947465098737250026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/3947465098737250026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/laporan-tahunan-djp.html' title='Laporan Tahunan DJP'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh3.googleusercontent.com/-u6H_cVycF_A/TX8WS5uMjYI/AAAAAAAAAOw/ejqq8U7Cxoc/s72-c/KinerjaDJP.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-1168861957546397486</id><published>2011-03-14T13:43:00.003+07:00</published><updated>2011-03-14T16:10:01.556+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Reformasi Pengadilan Pajak</title><content type='html'>Salah satu agenda yang harus dijalankan adalah pemisahan yang tegas antar fungsi-fungsi yudikatif dari eksekutif. Kalimat tersebut saya kutip dari penjelasan UU No. 35 Tahun 1999. Di paragrap selanjutnya disebutkan, "pembinaan lembaga peradilan yang selama ini dilakukan oleh eksekutif dianggap memberi peluang bagi penguasa melakukan intervensi ke dalam proses peradilan serta berkembangnya kolusi dan praktek-praktek negatif pada proses peradilan." Sayang sekali, agenda reformasi dibidang hukum tadi belum menyentuh pengadilan pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengadilan pajak saat ini masih dibawah kementrian keuangan. Menurut Pasal 5 UU No. 14 Tahun 2002 bahwa pembinaan teknis&amp;nbsp; pengadilan pajak dilakukan oleh Mahkamah Agung, tetapi pembinaan organisasi, administrasi, dan keuangan dilakukan oleh Kementrian Keuangan. Padahal, bentuk reformasi di bidang hukum adalah memindahkan organisasi, administrasi, dan finansial dari badan-badan peradilan yang semula berada di bawah kekuasaan masing-masing departemen (sekarang kementrian) yang bersangkutan menjadi berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung. Artinya, saat ini struktur pengadilan pajak belum reformis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana jika pengadilan pajak dikembalikan kepada semangat reformasi di bidang hukum? Serahkan organisasi, administrasi, dan keuangan pengadilan pajak kepada Mahkamah Agung. Mungkin bisa dimasukkan sebagai pengadilan khusus di peradilan tata usaha negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini putusan pengadilan pajak dianggap putusan pengadilan khusus di lingkungan peradilan tata usaha negara. Hal ini ditegaskan di Pasal 27 ayat (2) UU KUP. Putusannya memang sudah dimasukkan sebagai peradilan tata usaha negara, tetapi masalah keuangan, administrasi, dan organisasi masih menginduk ke Kementrian Keuangan. Ini ibarat kepala ada di Mahkamah Agung tapi leher kebawah berada di Kementrian Keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah kemauan Kementrian Keuangan untuk mereformasi pengadilan pajak? Ini pertanyaan sentral. Kemauan ini harus berada di tingkat kementrian karena melibatkan dua institusi, yaitu pengadilan pajak dan DJP. Proses pengadilan sengketa pajak dimulai dari proses keberatan di DJP. Kemudian banding di pengadilan pajak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa, jika pihak kementrian sudah mengintruksikan pencabutan "pengadilan semu" sengketa pajak ke peradilan tata usaha negara maka DJP tidak bisa menolak. Secara strukturan, DJP harus tunduk pada kebijakan yang dikeluarkan pihak kementrian. Walaupun demikian, pemindahan pengadilan semu sengketa pajak ke peradilan tata usaha negara akan lebih baik bagi DJP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekurang-kurangnya ada tiga keuntungan yang akan diraih DJP jika melepas kewenangan proses keberatan :&lt;br /&gt;[1.] Memperlihatkan bahwa DJP mau mereformasi diri.&lt;br /&gt;Fungsi utama DJP sebenarnya sebagai administrator pajak. Menteri Keuangan sudah memutuskan untuk memberikan fungsi kebijakan fiskal 100% ke BKF, sehingga kebijakan perpajakan juga diserahkan ke BKF. Fungsi pengadilan semu juga harus dikeluarkan. Fungsi yang tersisa tinggal DJP sebagai administrator penerimaan pajak semata. Wajib Pajak pun tidak akan lagi menuduh DJP terlalu kuat!&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2.] Memberikan kesetaraan bagi Wajib Pajak.&lt;br /&gt;Sebenarnya DJP memiliki kewenangan terlalu besar. DJP menetapkan pajak terutang. DJP juga memutus sengketa atas pajak terutang, walaupun di tingkat keberatan.&amp;nbsp; Pada saat menghitung pajak, pemeriksa berlandaskan "demi penerimaan". Pada saat memutuskan sengketa, penelaah keberatan juga berlandaskan "demi penerimaan". Akibatnya, Wajib Pajak diperlakukan tidak proporsional karena semua berlandaskan "demi penerimaan". Jika proses keberatan diserahkan pada PTUN, PT TUN dan MA maka Wajib Pajak dan DJP memiliki posisi setara memperjuangkan hak dan kewenangannya. Ada pihak yang independen dan merdeka memutuskan sengketa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3.] Meningkatkan profesional pemeriksa pajak.&lt;br /&gt;Pejabat fungsional pemeriksa pajak tentu akan berpikir ulang jika mereka menghitung pajak berdasarkan "kehendaknya semata". Jika proses keberatan dan banding diserahkan pada peradilan tata usaha negara maka pemeriksa tentu akan selalu berpikir, "Bagaimana mempertahankan argumentasi saya di peradilan tata usaha negara?". Kondisi ini akan menghapus arogansi pemeriksa pajak karena sangat rentan ketetapannya dibatalkan oleh PTUN. Maksud arogansi pemeriksa pajak adalah penafsiran peraturan secara sepihak! Efeknya tentu menghilangkan citra buruk bagi DJP. Wajib Pajak akan merasa setara dengan pemeriksa pada saat pemeriksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga ada perubahan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-1168861957546397486?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/1168861957546397486/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/reformasi-pengadilan-pajak.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/1168861957546397486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/1168861957546397486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/reformasi-pengadilan-pajak.html' title='Reformasi Pengadilan Pajak'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-3714014132024652888</id><published>2011-03-11T15:03:00.001+07:00</published><updated>2011-03-11T15:08:26.993+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>tax ratio</title><content type='html'>Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa &lt;i&gt;tax ratio&lt;/i&gt; kita pernah sampai 18,54%. Pemberitaan selama ini, &lt;i&gt;tax ratio&lt;/i&gt; Indonesia sekitar 12%.&amp;nbsp; Tahun ini pemerintah dan DPR menetapkan &lt;a href="http://economy.okezone.com/index.php/ReadStory/2010/09/21/20/374510/tax-ratio-12-5-belum-termasuk-pajak-daerah"&gt;tax ratio sebesar 12,5%&lt;/a&gt;. Tetapi &lt;i&gt;tax ratio&lt;/i&gt; ini tidak termasuk pajak daerah. Jadi kalau dimasukkan pajak daerah berapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tax ratio&lt;/i&gt; adalah perbandingan penerimaan pajak dengan produk domestik bruto (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Produk_domestik_bruto"&gt;PDB&lt;/a&gt;). &lt;i&gt;Tax ratio&lt;/i&gt; seringkali menjadi ukuran kinerja sektor perpajakan. Hanya saja, menurut saya, seringkali sektor perpajakan yang dimaksud selalu mengacu ke &lt;a href="http://www.pajak.go.id/"&gt;DJP&lt;/a&gt;. Hal ini yang harus diluruskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum lebih lanjut, saya perjelas dulu definisi pajak. Pengertian pajak secara resmi diatur di Pasal 1 angka 1 UU KUP. Pajak&amp;nbsp; adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sedangkan menurut &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pajak"&gt;wikipedia&lt;/a&gt;, pajak adalah&amp;nbsp; iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang —sehingga dapat dipaksakan— dengan tiada mendapat balas jasa secara langsung. Ada juga ahli ekonomi yang memberi definisi bahwa pajak adalah pendapatan yang berasal dari sektor privat yang dipindahkan ke sektor publik.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengertian diatas, saya mengambil pengertian yang sederhana bahwa pajak adalah pendapatan negara. Di struktur &lt;a href="http://www.fiskal.depkeu.go.id/"&gt;APBN&lt;/a&gt; kita, pendapatan negara terdiri dari tiga : pendapatan perpajakan, pendapatan bukan pajak, dan hibah. Untuk yang terakhir, saya setuju bahwa &lt;span style="color: red;"&gt;hibah tidak termasuk pajak&lt;/span&gt;. Tetapi penerimaan bukan perpajakan yang dimaksud di &lt;a href="http://www.fiskal.depkeu.go.id/2010/"&gt;APBN&lt;/a&gt; jika dikembalikan pada pengertian pajak, maka substansinya pajak juga walaupun &lt;b&gt;secara istilah&lt;/b&gt; bukan pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pemahaman seperti itu (semua pendapatan negara kecuali hibah merupakan pajak) maka &lt;i&gt;tax ratio&lt;/i&gt; menurut &lt;a href="http://www.fiskal.depkeu.go.id/2010/"&gt;APBN 2011&lt;/a&gt; sebesar 15,69%. Kapan &lt;i&gt;tax ratio&lt;/i&gt; mencapai 18,54%? Silakan perhatikan tabel dibawah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh5.googleusercontent.com/-RoZg3FhpbLM/TXnXMdvGJdI/AAAAAAAAAOs/soA06lBD_Xk/s1600/TaxRatio.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="238" q6="true" src="https://lh5.googleusercontent.com/-RoZg3FhpbLM/TXnXMdvGJdI/AAAAAAAAAOs/soA06lBD_Xk/s320/TaxRatio.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-3714014132024652888?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/3714014132024652888/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/tax-ratio.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/3714014132024652888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/3714014132024652888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/tax-ratio.html' title='tax ratio'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh5.googleusercontent.com/-RoZg3FhpbLM/TXnXMdvGJdI/AAAAAAAAAOs/soA06lBD_Xk/s72-c/TaxRatio.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-2639361657104469648</id><published>2011-03-11T10:10:00.000+07:00</published><updated>2011-03-11T13:51:17.221+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Objek PPN'/><title type='text'>impor JKP dan BKP TB</title><content type='html'>Impor, sesuai pengertian di kamus, merupakan pemasukan barang dari luar negeri. Persepsi selama ini, impor memang selalu hanya terkait dengan barang. Tidak ada yang disebut impor atas jasa. Tetapi saya ingin menggunakan istilah &lt;b&gt;impor&lt;/b&gt; untuk memudahkan pengertian &amp;quot;pemanfaatan&amp;quot; jasa dan barang tidak berwujud dari luar daerah pabean. Impor jasa yang sama maksud diatur di Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak No. SE-147/PJ/2010.&lt;br&gt; &lt;br&gt;Barang Kena Pajak Tidak Berwujud (BKP TB) yang berasal dari luar daerah pabean yang dimanfaatkan di dalam daerah pabean (impor BKP TB) adalah :&lt;br&gt;[a.] dimiliki oleh subjek pajak luar negeri;&lt;br&gt;[b.] kegiatan pemanfaatan dilakukan di daerah pabean; dan&lt;br&gt; [c.] dimanfaatkan oleh &lt;b&gt;siapapun&lt;/b&gt; di daerah pabean. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Jasa Kena Pajak dari luar daerah pabean yang dimanfaatkan di daerah pabean (impor JKP) adalah :&lt;br&gt;[a.] diserahkan  oleh (pemberi JKP) subjek pajak luar negeri;&lt;br&gt; [b.] kegiatan pemanfaatan di daerah pabean; dan&lt;br&gt;[c.] dimanfaatkan oleh &lt;b&gt;siapapun&lt;/b&gt; di daerah pabean.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Konseptor SE-147/PJ/2010 menghindari istilah &amp;quot;subjek pajak luar negeri&amp;quot;. Syarat yang terkait dengan kepemilikan BKP TB menggunakan istilah &amp;quot;orang pribadi atau badan yang bertempat tinggal atau berkedudukan di luar Daerah Pabean&amp;quot;. Sedangkan yang syarat yang terkait dengan pemberi JKP juga menggunakan istilah &amp;quot;orang pribadi atau badan yang bertempat tinggal atau berkedudukan di luar Daerah Pabean&amp;quot;. Tetapi khusus pemberian JKP ada satu syarat tambahan, yaitu :&lt;br&gt; &lt;blockquote style="margin: 0pt 0pt 0pt 0.8ex; border-left: 1px solid rgb(204, 204, 204); padding-left: 1ex;" class="gmail_quote"&gt;Pemberian Jasa Kena Pajak dapat dilakukan di dalam dan/atau di luar Daerah Pabean sepanjang kegiatan pemberian Jasa Kena Pajak tersebut tidak menyebabkan orang pribadi atau badan yang bertempat tinggal atau berkududukan di luar Daerah Pabean menjadi Subjek Pajak dalam negeri&lt;br&gt; &lt;/blockquote&gt;&lt;br&gt;Ditegaskan lagi :&lt;br&gt;&lt;blockquote style="margin: 0pt 0pt 0pt 0.8ex; border-left: 1px solid rgb(204, 204, 204); padding-left: 1ex;" class="gmail_quote"&gt;Dalam hal pemberian Jasa Kena Pajak yang dilakukan di dalam Daerah Pabean sebagaimana dimaksud pada angka 3 huruf b menyebabkan orang pribadi atau badan yang tertempat tinggal atau berkedudukan di luar Daerah Pabean menjadi Subjek Pajak dalam negeri, maka pemberian Jasa Kena Pajak tersebut termasuk penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean.&lt;br&gt; &lt;/blockquote&gt;&lt;div&gt;&lt;br&gt;Menurut saya, penggunaan istilah subjek pajak luar negeri akan lebih &amp;quot;enak&amp;quot;. Walaupun PPN bukan pajak subjektif dan tidak mengatur masalah subjek pajak, tetapi terkait impor JKP dan pemanfaatkan BKP TB memang melibatkan &amp;quot;subjek pajak luar negeri&amp;quot;. Seperti yang ditegaskan diatas, jika pemberi JKP merupakan subjek pajak dalam negeri maka otomatis dianggap penyerahan di dalam daerah pabean. Begitu juga, ini penafsiran saya, jika pemilik BKP TB subjek pajak dalam negeri tentu bukan impor.&lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;b&gt;Saat Terutang&lt;/b&gt;&lt;br&gt;SE-147/PJ/2010 juga mengatur saat terutang impor JKP dan BKP TB, yaitu :&lt;br&gt;[a.] secara &lt;b&gt;nyata digunakan&lt;/b&gt; oleh pihak yang memanfaatkan;&lt;br&gt;[b.] saat &lt;b&gt;dinyatan sebagai utang&lt;/b&gt; oleh pihak yang memanfaatkan;&lt;br&gt; [c.] saat &lt;b&gt;ditagih&lt;/b&gt; oleh pihak yang menyerahkan;&lt;br&gt;[d.] saat &lt;b&gt;dibayar&lt;/b&gt;, baik sebagian atau seluruhnya, oleh pihak yang memanfaatkan;&lt;br&gt;[e.] saat ditandatangani kontrak atau perjanjian atau saat lain yang ditetapkan Direktur Jenderal Pajak.&lt;br&gt; Biasanya saat terutang berlaku : mana yang lebih dulu. Jika sudah dibayar, wallaupun belum digunakan atau belum ada kontrak, maka PPN tetap sudah terutang dan wajib dibayar oleh pihak yang membayar. Tentu pihak yang membayar merupakan subjek pajak dalam negeri atau importir JKP.&lt;br&gt; &lt;br&gt;Pembayaran PPN impor JKP dan BKP TB dilakukan dengan menyetor langsung ke bank persepsi dengan menggunakan SSP. Bayarnya bukan ke kantor pajak ya! Karena subjek pajak yang tertanggung sebenarnya subjek pajak luar negeri maka NPWP yang digunakan angka 0 (nol) kecuali angka kode KPP dimana importir terdaftar. SSP ini bisa dikreditkan karena &amp;quot;disetarakan&amp;quot; dengan faktur pajak masukan.&lt;br&gt; &lt;br&gt;salaam&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-2639361657104469648?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/2639361657104469648/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/impor-jkp-dan-bkp-tb.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/2639361657104469648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/2639361657104469648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/impor-jkp-dan-bkp-tb.html' title='impor JKP dan BKP TB'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-787203697448943152</id><published>2011-03-09T10:50:00.002+07:00</published><updated>2011-03-10T20:14:16.778+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Objek PPN'/><title type='text'>DTP PPN Minyak Goreng</title><content type='html'>&lt;b&gt;A. Kebijakan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) Minyak Goreng Untuk Tahun Anggaran 2011&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka perbaikan kualitas minyak goreng yang merupakan salah satu komoditas kebutuhan pokok masyarakat banyak yang dapat memenuhi persyaratan aman untuk dikonsumsi, maka Pemerintah menetapkan program berupa minyak goreng kemasan sederhana dengan merk "&lt;b&gt;Minyakita&lt;/b&gt;" yang higienis dengan harga terjangkau bagi masyarakat banyak termasuk ekonomi lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bentuk dukungan Pemerintah terhadap program tersebut, telah ditetapkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) atas "Minyakita" untuk Tahun Anggaran 2011 dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 26/PMK011/2011 yang merupakan kelanjutan dari kebijakan serupa yang telah dimulai sejak tahun 2008. Diharapkan kebijakan PPN DTP untuk tahun 2011 ini dapat efektif sebagai instrumen stabilisasi harga minyak goreng dan meningkatkan higienitas sebagaimana telah berhasil pada tahun-tahun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;B. Kebijakan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) Minyak Goreng Curah Untuk Tahun Anggaran 2011&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diketahui harga minyak goreng pada awal tahun 2011 cenderung mengalami kenaikan. Berhubung minyak goreng merupakan salah satu komoditas kebutuhan pokok masyarakat banyak, maka dalam rangka menjaga ketersediaan dan stabilitas harga minyak goreng, Pemerintah memutuskan untuk memberikan subsidi pajak melalui PPN Ditanggung Pemerintah terhadap &lt;b&gt;minyak goreng curah&lt;/b&gt; untuk Tahun Anggaran 2011 untuk masyarakat ekonomi lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 29/PIVIK011/2011 tentang Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah atas Penyerahan Minyak Goreng Sawit Curah di Dalam Negeri untuk Tahun Anggaran 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disalin dari : Keterangan Pers, Paket Kebijakan Februari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-787203697448943152?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/787203697448943152/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/dtp-ppn-minyak-goreng.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/787203697448943152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/787203697448943152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/dtp-ppn-minyak-goreng.html' title='DTP PPN Minyak Goreng'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-3191810884253409149</id><published>2011-03-09T10:15:00.002+07:00</published><updated>2011-03-10T20:13:49.509+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Objek PPN'/><title type='text'>PMK Jasa Maklon</title><content type='html'>Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor  30/PMK03/2011 tentang Perubahan Atas PMK Nomor 70/PMK03/201 0 tentang  Batasan Kegiatan dan Jenis Jasa Kena Pajak Yang Atas Ekspornya dikenai  Pajak Pertambahan Nilai (PPN).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud dari PMK tentang Perubahan Atas PMK Nomor 70/PMK,03/2010 tentang Batasan Kegiatan dan Jenis Jasa Kena Pajak Yang Atas Ekspornya dikenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah untuk memberikan perlakuan yang setara (&lt;i&gt;equal treatment&lt;/i&gt;) antara kegiatan usaha jasa maklon (&lt;i&gt;toll manufacturing/contract manufacturing&lt;/i&gt;) dengan kegiatan usaha manufaktur pada umumnya (&lt;i&gt;full manufacturing&lt;/i&gt;), Yang dimaksud dengan usaha manufaktur pada umumnya (&lt;i&gt;full manufacturing&lt;/i&gt;) adalah kegiatan industri atau kegiatan usaha produksi barang dan atau jasa yang dilakukan oleh atau untuk kepentingan sendiri dan bukan berdasarkan pesanan dari pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga poin penegasan yang tercantum dalam PMK ini, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Memperjelas definisi Jasa Maklon.&lt;br /&gt;Jasa maklon didefinisikan sebagai jasa dalam rangka proses penyelesaian suatu barang tertentu yang proses pengerjaannya dilakukan oleh pemberi jasa (&lt;b&gt;disubkontrakkan&lt;/b&gt;), dan pengguna jasa menetapkan spesifikasi, serta menyediakan bahan baku dan/atau barang setengah jadi dan/atau, barang penolong/pembantu yang akan diproses sebagian atau seluruhnya, dengan kepemiliki atas barang jadi berada pada pengguna jasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Perlakuan atas Pajak Masukan yang terkait dengan Barang Hasil Maklon yang diekspor.&lt;br /&gt;Dipertegas bahwa pajak masukan, baik yang terkait dengan jasa maklon yang diekspor maupun dengan barang hasil maklon yang diekspor dapat dikreditkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pelaporan Ekspor&lt;br /&gt;Ekspor barang hasil kegiatan usaha maklon wajib dilaporkan oleh Pengusaha Kena Pajak yang bersangkutan dalam SPT Masa PPN-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh : Dalam PMK Nomor 70/PMK.03/2010 yang wajib dilaporkan dalam SPT Masa PPN hanya penyerahan jasanya saja, sehingga atas penyerahan barang tidak perlu dilaporkan karena bukan milik Pengusaha Kena Pajak yang bersangkutan.Sedangkan dalam PMK ini diatur setiap penyerahan jasa maupun barang wajib dilaporkan dalam SPT Masa PPN Pengusaha Kena Pajakyang bersangkutan, sehingga seluruh Pajak Masukan (PM) yang terkait dengan jasa maupun barang menjadi dapat dikreditkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disalin dari : Keterangan Pers, Paket Kebijakan Februari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-3191810884253409149?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/3191810884253409149/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/pmk-jasa-maklon.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/3191810884253409149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/3191810884253409149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/pmk-jasa-maklon.html' title='PMK Jasa Maklon'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-7358506845916177348</id><published>2011-03-09T10:03:00.002+07:00</published><updated>2011-03-10T20:13:21.761+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Objek PPN'/><title type='text'>Rumah Bebas PPN Menjadi 70juta rupiah</title><content type='html'>&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 31/PMK,03/20&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;11 &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;tentang Batasan Rumah Sederhana dan Rumah Sangat Sederhana Yang Atas Penyerahann&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;ya &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Dibebaskan dari Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left" class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Terbitnya PMK ini dimaksudkan untuk menyesuaikan dengan Peraturan Menteri &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Negara Perumahan Rakyat Nomor 14 Tahun 2010 tanggal 3 September 2010 tentang Pengada&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;an Perumahan Melalui Kredit/Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera dengan Bantuan Fasilit&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;as Likuiditas Pembiayaan Perumahan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt; Selain itu kebijakan ini akan memberikan kesempatan yang leb&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;ih &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;luas kepada masyarakat berpenghasilan menengah kebawah dan masyarakat&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;berpenghasih&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;ilan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;rendah untuk memiliki rumah melalui fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;Den&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;gan&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt; adanya kebijakan ini maka batasan harga jual rumah sederhana dan sang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;at sederhana &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;yang mendapatkan pembebasan PPN menjadi &lt;b&gt;Rp 70 juta&lt;/b&gt; dari semula sebesar Rp 55 juta&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;. Selain itu &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;juga ditetapkan batasan luas bangunan rumah sederhana dan rumah sangat sederhana yang mendapatkan fasilitas pembebasan PPN, yaitu maksimal 36 meter persegi sesuai dengan stand&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;ar &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt;"&gt;kebutuhan minimal rumah yang layak untuk satu keluarga terdiri ayah, ibu, dan dua orang anak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disalin dari : Keterangan Pers, Paket Kebijakan Februari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-7358506845916177348?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/7358506845916177348/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/rumah-bebas-ppn-menjadi-70juta-rupiah.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7358506845916177348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7358506845916177348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/rumah-bebas-ppn-menjadi-70juta-rupiah.html' title='Rumah Bebas PPN Menjadi 70juta rupiah'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-1927634522430084940</id><published>2011-03-09T09:43:00.001+07:00</published><updated>2011-03-10T20:12:43.457+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemeriksaan'/><title type='text'>Pendapat Sebelum Ketetapan</title><content type='html'>Apakah anda mengira Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar murni hasil kerja pemeriksa pajak? Salah satu kewenangan pemeriksa pajak memang menghitung pajak terutang. Tetapi untuk menjadi ketetapan, banyak jalan yang harus ditempuh. Banyak pihak yang terlibat. Bukan hanya pemeriksa pajak versus Wajib Pajak saja! &lt;br&gt; &lt;br&gt;Penghitungan pajak terutang juga tidak semata-mata pendapat pemeriksa. Bisa jadi pemeriksa sebenarnya tidak yakin dengan hasil pemeriksaan, tetapi karena melihat sebagai DJP, maka pemeriksa pajak mengikuti pendapat orang lain. Berikut saya jelaskan penyebabnya.&lt;br&gt; &lt;br&gt;Kita anggap bahwa surat ketetapan pajak [skp] merupakan produk dari sebuah pendapat. Setidaknya ini pendapat DJP. SPT adalah media pelaporan kewajiban perpajakan yang disampaikan Wajib Pajak. Dalam sistem &lt;i&gt;self assessment&lt;/i&gt;, SPT dianggap benar sampai DJP mengeluarkan skp. Bisa disebut, skp adalah SPT versi DJP. Bisa juga disebut skp merupakan pendapat DJP atas SPT Wajib Pajak. Apakah SPT tersebut salah? Jika salah maka dikoreksi oleh DJP. Koreksi tersebut diformalkan dalam spt.&lt;br&gt; &lt;br&gt;Seperti akuntan publik yang memberikan pendapat atas &lt;b&gt;kewajaran&lt;/b&gt; suatu laporan keuangan yang diaudit, begitu juga pemeriksa pajak memberikan pendapat atas &lt;b&gt;kebenaran &lt;/b&gt;SPT yang diperiksa. Jika pemeriksaan &amp;quot;adem ayem&amp;quot; saja maka pendapat yang tertuang dalam skp merupakan pendapat pemeriksa. Saya jelaskan dulu maksud &amp;quot;adem ayem&amp;quot;, yaitu Wajib Pajak menerima 100% hasil pemeriksaan, tanpa sanggahan, dan atas pemeriksaan tersebut tidak ada review.&lt;br&gt; &lt;br&gt;Tetapi, aturan formal pemeriksaan sampai saat ini, memungkinkan banyak pendapat yang &lt;b&gt;mungkin diakomodasi &lt;/b&gt;oleh pemeriksa pajak. Selama pemeriksaan berlangsung, setidaknya ada tiga pendapat sebelum skp dikeluarkan. Pendapat pertama adalah pendapat pemeriksa, kedua pendapat &lt;i&gt;reviewer&lt;/i&gt;, dan ketiga pendapat tim pembahas.&lt;br&gt; &lt;br&gt;Pendapat pemeriksa sudah pasti muncul pada setiap pemeriksaan karena memang mereka yang melakukan pemeriksaan. Dalam hal pemeriksaan dilakukan &lt;i&gt;review&lt;/i&gt;, bisa jadi muncul pendapat &lt;i&gt;reviewer&lt;/i&gt;. Pelaksanaan &lt;i&gt;review&lt;/i&gt; dilakukan sebelum SPHP disampaikan oleh pemeriksa kepada Wajib Pajak. Tim &lt;i&gt;review&lt;/i&gt; memeriksa hasil pemeriksaan tim pemeriksa pajak. Tujuan pelaksaan &lt;i&gt;review&lt;/i&gt; adalah untuk memastikan kualitas pemeriksaan. Biasanya &lt;i&gt;review&lt;/i&gt; dilakukan oleh pemberi intruksi. Dokumen hasil &lt;i&gt;review&lt;/i&gt; biasa disebut &lt;i&gt;review sheet&lt;/i&gt;. Ada juga yang menyebut &amp;quot;berita acara telaah&amp;quot;. &lt;br&gt; &lt;br&gt;Pengalaman saya, selama &lt;b&gt;terdokumentasi dengan jelas&lt;/b&gt;, intruksi tim &lt;i&gt;review&lt;/i&gt; selalu diikuti. Walaupun bisa saja kita tidak sependapat, tetapi kita mengikuti pendapat tim &lt;i&gt;review&lt;/i&gt;. Dokumen yang menjadi acuan pemeriksa jelas tercantum di &lt;i&gt;review sheet&lt;/i&gt; atau berita acara. Menurut saya, karena terdokumentasi maka pemeriksa lebih aman jika ada &lt;i&gt;review&lt;/i&gt; seperti ini. Artinya, jika ada pihak yang mempermasalahkan hasil pemeriksaan, pemeriksa bisa &amp;quot;berlindung&amp;quot; di pendapat tim &lt;i&gt;review&lt;/i&gt;!&lt;br&gt; &lt;br&gt;Logikanya, jika pendapat tim &lt;i&gt;review&lt;/i&gt; yang digunakan, maka siapapun yang akan merubah pendapat tersebut maka harus dengan persetujuan tim &lt;i&gt;review&lt;/i&gt;. Bisa saja tim pemeriksa yang dipersalahkan, tetapi tim pemeriksa juga &lt;b&gt;harus menunjuk&lt;/b&gt; tim &lt;i&gt;review&lt;/i&gt;. Jika Wajib Pajak tidak setuju dengan hasil pemeriksaan, maka pemeriksa tentu tidak serta merta merubah hasil pemeriksaan. Bagaimana bisa merubah pendapat sedang pendapat yang digunakan juga pendapat tim &lt;i&gt;review&lt;/i&gt;?&lt;br&gt; &lt;br&gt;Pendapat ketiga adalah pendapat tim pembahas. Keberadaan tim pembahas muncul jika Wajib Pajak meminta pendapat ketiga. Tim pembahas sebenarnya harus bersikap seperti wasit atas perselisihan Wajib Pajak dan pemeriksa pajak. Salah satu tujuan dibentuk lembaga tim pembahas adalah untuk meminimalisir Wajib Pajak yang mengajukan keberatan. Sehingga, bisa saja tim pembahas tidak memilih pendapat pemeriksa pajak atau Wajib Pajak. Bisa jadi tim pembahas mempunyai pendapat lain. Inilah pendapat tim pembahas.&lt;br&gt; &lt;br&gt;Seharusnya, pendapat tim pembahas mengikat. Pemeriksa pajak harus menggunakan pendapat tim pembahas jika pendapat tim pemeriksa berbeda. Pendapat inilah yang akan dituangkan dalam surat ketetapan pajak. Tentu tanggung jawab beralih kepada tim pembahas. Memang Laporan Hasil Pemeriksaan dan Nota Hitung tetap dibuat oleh tim pemeriksa. Tetapi dalam Kertas Kerja Pemeriksaan dan Laporan Hasil Pemeriksaan, tim pemeriksa bisa memberikan &lt;b&gt;kronologis dan menunjuk&lt;/b&gt; tim pembahas. Jika perlu, di Laporan Hasil Pemeriksaan tim pemeriksa &amp;quot;menyebut&amp;quot; bahwa hasil &lt;b&gt;pemeriksaan mengikuti pendapat tim pembahas&lt;/b&gt;. Hal ini untuk berjaga-jaga jika suatu saat atas hasil pemeriksaan tersebut ada pihak yang mempermasalahkan. &lt;br&gt; &lt;br&gt;Menurut saya, &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;salah&lt;/span&gt; jika pemeriksa tidak mengikuti pendapat tim pembahas. Jika pendapat tim pembahas tidak digunakan, untuk apa dibentuk lembaga tim pembahas? Bukankah tim pemeriksa dan tim pembahas sama-sama DJP? Mereka semua sama-sama bertindak atas nama Dirjen Pajak!&lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;salaam&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-1927634522430084940?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/1927634522430084940/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/pendapat-sebelum-ketetapan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/1927634522430084940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/1927634522430084940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/03/pendapat-sebelum-ketetapan.html' title='Pendapat Sebelum Ketetapan'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-4447245894514858117</id><published>2011-02-25T16:59:00.001+07:00</published><updated>2011-02-25T17:51:19.066+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Faktur Pajak'/><title type='text'>Faktur Pajak yang Digunggung</title><content type='html'>Digunggung sebelumnya dipergunakan untuk penghasilan yang "dikumpulkan" dari berbagai sumber sebelum dihitung penghasilan kena pajak. Istilah digunggung, semula hanya ada di PPh. Penghasilan yang digunggungkan artinya penghasilan yang disatukeranjangkan dari berbagi sumber baik dalam negeri maupun luar negeri sebelum dikenakan tarif Pasal 17 UU PPh. Penghasilan yang digunggungkan mengandung pengertian penghasilan diluar PPh Final dan penghasilan bukan objek sebagaimana diatur di Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) UU PPh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu setidaknya ada dua email yang mempertanyakan "faktur pajak yang digunggungkan". Terus terang saya belum tahu ada istilah itu. Bayangan saya, faktur pajak yang digunggungkan seperti faktur pajak gabungan. Ternyata saya salah. Faktur pajak yang digunggungkan ada di Form 1111 AB atau SPT Masa PPN. Inilah dia "tempatnya"&amp;nbsp; :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-q1TWLkCe0tY/TWd082kmtxI/AAAAAAAAAOk/MUmQLbz088Y/s1600/1111AB.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="190" src="http://1.bp.blogspot.com/-q1TWLkCe0tY/TWd082kmtxI/AAAAAAAAAOk/MUmQLbz088Y/s400/1111AB.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kita langsung saja kepada petunjuk pengisian Formulir 1111AB berikut :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Diisi dengan jumlah DPP, PPN, dan PPnBM, atas penyerahan BKP dan/atau JKP dalam negeri dengan Faktur Pajak yang&lt;b&gt; &lt;span style="color: red;"&gt;tidak diisi &lt;/span&gt;dengan identitas pembeli serta nama dan tanda tangan penjual&lt;/b&gt;, dalam Masa Pajak yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Baris ini diisi oleh PKP yang menurut ketentuan diperkenankan untuk menerbitkan Faktur Pajak tanpa identitas pembeli serta nama dan tanda tangan penjual.&lt;br /&gt;Pengisian baris ini dilakukan dengan cara &lt;b&gt;menjumlahkan secara manual &lt;/b&gt;seluruh Faktur Pajak atas penyerahan BKP dan/atau JKP yang tidak diisi dengan identitas pembeli serta nama dan tanda tangan penjual.&lt;/blockquote&gt;Artinya, Pengusaha Kena Pajak (PKP) tidak perlu melaporkan satu-per-satu faktur pajak. Walaupun demikian, dalam catatan atau pembukuan PKP tetap harus dibuat perincian per transaksi dan nomor faktur pajak. Hanya saja PKP cukup melaporkan di SPT Masa PPN sebesar total DPP dan PPN-nya saja. Bandingkan dengan faktur pajak yang tidak digunggungkan, PKP harus melaporkan setiap faktur pajak di Formulir 1111 A1 dan Formulir 1111 A2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tinggal, siapa yang boleh membuat faktur pajak : [1] tanpa identitas pembeli, dan [2] tanda tangan penjual? Setelah saya cari, diantaranya ketemu Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. PER-58/PJ/2010 tentang Faktur Pajak bagi PKP Pedagang Eceran. Berikut kutipannya :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;(1) Faktur Pajak atas penyerahan Barang Kena Pajak oleh PKP PE paling sedikit harus memuat keterangan :&lt;br /&gt;&amp;nbsp; a. nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak yang menyerahkan Barang Kena Pajak;&lt;br /&gt;&amp;nbsp; b. jenis Barang Kena Pajak yang diserahkan;&lt;br /&gt;&amp;nbsp; c. jumlah Harga Jual yang sudah termasuk Pajak Pertambahan Nilai atau besarnya Pajak Pertambahan Nilai dicantumkan secara terpisah;&lt;br /&gt;&amp;nbsp; d. Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dipungut; dan&lt;br /&gt;&amp;nbsp; e. kode, nomor seri dan tanggal pembuatan Faktur Pajak.&lt;br /&gt;(2) Faktur Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diisi secara lengkap, jelas, dan benar sesuai dengan keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;(1) Faktur Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) berupa:&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; a. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bon kontan,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; b. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; faktur penjualan,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; c. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; segi cash register,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; d. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; karcis, &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; e. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kuitansi, atau&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; f. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tanda bukti penyerahan atau pembayaran lain yang sejenis.&lt;br /&gt;(2) Bentuk dan ukuran formulir Faktur Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disesuaikan dengan kepentingan PKP PE.&lt;br /&gt;(3) &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pengadaan formulir Faktur Pajak dilakukan oleh PKP PE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;Kode dan nomor seri Faktur Pajak sebagaimana dimaksud adalam Pasal 3 ayat (1) huruf e dapat berupa nomor nota, kode nota, atau ditentukan sendiri oleh PKP PE.&lt;/blockquote&gt;Selain, faktur pajak PKP PE, ada juga dokumen tertentu yang disamakan sebagai faktur pajak. Walaupun informasi yang diwajibkan lebih sederhana daripada faktur pajak, tetapi dokumen tertentu ini &lt;b&gt;tetap mengharuskan&lt;/b&gt; adanya nama pembeli. Ini dia Pasal 2 PER-10/PJ/2010 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Dokumen tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a sampai dengan huruf h paling sedikit harus memuat :&lt;br /&gt;a. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Nama, alamat dan NPWP yang melakukan ekspor atau penyerahan;&lt;br /&gt;b. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;b&gt;Nama pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak&lt;/b&gt;;&lt;br /&gt;c. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jumlah satuan barang apabila ada;&lt;br /&gt;d. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dasar Pengenaan Pajak;dan&lt;br /&gt;e. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jumlah Pajak yang terutang kecuali dalam hal ekspor.&lt;/blockquote&gt;Karena itu, saya berpendapat bahwa faktur pajak yang digunggungkan adalah faktur pajak PKP PE. Ini mirip dengan faktur pajak sederhana yang dulu pernah ada. Yaitu cukup melaporkan total penyerahan faktur pajak sederhana tetapi PKP tetap harus punya pembukuan daftar faktur pajak sederhana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-4447245894514858117?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/4447245894514858117/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/02/faktur-pajak-yang-digunggung.html#comment-form' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/4447245894514858117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/4447245894514858117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/02/faktur-pajak-yang-digunggung.html' title='Faktur Pajak yang Digunggung'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-q1TWLkCe0tY/TWd082kmtxI/AAAAAAAAAOk/MUmQLbz088Y/s72-c/1111AB.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-4810757320747308619</id><published>2011-02-24T21:40:00.000+07:00</published><updated>2011-02-24T21:40:06.625+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemeriksaan'/><title type='text'>Sistem Self Assessment</title><content type='html'>Menurut&amp;nbsp;bagian penjelasan UU&amp;nbsp;KUP bahwa &lt;em&gt;self assessment&lt;/em&gt; adalah ciri dan corak sistem pemungutan pajak. &lt;em&gt;Self assessment &lt;/em&gt;merupakan suatu sistem perpajakan yang memberikan kepercayaan dan tanggung jawab kepada Wajib Pajak untuk :&lt;br /&gt;[a.] berinisiatif mendaftarkan dirinya untuk mendapatkan NPWP [nomor pokok wajib pajak];&lt;br /&gt;[b.] menghitung, memperhitungkan, membayar dan melaporkan sendiri pajak terutang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menurut penjelasan UU KUP bahwa sistem pemungutan pajak tersebut mempunyai arti bahwa penentuan penetapan besarnya pajak yang terutang dipercayakan kepada Wajib Pajak sendiri dan melaporkannya secara teratur jumlah pajak yang terutang dan yang telah dibayar sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang-undangan perpajakan. Media atau&amp;nbsp;surat yang digunakan Wajib Pajak&amp;nbsp;untuk melaporkan penghitungan dan pembayaran pajak disebut Surat Pemberitahuan, disingkat SPT.&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan yang diberikan oleh undang-undang&amp;nbsp;kepada Wajib Pajak idealnya ditunjang dengan&amp;nbsp; :&lt;br /&gt;[a.] kesadaran Wajib Pajak tentang kewajiban perpajakan;&lt;br /&gt;[b.] keinginan untuk membayar pajak terutang walaupun terpaksa;&lt;br /&gt;[c.] kerelaan Wajib Pajak untuk menjalankan peraturan perpajakan yang berlaku;&lt;br /&gt;[d.] kejujuran Wajib Pajak untuk mengungkapkan keadaan sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bagian dari sistem &lt;em&gt;self assessment&lt;/em&gt; adalah adanya daluwarsa penagihan yang di Pasal 22 UU KUP. Aturan terakhir, UU No. 28 tahun 2007,&amp;nbsp;daluwarsa penagihan ditetapkan 5 (lima tahun saja)! Apa maknanya? Bahwa negara tidak memiliki hak untuk menagih atau memungut pajak setelah lewat 5 tahun. Berapapun utang pajak! Selain itu, SPT yang dilaporkan kepada DJP juga dianggap benar setelah 5 tahun. Secara hukum, setelah lewat 5 tahun, kewajiban perpajakan Wajib Pajak dianggap benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja Pasal 22 ayat (2) UU KUP mengatur bahwa daluwarsa tersebut akan tertangguh atau mundur dari tahun pajak&amp;nbsp;yang bersangkutan&amp;nbsp;jika :&lt;br /&gt;[a.] diterbitkan Surat Paksa;&lt;br /&gt;[b.] ada pengakuan utang pajak dari Wajib Pajak baik langsung maupun tidak langsung;&lt;br /&gt;[c.] diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5), atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (4); atau&lt;br /&gt;[d.] dilakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jangka waktu 5 tahun tersebut, DJP dapat melakukan koreksi terhadap SPT yang dilaporkan oleh Wajib Pajak melalui pemeriksaan. Menurut UU KUP, pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan, dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan profesional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari definisi pemeriksaan sudah jelas bahwa DJP hanya bisa melakukan koreksi atas isi SPT Wajib Pajak jika DJP memiliki data, keterangan dan bukti bahwa SPT Wajib Pajak tidak benar. Jika DJP&lt;span style="color: red;"&gt; tidak&lt;/span&gt; memiliki data dan bukti atas ketidakbenaran SPT Wajib Pajak maka DJP&lt;span style="color: red;"&gt; tidak&lt;/span&gt; bisa melakukan koreksi walaupun si pemeriksa pajak sangat yakin bahwa SPT Wajib Pajak salah. Keyakinan si pemeriksa tidak bisa dijadikan dasar melakukan koreksi SPT.&amp;nbsp;Bahkan teknik-teknik &lt;strong&gt;analisa&lt;/strong&gt; yang dilakukan oleh pemeriksa juga tidak cukup untuk dijadikan dasar koreksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DJP boleh melakukan koreksi SPT jika ada bukti nyata*). Meminjam peraturan kepabeanan bahwa bukti nyata adalah bukti atau data berdasarkan dokumen yang benar-benar tersedia dan pada dokumen tersebut terdapat besaran, nilai atau ukuran tertentu dalam bentuk angka, kata dan/atau kalimat. Dokumen ini bisa berasal dari dokumen Wajib Pajak atau pihak lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dokumen, keterangan juga bisa dijadikan dasar koreksi SPT. Sesuai definisi pemeriksaan di UU KUP bahwa&amp;nbsp;pemeriksa pajak itu mengolah data, keterangan atau bukti. Saya menganggap&amp;nbsp;bukti ini dokumen jika mengacu kepada aturan kepabeanan.&amp;nbsp;Sedangkan keterangan tidak didefinisikan secara jelas [setidaknya setelah dicari di databese aturan perpajakan] kecuali dalam &lt;a href="http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php"&gt;kamus&lt;/a&gt; bahwa keterangan adalah sesuatu yang menjadi petunjuk atau yang menyebabkan tahu.&amp;nbsp;Jadi bisa saja keterangan ini informasi yang diberikan pegawai Wajib Pajak, pihak lain yang berhubungan dengan Wajib Pajak atau pihak lain yang independen. Apapun itu yang menyebabkan si pemeriksa pajak tahu bahwa SPT Wajib Pajak tidak benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) istilah "bukti nyata"&amp;nbsp;dan keharusan adanya bukti nyata, saya dengar dari rapat-rapat dengan boss.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-4810757320747308619?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/4810757320747308619/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/02/sistem-self-assessment.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/4810757320747308619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/4810757320747308619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/02/sistem-self-assessment.html' title='Sistem Self Assessment'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-1889960091825706145</id><published>2011-02-23T21:50:00.002+07:00</published><updated>2011-02-23T21:55:18.819+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemeriksaan'/><title type='text'>Tenaga Ahli</title><content type='html'>Tenaga ahli terdiri dari dua kata : tenaga dan ahli. Menurut &lt;a href="http://kamusbahasaindonesia.org/"&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia&lt;/a&gt;,&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kamusbahasaindonesia.org/tenaga"&gt;tenaga&lt;/a&gt; artinya&amp;nbsp;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #3366cc; font-family: Verdana, Georgia, Arial, sans-serif; font-size: 13px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #3366cc; font-family: Verdana, Georgia, Arial, sans-serif; font-size: 13px;"&gt;orang yg bekerja atau mengerjakan sesuatu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;ahli artinya&amp;nbsp;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #3366cc; font-family: Verdana, Georgia, Arial, sans-serif; font-size: 13px;"&gt;orang yg mahir, paham sekali dl suatu ilmu (kepandaian)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jadi tenaga ahli berarti orang yang bekerja atau mengerjakan sesuatu karena kemahiran ilmunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan menurut&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ahli"&gt; Wikipedia&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19px;"&gt;&lt;b&gt;ahli&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19px;"&gt;&amp;nbsp;ialah seseorang yang banyak dianggap sebagai sumber tepercaya atas&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19px;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Teknik" style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: initial; background-image: none; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; color: #0645ad; text-decoration: none;"&gt;teknik&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19px;"&gt;&amp;nbsp;maupun&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19px;"&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keahlian&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: initial; background-image: none; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; color: #ba0000; text-decoration: none;" title="Keahlian (halaman belum tersedia)"&gt;keahlian&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19px;"&gt;&amp;nbsp;tertentu yang bakatnya untuk menilai dan memutuskan sesuatu dengan benar, baik,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19px;"&gt;maupun andal sesuai dengan aturan dan status oleh sesamanya ataupun&amp;nbsp;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Khayalak&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: initial; background-image: none; background-origin: initial; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; color: #ba0000; text-decoration: none;" title="Khayalak (halaman belum tersedia)"&gt;khayalak&lt;/a&gt;&amp;nbsp;dalam bidang khusus tertentu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di undang-undang perpajakan juga dikenal "tenaga ahli". &amp;nbsp;Pasal &amp;nbsp;34 ayat (2) UU KUP berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku juga terhadap tenaga ahli yang&amp;nbsp;ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak untuk membantu dalam pelaksanaan ketentuan&amp;nbsp;peraturan perundang-undangan perpajakan.&lt;/blockquote&gt;Para pembuat undang-undang sepertinya sudah merancang bahwa akan ada tenaga ahli yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak untuk membantu pelaksanaan peraturan perundang-undangan. Tetapi apakah yang dimaksud tenaga ahli di perpajakan sama dengan pengertian umum? Saya kira sama saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cari pengertian resmi tenaga ahli menurut pajak hanya ada di petunjuk pemeriksaan lapangan. Itu pun Peraturan Direktur Jenderal Pajak yang sudah dicabut. Di aturan yang baru, tidak didefinisikan tentang tenaga ahli. Daripada tidak ada, saya kutip &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;id_topik=&amp;amp;id_jenis=&amp;amp;p_tgl=tahun&amp;amp;tahun=&amp;amp;nomor=&amp;amp;q=tenaga%20ahli%20adalah&amp;amp;q_do=macth&amp;amp;cols=isi&amp;amp;hlm=1&amp;amp;page=show&amp;amp;id=12630"&gt;aturan lama&lt;/a&gt; definisi tenaga ahli :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Tenaga Ahli adalah seorang atau lebih yang mempunyai keahlian dalam bidang tertentu yang&amp;nbsp;ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak untuk membantu pelaksanaan pemeriksaan;&lt;/blockquote&gt;&lt;div&gt;Dilihat dari kepegawaian, seorang tenaga ahli bisa bukan pegawai DJP. Mereka adalah pegawai non-DJP yang dipekerjakan untuk keperluan pelaksanaan pemeriksaan pajak. Karena berasal dari luar DJP, maka para tenaga ahli ini harus dikukuhkan dulu oleh Direktur Jenderal Pajak dengan surat keputusan. Tanpa ada surat keputusan pengangkatan tenaga ahli maka tidak ada pihak diluar DJP yang dapat "menyentuh" Wajib Pajak. Jika tenaga ahli tersebut merupakan pegawai DJP maka tidak perlu ada pengukuhan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dilihat dari tim pemeriksa, atau surat perintah pemeriksaan, tenaga ahli itu ada dua macam :&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;[1.] tenaga ahli yang ada di SP2&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Maksudnya, ada tenaga ahli atau pegawai non-DJP yang ditugaskan dalam surat perintah pemeriksaan sebagai tim pemeriksa pajak. Pekerjaan tenaga seperti ini sama saja dengan pejabat fungsional pemeriksa pajak dari DJP. Karena bekerja berdasarkan SP2 (surat perintah pemeriksaan) maka para tenaga ahli ini akan menghitung pajak terutang Wajib Pajak dan mengusulkan surat ketetapan pajak.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Prakteknya, tenaga ahli seperti ini dulu sering disebut tim gabungan (timgab) dari &lt;a href="http://www.bpkp.go.id/"&gt;BPKP&lt;/a&gt;. Contoh pengukuhan timgab adalah &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;id_topik=&amp;amp;id_jenis=&amp;amp;p_tgl=tahun&amp;amp;tahun=&amp;amp;nomor=&amp;amp;q=tim%20gabungan&amp;amp;q_do=macth&amp;amp;cols=isi&amp;amp;hlm=1&amp;amp;page=show&amp;amp;id=1521"&gt;KEP-133/PJ./1998&lt;/a&gt;. Kemudian sebutan timgab diganti menjadi Tim Teknis Optimalisasi Penerimaan Negara (Tim TOPN) yang dikukuhkan dengan &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;id_topik=&amp;amp;id_jenis=&amp;amp;p_tgl=tahun&amp;amp;tahun=2001&amp;amp;nomor=203&amp;amp;q=&amp;amp;q_do=macth&amp;amp;cols=isi&amp;amp;hlm=1&amp;amp;page=show&amp;amp;id=1207"&gt;KEP-203/PJ./2001&lt;/a&gt;. Tim TOPN ini akan diberikan SP2 oleh DJP untuk melaksanakan pemeriksaan kepada Wajib Pajak seperti pegawai DJP.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dasar pengangkatan pegawai non-DJP sebagai pemeriksa pajak ada di pengertian pemeriksa pajak, yaitu Pasal 1 angka 5 Peraturan Menteri Keuangan No. 199/PMK.03/2007 :&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;blockquote&gt;Pemeriksa Pajak adalah Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak atau &lt;b&gt;tenaga ahli&amp;nbsp;&lt;/b&gt;yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak, yang diberi tugas, wewenang, dan tanggung jawab untuk&amp;nbsp;melaksanakan Pemeriksaan.&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;dan Pasal 7 ayat (2)&amp;nbsp;Peraturan Menteri Keuangan No. 199/PMK.03/2007 :&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;blockquote&gt;Dalam hal diperlukan, Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilaksanakan oleh&amp;nbsp;tenaga ahli dari luar Direktorat Jenderal Pajak yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak.&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;[2.] tenaga ahli yang ditugaskan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Berbeda dengan tenaga ahli yang pertama, tenaga ahli yang kedua ini bukan pemeriksa pajak. Kalau yang pertama, mereka dianggap ahli dalam pemeriksaan pajak. Kalau yang kedua ini dianggap ahli bukan dalam pemeriksaan tapi bidang lain. Nah, bidang lain ini luas sekali. Misalnya ahli forensik komputer, ahli bahasa, ahli pertambangan, ahli hukum, &lt;a href="http://www.mappi.or.id/main.php?modul=about&amp;amp;id=home"&gt;ahli penilai&lt;/a&gt;.&amp;nbsp;&amp;nbsp;Pokoknya selain keahlian pemeriksaan pajak.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Karena tidak ada di SP2 maka tenaga ahli ini bekerja berdasarkan Surat Tugas. Ada penugasan tertentu bahwa si fulan diperbantukan kepada tim pemeriksa tertentu. Contoh yang paling banyak adalah tenaga ahli forensik komputer untuk menkloning komputer Wajib Pajak. Seorang ahli forensik komputer tentu harus memiliki sertifikat dan pendidikan tertentu supaya diakui sebagai ahli forensik komputer. Karena tim pemeriksa pajak tidak ada yang memiliki keahliah forensik komputer maka tim pemeriksa bisa meminta bantuan tenaga ahli.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebenarnya tenaga ahli yang tidak ada di SP2 ini juga bisa dua macam, yaitu yang berasal dari DJP sendiri dan non-DJP. Jika tenaga ahli yang dimaksud non-DJP maka tetap harus ada pengukuhan dulu dari Direktur Jenderal Pajak sebagai tenaga ahli. Setelah itu baru dibuatkan Surat Tugas untuk membantu tim pemeriksa tertentu. Hanya saja contoh kasusnya sangat jarang. Kebanyakan tenaga ahli ini berasal dari DJP sendiri yang diberi Surat Tugas tersendiri.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tetapi bisa jadi ke depannya akan diperlukan tenaga ahli tertentu yang diperlukan oleh pemeriksa pajak. Mungkin tenaga ahli ini diperlukan untuk &lt;i&gt;second opinion&lt;/i&gt;. Sehingga dengan &lt;i&gt;second opinion&lt;/i&gt;, pemeriksa pajak akan lebih yakin dengan pendapatnya. Misalnya &lt;i&gt;second opinion&lt;/i&gt; dalam penentuan harga pasar, atau kewajaran harga barang (&lt;i&gt;non transfer pricing, &lt;/i&gt;contoh penjualan mesin bekas).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dasar penugasan tenaga ahli ke dalam pemeriksaan pajak ada di Pasal 8 huruf e&amp;nbsp;Peraturan Menteri Keuangan No. 199/PMK.03/2007 :&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;Tim Pemeriksa Pajak sebagaimana dimaksud pada huruf d dapat dibantu oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian tertentu yang &lt;b&gt;bukan merupakan Pemeriksa Paja&lt;/b&gt;k sebagaimana dimaksud dalam&amp;nbsp;Pasal 7 ayat (2), baik yang berasal dari Direktorat Jenderal Pajak maupun yang berasal dari instansi&amp;nbsp;di luar Direktorat Jenderal Pajak yang telah ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak sebagai tenaga ahli&amp;nbsp;seperti peterjemah bahasa, ahli di bidang teknologi informasi, dan pengacara;&lt;/blockquote&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-1889960091825706145?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/1889960091825706145/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/02/tenaga-ahli.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/1889960091825706145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/1889960091825706145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/02/tenaga-ahli.html' title='Tenaga Ahli'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-5069773610814661870</id><published>2011-02-21T08:39:00.002+07:00</published><updated>2011-02-21T09:01:22.303+07:00</updated><title type='text'>Leaflet SPT</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-u8hXqaHxHQQ/TWHHM1QNMPI/AAAAAAAAAOc/AGO7bRGZfzU/s1600/Leaflet-SPT-OK.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-u8hXqaHxHQQ/TWHHM1QNMPI/AAAAAAAAAOc/AGO7bRGZfzU/s400/Leaflet-SPT-OK.jpg" width="283" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-5069773610814661870?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/5069773610814661870/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/02/leaflet-spt.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/5069773610814661870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/5069773610814661870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/02/leaflet-spt.html' title='Leaflet SPT'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-u8hXqaHxHQQ/TWHHM1QNMPI/AAAAAAAAAOc/AGO7bRGZfzU/s72-c/Leaflet-SPT-OK.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-8194558072236380349</id><published>2011-02-19T15:20:00.001+07:00</published><updated>2011-02-19T15:22:30.352+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemeriksaan'/><title type='text'>SPT tidak Masuk</title><content type='html'>Pemeriksaan pajak pada dasarnya adalah pemeriksaan atas SPT Wajib Pajak. Tetapi tidak berarti Wajib Pajak yang tidak melaporkan SPT tidak boleh diperiksa. Pada dasarnya pemeriksaan itu ada dua :&lt;br /&gt;[a.] pemeriksaan untuk menguji kepatuhan&lt;br /&gt;[b.] pemeriksaan tujuan lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan akan menghasilkan surat ketetapan pajak. Justru Wajib Pajak yang tidak melaporkan SPT sudah menunjukkan ketidakpatuhan dari Wajib Pajak. Setidaknya kepatuhan pemenuhan formal. Jika wajib pajak sudah tidak patuh, maka DJP akan menguji kepatuhan tersebut. Apakah memang Wajib Pajak tersebut tidak memiliki penghasilan pada tahun pajak tersebut atau karena "bandel"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu ada email yang mempertanyakan kondisi Wajib Pajak yang tidak menyampaikan SPT. Inilah kutipan pertanyaan melalui email :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;saya maw tanya nih tentang kriteria pemeriksaan wajib pajak diperiksa salah satunya yaitu spt tidak masuk / tidak disampaikan.. Jadi kalo yg diperiksa berdasarkan spt tidak masuk/tidak disampaikan apa yg menjadi dasar pemeriksaan sedangkan spt tidak disampaikan oleh wp tersebut ??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;misalnya wp itu bangkrut kan bisa aja ga nyerahin spt ya pak ?? jadi kira2 atas dasar apa ya pak wp diperiksa kalo sptnya ga di laporkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oiyah yang masalah spt tidak masuk ,, kriteria itu ada di wp badan tidak pa ?? Yang masalah data transaksi itu berupa apaa pa ?? Dan data transaksi itu berupa apa ?? Dan data transaksi itu bisa ditemukan dimana ?? Apakah untuk terjadinya pemeriksaan itu apakah ada laporan dari pihak ketiga ?? Ini untuk kriteria wp badann bukan pak??&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri sudah sering memeriksa Wajib Pajak yang tidak menyampaikan SPT. Pada saat pemeriksaan tentu saja pemeriksa akan meminta dokumen-dokumen perusahaan pada tahun pajak yang diperiksa. Pemeriksa akan menghitung PPh berdasarkan kondisi sebenarnya berdasarkan data yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi memang Wajib Pajak sedang rugi sehingga PPh terutang akan NIHIL atau SKPN. Tetapi kebanyakan hasil pemeriksaan justru menjadi kurang bayar atau SKPKB. Hasil pemeriksaan akan menjadi "temuan" atau koreksi bagi pemeriksa. Setidaknya penghasilan akan menjadi koreksi positif dan biaya akan menjadi koreksi negatif. Hal ini karena kondisi Wajib Pajak tidak menyampaikan SPT. Saya selalu menganggap bahwa Wajib Pajak yang tidak menyampaikan SPT seperti menyerahkan penghitungan PPh kepada pemeriksa.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar dilakukan pemeriksaan memang tidak semata-mata karena tidak menyampaikan SPT. Artinya tidak secara &lt;b&gt;otomatis&lt;/b&gt; Wajib Pajak yang tidak menyampaikan SPT akan diperiksa. Bisa jadi DJP memiliki data dari pihak ketiga tentang transaksi seorang Wajib Pajak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/02/analisis-idlp.html"&gt;Data&lt;/a&gt; ini bisa berasal dari mana saja! Saya sebutkan sekedar contoh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Data lawan transaksi&lt;br /&gt;A melakukan transaksi penjualan kepada B. Kebetulan B meminta restitusi sehingga diperiksa oleh DJP. Pada saat pemeriksaan, pemeriksa kemudian membuat "alket" bahwa A memiliki transaksi penjualan kepada B. Kemudian "alket" tersebut dikirim kepada KPP dimana A terdaftar. Oleh KPP kemudian dicek ke SPT. Jika A tidak menyampaikan SPT, maka AR di KPP tersebut akan melakukan himbauan kepada A untuk menyampaikan SPT. Sebelum A menyampaikan SPT, A bisa meminta konseling atau konsultasi dengan AR. Jika masih "bandel" maka proses selanjutnya bisa jadi A diusulkan untuk diperiksa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain melalui "alket" bisa juga data lawan transaksi terdeteksi dengan mekanisme PKPM di PPN. Ada faktu pajak masukan dari yang dilaporkan oleh B tetapi di SPT PPN milik A tidak ada pajak keluaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Data tender&lt;br /&gt;DJP sering mendapatkan data pemenang tender, terutama tender yang dilakukan oleh pemerintah. Data tender ini tentu akan dicocokkan dengan SPT Wajib Pajak. Apakah tender tersebut sudah dilaporkan atau belum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Laporan Notaris&lt;br /&gt;Salah satu kewajiban notaris adalah melaporkan semua akta jual beli yang dibuat atau dilakukan melalui notaris yang bersangkutan. Data penjual akan dicari kepada masterfile Wajib Pajak. Jika ketemu maka data penjualan tersebut akan dicocokkan dengan laporan SPT Wajib Pajak yang bersangkutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi data terkait kegiatan Wajib Pajak yang bisa dimanfaatkan oleh DJP. Data ini diperoleh DJP bisa karena permintaan DJP kepada instansi lain seperti data kepemilikan kendaraan, pemakaian listrik, pemakaian telepon, dan IMB. Bisa juga data yang diperoleh dari media terbuka seperti internet dan media masa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SURAT KALENG&lt;/b&gt; yang disampaikan oleh orang disekeliling anda akan ditindaklanjuti oleh DJP. Walaupun sifat surat kaleng anonim tetapi bagi DJP bukan pengirimnya yang penting. Isi dari surat tersebut apakah bisa dipercaya atau tidak. Ini bagian dari pekerjaan &lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/02/analisis-idlp.html"&gt;analis IDLP&lt;/a&gt; yang pernah saya p&lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/02/analisis-idlp.html"&gt;osting&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada intinya, jangan menganggap bahwa tidak menyampaikan SPT membuat Wajib Pajak &lt;b&gt;aman&lt;/b&gt; dari pemeriksaan! Hal ini berlaku baik untuk Wajib Pajak Orang Pribadi maupun Wajib Pajak badan. Semuanya sama saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-8194558072236380349?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/8194558072236380349/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/02/spt-tidak-masuk.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/8194558072236380349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/8194558072236380349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/02/spt-tidak-masuk.html' title='SPT tidak Masuk'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-8882023308141647671</id><published>2011-02-17T16:18:00.002+07:00</published><updated>2011-02-17T16:26:27.414+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SPT'/><title type='text'>Membuat SPT OP</title><content type='html'>Apakah anda masih bingung cara mengisi SPT? Atau bahkan masih cari-cari formulir SPT? Jangan khawatir, saya bimbing cara mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, dapatkan file eSPT. Jika belum punya silakan unduh :&lt;br /&gt;1. &lt;a href="http://www.pajak.go.id/index.php?option=com_docman&amp;task=cat_view&amp;gid=665&amp;Itemid=150"&gt;Form 1770&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;Form 1770 adalah SPT Tahunan PPh Orang Pribadi yang memiliki usaha atau pekerjaan bebas yang menyelenggarakan pembukuan. Boleh dibilang, inilah media pelaporan pajak bagi para pengusaha / wiraswasta / juragan / majikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;a href="http://www.pajak.go.id/index.php?option=com_docman&amp;task=cat_view&amp;gid=666&amp;Itemid=150"&gt;Form 1770S&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Form 1770S adalah SPT Tahunan PPh Orang Pribadi yang berstatus pegawai. Inilah media pelaporan pajak bagi para buruh dan pegawai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;a href="http://www.pajak.go.id/index.php?option=com_docman&amp;task=cat_view&amp;gid=667&amp;Itemid=150"&gt;Form 1770SS&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Form 1770SS adalah media pelaporan pajak bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang mempunyai penghasilan hanya dari satu pemberi kerja dengan jumlah penghasilan bruto dari pekerjaan tidak lebih dari Rp60.000.000 [ini menurut PER-34/PJ/2010]. Jadi perbedaan antara 1770S dan 1770SS adalah batasan penghasilan. Jika 1770S tidak ada batasan (unlimited) penghasilan yang diterima oleh pegawai, maka 177SS hanya mereka yang memiliki penghasilan setahun tidak lebih dari enam puluh juta rupiah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau formulir SPT sudah punya, maka silakan unduh file powerpoint tata cara pengisian SPT. Ada dua file powerpoint, yaitu :&lt;br /&gt;1. &lt;a href="http://radenagussuparman.files.wordpress.com/2011/02/simulasi-spt-1770-tahun-pajak-2010-1.pptx"&gt;Simulasi Pengisian SPT PPh OP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;a href="http://radenagussuparman.files.wordpress.com/2011/02/simulasi-spt-1770-tahun-pajak-2010-1.pptx"&gt;Simulasi Pengisian 1770 S dan 1770 SS&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;File powerpoint diatas bukan buatan saya. Tapi dibuat oleh P2 Humas Kantor Pusat DJP. Saya pikir, file seperti ini wajib disebarluaskan untuk membantu para Wajib Pajak. Kalau Wajib Pajak bingung membuat SPT, sudah pasti tingkat kepatuhan formal berupa penyampaian SPT akan kecil. Bikin SPT masih bingung, terus bayar pajaknya kapan? Walaupun tidak semua yang bikin SPT bayar pajak! Tetapi ada juga yang bayar pajak tapi tidak lapor SPT, terutama Wajib Pajak yang bayar PPh atas penjualan tanah dan atau bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda akan dibimbing tahap demi tahap cara pengisian SPT. Bahkan diingatkan bagian mana saja yang harus diisi. Tentu saja dalam prakteknya tidak harus "plek" persis sama dengan simulasi dari kantor pusat DJP. Setidaknya mirip-mirip atau bedanya tidak terlalu jauh :-) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah formulir SPT tersedia dan sudah paham cara pembuatannya, maka tahap selanjutnya adalah mengumpulkan bukti potong dan Surat Setoran Pajak [SSP]. Bukti potong untuk Wajib Pajak pekerja adalah bukti potong yang dibuat oleh pengusaha / majikan / pemberi kerja. Biasanya, bendahara pemberi kerja sudah menghitung berapa PPh terutang (formulir A1). Tinggal pindahkan angka-angka dari A1 ke 1770S atau 1770SS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membuat SPT dan ternyata hasil perhitungan SPT tersebut kurang bayar, maka kekurangan tersebut harus dilunasi sebelum SPT tersebut dilaporkan. Bagi Wajib Pajak orang pribadi, pelaporan SPT paling lambat 31 Maret. Bisa saja kita setor kekurangan PPh pada tanggal 31 Maret pagi dan melaporkan pada sore harinya, tapi harus diantisipasi antrian di bank persepsi saat akan bayar pajak! Jangan-jangan karena panjangnya antrian ditambah ada gangguan on-line, maka tidak sempet bayar tanggal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posting terkait cara pembuatan SPT OP :&lt;br /&gt;1. &lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/2009/02/membuat-daftar-harta.html"&gt;Membuat Daftar Harta&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/2009/02/menghitung-penghasilan-dari-biaya-hidup.html"&gt;Menghitung Penghasilan dari Biaya Hidup&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/2009/03/melaporkan-penghasilan-istri.html"&gt;Melaporkan Penghasilan Istri&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/2009/03/bukti-potong-sebagai-kredit-pajak.html"&gt;Bukti Potong sebagai Kredit Pajak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selamat membuat SPT&lt;br /&gt;Kalau mau format SPT dalam bentuk Excel, silakan diunduh :&lt;br /&gt;1. &lt;a href="http://radenagussuparman.files.wordpress.com/2011/02/1770.xls"&gt;form 1770&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;a href="http://radenagussuparman.files.wordpress.com/2011/02/1770_s.xls"&gt;form 1770S&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;a href="http://radenagussuparman.files.wordpress.com/2011/02/1770ss.xls"&gt;form 1770SS&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-8882023308141647671?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/8882023308141647671/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/02/membuat-spt-op.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/8882023308141647671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/8882023308141647671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/02/membuat-spt-op.html' title='Membuat SPT OP'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-3969698477724170184</id><published>2011-02-14T11:28:00.002+07:00</published><updated>2011-02-16T04:48:08.297+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemeriksaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buper'/><title type='text'>Analisis IDLP</title><content type='html'>Dulu .... waktu masih kuliah di Jurangmangu diajarkan bahwa data dan informasi itu dua sisi yang berbeda. Intinya, informasi adalah data yang sudah diproses atau diolah. Data itu bahan baku dan informasi itu barang jadi. Kira-kira begitu kalau di manufaktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dalam perpajakan, data dan informasi itu bisa dalam posisi yang sama, sebagai bahan baku. Pengertiannya pun berbeda dengan pengertian informasi diatas. Sikan perhatikan pengertian IDLP yang dicantumkan di peraturan menteri keuangan berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;informasi&lt;/b&gt; adalah keterangan baik yang disampaikan secara lisan maupun tertulis yang dapat dikembangkan dan dianalisis untuk mengetahui ada tidaknya bukti permulaan tindak pidana di bidang perpajakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;data&lt;/b&gt; adalah kumpulan angka, huruf, kata, atau citra yang bentuknya dapat berupa surat, dokumen, buku atau catatan, baik dalam bentuk elektronik maupun bukan elektronik, yang dapat dikembangkan dan dianalisis untuk mengetahui ada tidaknya bukti permulaan tindak pidana di bidang perpajakan, yang menjadi dasar pelaporan yang belum dianalisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;laporan&lt;/b&gt; adalah pemberitahuan yang disampaikan oleh seorang atau institusi karena hak atau kewajiban berdasarkan undang-undang kepada pejabat yang berwenang tentang telah atau sedang atau diduga akan terjadinya tindak pidana di bidang perpajakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;pengaduan&lt;/b&gt; adalah pemberitahuan disertai permintaan oleh pihak yang berkepentingan kepada pejabat yang berwenang untuk menindak menurut hukum seorang yang telah melakukan tindak pidana aduan di bidang perpajakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi, data, laporan, dan pengaduan disingkat IDLP. Kesemuanya akan menjadi bahan yang akan diolah oleh analis IDLP. Petugas analis IDLP ini merupakan spesialisasi baru di DJP. Disebut spesialisasi karena untuk menjadi analis IDLP, seorang pegawai DJP harus didiklat dulu, khusus Diklat Analisis IDLP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Peraturan Direktur Jenderal Pajak nomor &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;id_topik=&amp;amp;id_jenis=&amp;amp;p_tgl=tahun&amp;amp;tahun=2010&amp;amp;nomor=38&amp;amp;q=&amp;amp;q_do=macth&amp;amp;cols=isi&amp;amp;hlm=1&amp;amp;page=show&amp;amp;id=14400"&gt;PER-38/PJ/2010&lt;/a&gt; bahwa IDLP akan diterima dan dianalisis oleh analis IDLP. Produk dari analisis IDLP ada tiga tipe / kelompok :&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kelompok A&lt;/b&gt; adalah IDLP dengan indikasi kuat terjadinya tindak pidana perpajakan, ditindaklanjuti dengan usul Pemeriksaan Bukti Permulaan.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kelompok B&lt;/b&gt; adalah IDLP dengan indikasi lemah terjadinya tindak pidana perpajakan, ditindaklanjuti dengan rekomendasi Pemeriksaan Khusus.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kelompok C&lt;/b&gt; adalah IDLP tidak menunjukkan adanya indikasi tindak pidana perpajakan, ditindaklanjuti dengan mengarsipkan sementara dan akan diproses kembali apabila di kemudian hari terdapat IDLP baru yang berhubungan atau mengirimkan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar atau seharusnya terdaftar untuk dapat dimanfaatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum sampai pada kesimpulan, analis IDLP akan menguraikan fakta-fakta IDLP, antara lain:&lt;br /&gt;1. identitas pelapor/sumber IDLP;&lt;br /&gt;2. identitas terlapor;&lt;br /&gt;3. indikasi tindak pidana perpajakan;&lt;br /&gt;4. dokumen yang dilampirkan; dan&lt;br /&gt;5. kronologis penanganan yang telah dilakukan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian analis IDLP juga bisa mengembangkan IDLP dengan cara :&lt;br /&gt;1. membandingkan IDLP dengan data internal dan eksternal;&lt;br /&gt;2. mengidentifikasi ada tidaknya tindak pidana perpajakan;&lt;br /&gt;3. mengidentifikasi modus operandi yang dilakukan;&lt;br /&gt;4. memperkirakan kerugian negara yang ditimbulkan; dan&lt;br /&gt;5. mengidentifikasi calon tersangka dan calon saksi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir baru pada kesimpulan IDLP, yaitu berupa :&lt;br /&gt;1. kesimpulan&lt;br /&gt;2. usul tindak lanjut &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dalam proses pengembangan, jika analis IDLP merasa bahwa &amp;quot;bahan-bahan&amp;quot; untuk pengembangan dan analisis IDLP belum cukup, maka analis IDLP juga bisa meminta &amp;quot;bahan-bahan&amp;quot; tambahan lebih lanjut dengan pengamatan dan kegiatan intelijen perpajakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengamatan&lt;/b&gt; adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Pengamat untuk mencocokkan data, informasi, laporan, dan/atau pengaduan dengan fakta, dan membahas serta mengembangkan data, informasi, laporan, dan/atau pengaduan tersebut untuk memperoleh petunjuk adanya dugaan telah terjadi tindak pidana di bidang perpajakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kegiatan intelijen perpajakan&lt;/b&gt; adalah serangkaian kegiatan dalam siklus intelijen yang dilakukan oleh petugas intelijen perpajakan yang meliputi perencanaan, pengumpulan, pengolahan dan penyajian sehingga diperoleh suatu produk intelijen yang berisi data dan/atau informasi terkait Wajib Pajak sehubungan dengan terjadinya suatu transaksi, peristiwa, dan/atau keadaan yang diperkirakan berkaitan dengan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak dan/atau indikasi tindak pidana di bidang perpajakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Peraturan Direktur Jenderal Pajak nomor PER-3/PJ/2011 pengamatan dilakukan oleh :&lt;br /&gt;1. Pengamat di Direktorat Intelijen dan Penyidikan&lt;br /&gt;2. Pengamat di Kanwil DJP&lt;br /&gt;yang dilakukan berdasarkan Surat Perintah Pengamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan pengamatan, kegiatan intelijen perpajakan hanya dilakukan oleh petugas intelijen perpajakan. PER-3/PJ/2011 tidak menyebutkan apakah kegiatan intelijen perpajakan bekerja berdasaran surat perintah intelijen atau surat apa. Tetapi hasil kegiatan intelijen perpajakan berupa Laporan Hasil Intelijen Perpajakan yang secara administrasi disampaikan oleh Kepala Sub Direktorat (kasubdit) Intelijen Perpajakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan Pengamatan dan Laporan Hasil Intelijen Perpajakan kemudian dimanfaatkan oleh analis IDLP sebagai bahan &amp;quot;olahan&amp;quot; IDLP. Dengan lengkapnya &amp;quot;bahan-bahan&amp;quot; untuk dioleh oleh analis IDLP, diharapkan analis IDLP lebih akurat untuk membuat kesimpulan analisis IDLP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salaam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-3969698477724170184?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/3969698477724170184/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/02/analisis-idlp.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/3969698477724170184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/3969698477724170184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/02/analisis-idlp.html' title='Analisis IDLP'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-6221203244681451327</id><published>2011-02-09T16:47:00.002+07:00</published><updated>2011-02-09T18:26:10.615+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BUT'/><title type='text'>Penanaman kembali laba BUT</title><content type='html'>Bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha (kendaraan) yang dipergunakan oleh subjek pajak luar negeri, baik orang pribadi maupun badan. Walaupun demikian, bentuk usaha tetap (BUT) dalam administrasi perpajakan di Indonesia seperti wajib pajak badan. Kendaraan ini tentu saja untuk mendapatkan penghasilan dari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakikatnya, BUT itu subjek pajak luar negeri. Karena masih dianggap subjek pajak luar negeri, maka atas penghasilan yang diperoleh dari Indonesia maka setelah dikenakan PPh Badan sebagaimana dimaksud di Pasal 17 UU PPh, juga wajib bayar PPh Pasal 26 sebesar 20%. Asumsi yang dipakai adalah penghasilan neto setelah pajak dikirim ke luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika penghasilan neto setelah pajak ternyata tidak dikirim ke luar negeri, maka tidak ada kewajiban PPh Pasal 26. Hal ini ditegaskan di Pasal 26 ayat (4) UU PPh dan diatur lebih lanjut di Peraturan Menteri Keuangan No. &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;page=show&amp;amp;id=14587"&gt;14/PMK.03/2011&lt;/a&gt;. Secara garis besar aturannya seperti dibawah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="background-color: rgb(255, 255, 51);"&gt;Bentuk penyertaan&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;[1]. penyertaan modal pada perusahaan yang baru didirikan dan berkedudukan di Indonesia sebagai pendiri atau peserta pendiri dengan syarat :&lt;br /&gt;[a]. perusahaan baru yang secara aktif telah melakukan kegiatan usaha sesuai akta pendiriannya, paling lama 1 (satu) tahun sejak perusahaan tersebut didirikan; dan&lt;br /&gt;[b]. BUT yang bersangkutan tidak boleh melakukan pengalihan selama 2 (dua) tahun sejak perusahaan baru dimaksud berproduksi komersial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. penyertaan modal pada perusahaan yang sudah didirikan dan berkedudukan di Indonesia sebagai pemegang saham dengan syarat :&lt;br /&gt;[a]. perusahaan yang mempunyai kegiatan usaha aktif di Indonesia; dan&lt;br /&gt;[b]. BUT yang bersangkutan tidak boleh melakukan pengalihan selama 3 (tiga) tahun sejak penyertaan modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. pembelian aktiva tetap yang digunakan oleh Bentuk Usaha Tetap untuk menjalankan usaha Bentuk Usaha Tetap atau melakukan kegiatan Bentuk Usaha Tetap di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]. investasi berupa aktiva tidak berwujud oleh Bentuk Usaha Tetap untuk menjalankan usaha Bentuk Usaha Tetap atau melakukan kegiatan Bentuk Usaha Tetap di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika BUT melakukan penanaman modal dalam bentuk pembelian aktiva tetap dan investasi berupa aktiva maka BUT tidak boleh melakukan pengalihan paling sedikit dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="background-color: rgb(255, 255, 51);"&gt;Saat penanaman modal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;[1] . paling lama pada akhir Tahun Pajak berikutnya, setelah Tahun Pajak diperolehnya penghasilan tersebut bagi Bentuk Usaha Tetap yang bersangkutan, dan &lt;br /&gt;[2]. menyampaikan pemberitahuan secara tertulis mengenai bentuk penanaman modal, realisasi penanaman kembali yang telah dilakukan dan/atau saat mulai berproduksi komersial bagi perusahaan yang baru didirikan, yang dilakukan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salaam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-6221203244681451327?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/6221203244681451327/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/02/penanaman-kembali-laba-but.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/6221203244681451327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/6221203244681451327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/02/penanaman-kembali-laba-but.html' title='Penanaman kembali laba BUT'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-7160130100253041622</id><published>2011-01-31T14:23:00.001+07:00</published><updated>2011-02-11T15:25:21.407+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Restitusi'/><title type='text'>kelebihan pembayaran pajak</title><content type='html'>&lt;div&gt;Walaupun banyak pihak yang menengarai bahwa restitusi pajak merupakan salah satu celah korupsi, sebenarny [seharusnya bahkan] restitusi merupakan hak Wajib Pajak karena kelebihan pembayaran pajak. Misalkan perusahaan Dana Pensiun menyimpan uang di deposito bank. Kemudian karena tidak ada surat keterangan bebas [SKB], maka bank langsung memotong PPh Final atas bunga deposito. Padahal, badi Dana Pensiun, bung deposito tersebut bukan penghasilan sehingga tidak seharusnya di terutang PPh.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Banyak kondisi kenapa restitusi terjadi. Berikut saya salin dari Pasal 2 dan Pasal 3 Peraturan Menteri Keuangan No. 16/PMK.03/2011 kelebihan pembayaran PPh, PPN, PPnBM, dan PBB :&lt;/div&gt;&lt;div&gt;[1]. pajak yang lebih dibayar sebagaimana tercantum dalam SKPLB sebagaimana dimaksud Pasal 17 ayat (1) UU KUP;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;[2]. pajak yang seharusnya tidak terutang sebagaimana tercantum dalam SKPLB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 (2) UU KUP;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;[3]. pajak yang lebih dibayar sebagaimana tersentum dalam SKPLB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17B UU KUP;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;[4]. pajak yang lebih dibayar sebagaimana tercantum dalam Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17C UU KUP;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;[5]. pajak yang lebih dibayar sebagaimana tersecntum dalam Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17D U KUP;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;[6]. pajak yang telah dibayar atas pembelian Barang Kena Pajak yang dibaywa ke luar Daerah Pabean oleh orang pribadi pemegang paspor luar negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17E UU KUP dan Pasal 16E UU PPN;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;[7] pajak yang lebih dibayar sebagaimana tercantum dalam Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 (4c) UU PPN;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;[8]. pajak yang lebih dibayar karena diterbitkan Surat Keputusan Keberatan atau Putusan Banding atau Putusan Peninjauan Kembalia oleh Mahkamah Agung;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;[9]. pajak yang lebih dibayar karena diterbitkan Surat Keputusan Pembetulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 UU KUP;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;[10]. pajak yang lebih dibayar karena diterbitkan Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi atau Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 (1) huruf a UU KUP;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;[11]. pajak yang lebih dibayar karena diterbitkat Surat Keputusan Pengurangan Surat Ketetapan Pajak atau Surat Keputusan Pembatalan Surat Ketetapan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 (1) huruf b UU KUP;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;[12]. pajak yang lebih dibayar karena diterbitkan Surat Keputusan Pengurangan Surat Tagihan Pajak atau Surat Keputusan Pembatalan Surat Tagihan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 (1) huruf c UU KUP;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;[13]. PBB yang lebih dibayar karena diterbitkan SKKP PBB;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;[14]. PBB yang lebih dibayar karena diterbitkan Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali oleh Mahkamah Agung;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;[15]. PBB yang lebih dibayar karena diterbitkan Surat Keputusan Pemberian Pengurangan PBB sebagaimana dimaksud dalam Pasl 19 UU PBB;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;[16]. PBB yang lebih dibayar karena diterbitkan Surat Keputusan Pengurangan Denda Administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 UU PBB;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;[17]. PBB yang lebih dibayar karena diterbitkan Surat Keputusan Pembetulan PBB sebagaimana dimaksud dalam Pasal  16 UU KUP;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;[18]. PBB yang lebih dibayar karena diterbitkan Surat Keputusan Pengurangan Sanksi Administrasi atau Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 (1) huruf a UU KUP;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;[19]. PBB yang lebih dibayar karena diterbitkat Surat Keputusan Pengurangan Surat Ketetapan Pajak PBB atau Surat Keputusan Pembatalan Surat Ketetapan Pajak PBB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 (1) huruf b UU KUP;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;[20]. PBB yang lebih dibayar karena diterbitkan Surat Keputusan Pengurangan Surat Tagihan Pajak PBB atau Surat Keputusan Pembatalan Surat Tagihan Pajak PBB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 (1) huruf c UU KUP;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ternyata, banyak juga pintu resitusi. Restitusi atai kelebihan pembayaran pajak diatas akan dikembalikan kepada Wajib Pajak setelah dikurangkan dengan utang pajak. Misalkan saya dapat SKPLB Rp.15 milyar, tetapi saya punya utang pajak di DJP sebesar Rp. 13 milyar maka yang saya terima hanya Rp.2 milyar saja. Kelebihan yang Rp.2 milyar tersebut paling lambat satu bulan harus sudah saya terima. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;*** dari file pdf yang saya baca, restitusi karena Pasal 20 UU PBB ada di halaman 5 akhir dan halaman 6 awal ***&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;-- &lt;br /&gt;&lt;font style="BACKGROUND-COLOR: rgb(255,255,0); COLOR: rgb(51,51,255)" size="2"&gt;jabat erat dari :&lt;/font&gt;&lt;br style="BACKGROUND-COLOR: rgb(255,255,0); COLOR: rgb(51,51,255)"&gt;&lt;a style="COLOR: rgb(51,51,255)" href="http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455" target="_blank"&gt;&lt;u style="BACKGROUND-COLOR: rgb(255,255,0)"&gt;&lt;font style="COLOR: rgb(255,0,0)"&gt;&lt;b&gt;Raden Agus Suparman&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;/u&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-7160130100253041622?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/7160130100253041622/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/01/kelebihan-pembayaran-pajak.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7160130100253041622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7160130100253041622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/01/kelebihan-pembayaran-pajak.html' title='kelebihan pembayaran pajak'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-3045330898206137908</id><published>2011-01-27T14:29:00.003+07:00</published><updated>2011-01-27T14:46:49.334+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 22'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 24'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 4 (2)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 21'/><title type='text'>Legalisasi SKB Potput</title><content type='html'>Menyambung posting tentang SKP Potput, ada Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak No. SE-11/PJ/2011 [kayaknya diteken sehari sebelum pergantian dirjen] yang memudahkan Wajib Pajak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SKB Potput adalah surat keterangan dari KPP terdaftar bahwa Wajib Pajak tersebut dalam SKB tersebut tidak perlu dilakukan pemotongan oleh pemberi penghasilan. Artinya, SKB tersebut berfungsi supaya penghasilan kita tidak dipotong PPh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja KPP tidak memberikan surat dalam jumlah banyak. SKB tersebut diberikan satu kali saja. Tetapi bisa jadi pelanggan kita banyak. Supaya masing-masing pelanggan tidak memotong PPh, maka masing-masing tentu perlu SKB tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya, pemotong itu mendapatkan SKB asli. Tetapi ini akan merepotkan WP dan kantor pajak sendiri. Sehingga jalan keluarnya, atas SKB tersebut bisa difotokopi atau diperbanyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SE-11/PJ/2011 mengatur bahwa Wajib Pajak dapat menggunakan fotokopi SKB yang telah dilegalisasi oleh KPP penerbit. Tanpa legalisasi, tentu fotokopi SKB tidak boleh diterima. Artinya bisa jadi pemberi penghasilan tetap memotong PPh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan legalisasi SKB tersebut, KPP wajib menyelesaikan dalam satu hari saja!!!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terbayang, bagaimana jika yang mengajukan legalisasi ratusan Wajib Pajak dan masing-masing meminta legalisasi sebanyak 50 buah. Pegel dah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salaam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-3045330898206137908?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/3045330898206137908/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/01/legalisasi-skb-potput.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/3045330898206137908'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/3045330898206137908'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/01/legalisasi-skb-potput.html' title='Legalisasi SKB Potput'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-5622607439067687270</id><published>2011-01-27T08:56:00.003+07:00</published><updated>2011-01-27T22:04:54.462+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 22'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 23'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 4 (2)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 21'/><title type='text'>SKB POTPUT</title><content type='html'>Potput adalah pemotongan PPh oleh pihak lain. Potput merupakan cicilan pajak atas PPh terutang pada tahun berjalan. Bentuknya bisa berupa PPh Pasal 21, PPh Pasal 22, dan PPh Pasal 23.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi perusahaan kita sebenarnya tidak dalam kondisi untung secara fiskal. Penyebabnya bisa karena memang ada kompensasi kerugian yang belum dimanfaatkan, cicilan PPh Pasal 25 terlalu besar padahal bisnis sedang turun sehingga prediksi laba usaha akan turun juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika perusahaan seperti itu, kemudian terdapat potput oleh pihak lain tentunya pada akhir tahun kita akan kelebihan pembayaran PPh. Untuk mengurangi itu, wajib pajak dapat meminta SKB (surat keterangan bebas) potput oleh pihak lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan Direktur Jenderal No. PER-1/PJ/2011 menentukan bahwa SKP Potput diberikan kepada :&lt;br /&gt;a. WP rugi fiskal baik karena WP baru dan masih tahap investasi, belum sampai pada tahup produksi, WP mengalami force majeur;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Rugi fiskal karena kompensasi kerugian tahun sebelumnya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Cicilan yang sudah dibayar lebih besar daripada prediksi PPh terutang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. WP atas penghasilannya dikenakan PPh Final.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan mengajukan permohonan SKB ke KKP terdaftar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salaam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-5622607439067687270?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/5622607439067687270/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/01/skp-potput.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/5622607439067687270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/5622607439067687270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/01/skp-potput.html' title='SKB POTPUT'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-7044809464862329144</id><published>2011-01-20T09:43:00.008+07:00</published><updated>2011-01-20T10:05:16.473+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 26'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Objek PPN'/><title type='text'>Film Impor</title><content type='html'>Saya kira ini merupakan kabar baik bagi para importir film. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak No. SE-3/PJ/2011 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan Berupa Royalti dan Perlakuan Pajak Pertambahan Nilai atas Pemasukkan Film Impor menegaskan aturan royalti film impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti dari SE-3/PJ/2011 kira-kira seperti ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Apabila atas penghasilan yang dibayarkan sehubungan dengan pembelian film impor :&lt;br /&gt;1. selusuh hak cipta (termasuk hak edar di negara lain) telah berpindah tanpa persyaratan tertentu, termasuk tanpa ada kewajiban pembayaran kompensasi di kemudian hari; atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. diberikan hak menggunakan hak cipta tanpa hak untuk mengumumkan dan atau memperbanyak ciptaannya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka atas penghasilan yang dibayar ke luar negeri tersebut tidak termasuk dalam pengertian royalti yang dipotong PPh Pasal 26.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, jika dua syarat tersebut dipenuhi maka atas pembelian film impor tidak termasuk pembayaran royalti sehingga &lt;strong&gt;tidak terutang PPh Pasal 26&lt;/strong&gt;. Sebaliknya, jika dua syarat tersebut TIDAK TERPENUHI maka atas pembelian atau pembayaran yang terkait dengan film impor akan terutang PPh Pasal 26 karena dianggap terdapat royalti atas pembayaran tersebut. Wajib Pajak yang melakukan pembayaran wajib melakukan pemotongan PPh Pasal 26. Jika tidak dilakukan pemotongan maka akan menjadi beban Wajib Pajak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan PPN, atas pemasukan film impor tersebut terutang PPN karena merupakan pemenfaatan barang kena pajak tidak berwujud, baik film tersebut disimpan dalam media roll atau "media lain". Dasar pengenaan PPN-nya adalah nilai impor atau nilai yang seharusnya dibayar. Termasuk objek PPN adalah royalti sebagai hasil peredaran film dengan DPP PPN sejumlah "yang seharusnya dibayar".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-7044809464862329144?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/7044809464862329144/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/01/film-impor.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7044809464862329144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7044809464862329144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/01/film-impor.html' title='Film Impor'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-32427151335031790</id><published>2011-01-19T23:50:00.003+07:00</published><updated>2011-01-20T00:47:56.440+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pajak Masukan'/><title type='text'>kompensasi kelebihan PPN bulan lalu</title><content type='html'>Pajak Pertambahan Nilai [PPN] adalah pajak yang dihitung per masa. Jika satu masa pajak sama dengan satu bulan [ini yang paling banyak dipakai] maka perhitungan PPN dibuat setiap bulan. SPT Masa PPN akan dibuat setiap bulan oleh Wajib Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja setiap masa, Wajib Pajak melaporkan pajak keluaran dan pajak masukan. Pajak keluaran adalah jumlah PPN yang telah dipungut oleh Wajib Pajak. Sedangkan pajak masukan adalah jumlah PPN yang sudah dibayar pada saat beli barang. Pajak masukan disebut juga kredit pajak. Selain faktur pajak sebagai bukti pungutan PPN, maka kredit pajak juga termasuk SSP yang sudah disetor. Baik faktur pajak masukan maupun SSP setiap bulan dikreditkan atau diperhitungkan dengan pajak keluaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pajak keluaran lebih banyak daripada pajak masukan, maka kekurangannya akan dibayar oleh Wajib Pajak ke bank persepsi. Tetapi jika pajak masukan lebih besar daripada pajak keluaran maka kelebihan bayar tersebut bisa dikompensasi ke masa pajak atau bulan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, format SPT selalu ada bagian "kompensasi kelebihan PPN bulan lalu" dan "PPN Lebih Bayar yang diminta untuk : dikompensasikan ke bulan berikutnya". Kompensasi kelebihan PPN bulan lalu adalah kredit pajak yang dibawa (carry-over) dari masa pajak sebelumnya. Misalnya, SPT Masa Nopember kelebihan bayar sebesar Rp125juta. Atas kelebihan bayar tersebut kemudian dikompensasi ke bulan berikutnya atau bulan Desember. Maka di SPT Masa Desember akan ada kompensasi kelebihan PPN bulan lalu sebesar Rp.125 juta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompensasi kelebihan PPN bulan lalu tidak boleh dikoreksi. Seandainya pemeriksa pajak berpendapat bahwa kompensasi PPN bulan lalu tersebut salah, maka yang dikoreksi bukan di SPT Masa Desember tapi di bulan dimana kesalahan tersebut terjadi. Hal ini didasarkan pada &lt;a href="http://ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;id_topik=ppn&amp;id_jenis=7100&amp;p_tgl=tahun&amp;tahun=1988&amp;nomor=&amp;q=&amp;q_do=macth&amp;cols=isi&amp;hlm=1&amp;page=show&amp;id=7622"&gt;SE-32/PJ.3/1988&lt;/a&gt; atau seri PPN-124 bahwa :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Jika dalam penerapan S.K. Menteri Keuangan Nomor : 465/KMK.01/1987 telah diterbitkan SKP untuk beberapa Masa Pajak dan diantara Masa Pajak tersebut dalam SKP terdapat kelebihan yang seharusnya tidak dikompensasikan maka atas kelebihan pajak tersebut tidak dikenakan sanksi kenaikan Pasal 13 ayat (3) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kelebihan pajak yang terjadi dalam Masa Pajak terakhir dari Masa Pajak tersebut dalam SKP maka atas kelebihan pajak yang tidak seharusnya dikompensasikan tersebut dikenakan sanksi Pasal 13 ayat (3) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Surat Dirjen Pajak No. S - 3317/PJ.54/1996 lebih mempertegas ketentuan tersebut. Saya kutip poin penting yang terkaitan dengan larangan melakukan koreksi atas kompensasi SPT tersebut :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Mengingat untuk Masa Pajak Januari 1995 sampai dengan Juli 1995 telah diterbitkan SKPKB, sedangkan dalam kredit pajak yang diperhitungkan termasuk PPN yang berasal dari kompensasi Pajak Masukan Masa Desember 1994, maka sesuai dengan prinsip yang dianut dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor SE-32/PJ.3/1988 tanggal 28 Juli 1988 (Seri PPN-124), jumlah PPN (pada SPT Masa Januari 1995) yang berasal dari kompensasi PPN masa Pajak Desember 1994 tersebut &lt;strong&gt;dianggap telah benar&lt;/strong&gt;. Oleh karena itu apabila menurut penelitian Saudara diantara PPN yang lebih dibayar pada asa Pajak Desember 1994, terdapat yang perlu dikoreksi, maka untuk Masa Pajak Desember 1994 tersebut Saudara dapat menerbitkan SKPKB/SKPKBT, bilamana menurut penelitian tersebut jumlah PPN yang lebih dibayar untuk Masa Pajak Desember 1994 lebih kecil dari jumlah PPN yang sudah dikompensasikan dalam Masa Pajak Januari 1995, dengan disertai denda Pasal 13 ayat (3) sebesar 100% dari PPN yang tidak seharusnya dikompensasikan.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SE-32/PJ.3/1988 sampai dengan sekarang belum dicabut. Di tahun 2003, masih ada pertanyaan yang berkaitan perhitungan koreksi PPN yang mengacu ke SE-32/PJ.3/1988. Setidaknya menurut "catatan" MyTax Professional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu juga saya menerima tembusan surat dari Komwas Perpajakan yang berkaitan dengan kompensasi ini. Komwas Perpajakan berpendapat bahwa kompensasi kelebihan PPN bulan lalu tidak bisa dikoreksi. Seandainya ada kesalahan kompensasi, maka koreksi bisa dilakukan dibulan sebelum kompensasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkesimpulan bahwa pemeriksa pajak hanya diperkenankan melakukan koreksi atas faktur pajak yang dikreditkan oleh Wajib Pajak. Koreksi hanya dilakukan untuk faktur per faktur dengan alasan berdasarkan Pasal 9 ayat (8) UU PPN. Kompensasi yang ditulis oleh Wajib Pajak di SPT Masa PPN &lt;strong&gt;tidak boleh diko&lt;/strong&gt;reksi. Sanksi Pasal 13 (3) UU KUP berupa kenaikan sebesar 100% dari kurang bayar berfungsi sebagai koreksi atas kredit pajak yang telanjur dikompensasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salaam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-32427151335031790?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/32427151335031790/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/01/kompensasi-lebih-bayar-ppn.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/32427151335031790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/32427151335031790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/01/kompensasi-lebih-bayar-ppn.html' title='kompensasi kelebihan PPN bulan lalu'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-7067884033343791104</id><published>2011-01-19T22:03:00.005+07:00</published><updated>2011-01-19T22:49:38.895+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 22'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 26'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 23'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 21'/><title type='text'>Saat Terutang Potput</title><content type='html'>Di penghujung tahun 2010 kemarin, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. &lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;id_topik=&amp;id_jenis=3000&amp;p_tgl=tahun&amp;tahun=&amp;nomor=94&amp;q=&amp;q_do=macth&amp;cols=isi&amp;hlm=1&amp;page=show&amp;id=14538"&gt;94 Tahun 2010&lt;/a&gt; tentang Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan Dalam Tahun Berjalan. Salah satu pasalnya mengatur tentang saat terutang bagi PPh Pasal 21, PPh Pasal 22, PPh Pasal 23, dan PPh Pasal 26.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat terutang atau saat dipotong oleh pemotong sebenarnya sudah diatur di UU PPh. Mungkin peraturan pemerintah ini lebih mempertegas lagi. Secara lengkap saya salin Pasal 15 PP No. 94 Tahun 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;(1) Pemotongan Pajak Penghasilan oleh pihak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) Undang-Undang Pajak Penghasilan dilakukan pada akhir bulan: &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a. terjadinya pembayaran; atau&lt;br /&gt;b. terutangnya penghasilan yang bersangkutan,&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;tergantung peristiwa yang terjadi terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Pemungutan Pajak Penghasilan oleh pihak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Pajak Penghasilan, dilakukan pada saat: &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a. pembayaran; atau&lt;br /&gt;b. tertentu lainnya yang diatur oleh Menteri Keuangan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Pemotongan Pajak Penghasilan oleh pihak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) dan ayat (3) Undang-­Undang Pajak Penghasilan, dilakukan pada akhir bulan: &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a. dibayarkannya penghasilan;&lt;br /&gt;b. disediakan untuk dibayarkannya penghasilan; atau&lt;br /&gt;c. jatuh temponya pembayaran penghasilan yang bersangkutan,&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;tergantung peristiwa yang terjadi terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Pemotongan Pajak Penghasilan oleh pihak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) Undang-Undang Pajak Penghasilan, dilakukan pada akhir bulan: &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a. dibayarkannya penghasilan;&lt;br /&gt;b. disediakan untuk dibayarkannya penghasilan; atau&lt;br /&gt;c. jatuh temponya pembayaran penghasilan yang bersangkutan,&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;tergantung peristiwa yang terjadi terlebih dahulu.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "saat disediakan untuk dibayarkan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. untuk perusahaan yang tidak go public, adalah saat dibukukan sebagai utang dividen yang akan dibayarkan, yaitu pada saat pembagian dividen diumumkan atau ditentukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan. Demikian pula apabila perusahaan yang bersangkutan dalam tahun berjalan membagikan dividen sementara (dividen interim), maka Pajak Penghasilan Pasal 23/26 Undang-Undang Pajak Penghasilan terutang pada saat diumumkan atau ditentukan dalam Rapat Direksi atau pemegang saham sesuai dengan Anggaran Dasar perseroan yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. untuk perusahaan yang go public, adalah pada tanggal penentuan kepemilikan pemegang saham yang berhak atas dividen (recording date). Dengan perkataan lain pemotongan Pajak Penghasilan atas dividen sebagaimana diatur dalam Pasal 23/26 Undang-Undang Pajak Penghasilan baru dapat dilakukan setelah para pemegang saham yang berhak "menerima atau memperoleh" dividen tersebut diketahui meskipun dividen tersebut belum diterima secara tunai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan "saat jatuh tempo pembayaran" adalah saat kewajiban untuk melakukan pembayaran yang didasarkan atas kesepakatan, baik yang tertulis maupun tidak tertulis dalam kontrak atau perjanjian atau faktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang belum paham pasal-pasal diatas, saya mengingatkan kembali :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/search/label/PPh%20Pasal%2021"&gt;PPh Pasal 21&lt;/a&gt; adalah cicilan pajak penghasila terutang yang dipotong oleh pemberi penghasilan atas penghasilan yang diterima oleh Wajib Pajak orang pribadi baik yang berstatus karyawan maupun bukan. Cicilan ini pada akhir tahun akan dikreditkan atau diperhitungkan kembali oleh penerima penghasilan di SPT Tahunan PPh OP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/search/label/PPh%20Pasal%2022"&gt;PPh Pasal 22&lt;/a&gt; adalah pajak yang dipotong oleh bendaharawan pemerintah dan Wajib Pajak usaha tertentu. Besaran tarif terbaru PPh Pasal 22 diatur di &lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/2010/12/pph-pasal-22-impor-dan-badan-tertentu.html"&gt;PMK-154/2010&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/2010/12/pph-pasal-22-impor-dan-badan-tertentu.html"&gt;PPh Pasal 23&lt;/a&gt; adalah pajak penghasilan yang dipotong oleh pemberi penghasilan atas kegiatan jasa tertentu. Daftar jasa-jasa yang merupakan objek PPh Pasal 23 yang saya posting bulan &lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/2009/01/daftar-objek-pph-pasal-23.html"&gt;Januari 2009&lt;/a&gt; masih berlaku sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://pajaktaxes.blogspot.com/search/label/PPh%20Pasal%2026"&gt;PPh Pasal 26&lt;/a&gt; adalah pajak penghasilan yang dipotong oleh Wajib Pajak dalam negeri atas penghasilan yang diterima oleh Wajib Pajak Luar Negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik PPh Pasal 22 maupun PPh Pasal 23 merupakan cicilan pajak penghasilan bagi penerima penghasilan. Sehingga, pada saat pemotongan, penerima penghasilan WAJIB meminta SSP atau Bukti Potong. Bukti Potong ini akan diperhitungkan kembali pada akhir tahun di SPT Tahunan PPh Badan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-7067884033343791104?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/7067884033343791104/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/01/saat-terutang-potput.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7067884033343791104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7067884033343791104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/01/saat-terutang-potput.html' title='Saat Terutang Potput'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-7149580751707025223</id><published>2011-01-10T09:23:00.004+07:00</published><updated>2011-01-10T10:15:30.801+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Migas'/><title type='text'>Biaya Fiskal untuk Migas</title><content type='html'>Sekarang perusahaan kontrak bagi hasil migas atau Kontraktor tidak bisa seenaknya saja membebankan biaya. Kalau dulu, ada yang bilang, " .. mereka pesta pun dimintakan kembali ..." Seolah-olah, apapun pengeluaran yang dilakukan Kontraktor maka dapat dimintakan pengembalian dari pemerintah dan dapat dibiayakan dalam penghitungan Pajak Penghasilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan terbitnya Peraturan Pemerintah No. 79 Tahun 2010 tentang Biaya Operasi Yang Dapat Dikembalikan, maka ada beberapa pengeluaran Kontraktor yang tidak dapat dikembalikan dalam penghitungan bagi hasil dan pajak penghasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 13 PP 79 tahun 2010 berbunyi :&lt;br /&gt;Jenis biaya operasi yang tidak dapat dikembalikan dalam penghitungan bagi hasil dan pajak penghasilan meliputi :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;a. biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi dan / atau keluarga dari pekerja, pengurus, pemegang participating interest, dan pemegang saham;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. pembentukan atau pemupukan dana cadangan, kecuali biaya penutupan dan pemulihan tambang yang disimpan pada rekening bersama Badan Pelaksana dan kontraktor dalam rekening bank umum Pemerintah Indonesia yang berada di Indonesia;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. harta yang dihibahkan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidana berupa denda yang berkaitan dengan pelaksanaan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan serta tagihan atau denda yang timbul akibat kesalahan kontraktor karena kesengajaan atau kealpaan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. biaya penyusutan atas barang dan peralatan yang digunakan yang bukan milik negara;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. insentif, pembayaran iuran pensiun, dan premi asuransi untuk kepentingan pribadi dan /atau keluarga dari tenaga kerja asing, pengurus, dan pemegang saham;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. biaya tenaga asing yang tidak memenuhi prosedur rencana penggunaan tenaga kerja asing (RPTKA) atau tidak memiliki izin kerja tenga asing (IKTA);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. biaya konsultan hukum yang tidak terkait langsung dengan dengan operasi perminyakan dalam rangka kontrak kerja sama;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. biaya konsultan pajak;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;j. biaya pemasaran minyak dan / atau gas bumi bagian kontraktor, kecuali biaya pemasaran gas bumi yang telah disetujui Kepala Badan Pelaksana;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;k. biaya represesentasi, termasuk biaya jamuan dengan nama dan dalam bentuk apapun, kecuali disertai dengan daftar nominatif penerima manfaat dan nomor pokok wajib pajak (NPWP) penerima manfaat;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;l. biaya pengembangan lingkungan dan masyarakat setempat pada masa eksploitasi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;m. biaya pelatihan teknis untuk tenaga kerja asing;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;n. biaya terkait merger, akuisisi, atau biaya pengalihan participating interest;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o. biaya bunga atas pinjaman;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;p. pajak penghasila karyawan yang ditanggung kontraktor maupun dibayarkan sebagai tunjangan pajak dan pajak penghasilan yang wajib dipotong atau dipungut atas penghasilan pihak ketiga yang ditanggung kontraktor atau di-gross-up;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;q. pengadaan barang dan jasa serta kegiatan lainnya yang tidak sesuai dengan prinsip kewajaran dan kaidah keteknikan yang baik, atau yang melampaui nilai persetujuan otorisasi pengeluaran di atas 10% (sepuluh persen) dari nilai otorisasi pengeluaran;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;r. surplus material yang berlebihan akibat kesalahn perencaan dan pembelian;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;s. nilai buku dan biaya pengoperasian aset yang telah digunakan yang tidak dapat beroperasi lagi akibat kelalaian kontraktor;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;t. transaksi yang :&lt;br /&gt;1. merugikan negera;&lt;br /&gt;2. tidak melalui proses tender sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan kecuali dalam hal tertentu; atau;&lt;br /&gt;3. bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;u. bonus yang dibayarkan kepada Pemerintah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v. biaya yang terjadi sebelum penandatanganan kontrak;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;w. insentif interest recovery; dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;x biaya audit komersial.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus banyak belajar lagi nih ....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-7149580751707025223?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/7149580751707025223/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/01/biaya-fiskal-untuk-migas.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7149580751707025223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/7149580751707025223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/01/biaya-fiskal-untuk-migas.html' title='Biaya Fiskal untuk Migas'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-8935746348969048028</id><published>2011-01-10T09:08:00.002+07:00</published><updated>2011-01-10T10:16:51.196+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Faktur Pajak'/><title type='text'>Dokumen yang dipersamakan dengan Faktur Pajak</title><content type='html'>&lt;font size="2"&gt;Ada tiga tambahan [baru] dokumen yang kedudukannya dipersamakan dengan Faktur Pajak. Sebelumnya, dokumen tertentu yang dipersamakan dengan Faktur Pajak adalah :&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="vertical-align: top; width: 32px;"&gt;&lt;font size="2"&gt;a.&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 1096px; text-align: justify;"&gt;&lt;font size="2"&gt;Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) yang telah diberikan persetujuan ekspor oleh pejabat yang berwenang dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan dilampiri dengan invoice yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan PEB tersebut;&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 32px;"&gt;&lt;font size="2"&gt;b.&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 1096px; text-align: justify;"&gt;&lt;font size="2"&gt;Surat Perintah Penyerahan Barang (SPPB) yang dibuat/dikeluarkan oleh BULOG/DOLOG untuk penyaluran tepung terigu;&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 32px;"&gt;&lt;font size="2"&gt;c.&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 1096px; text-align: justify;"&gt;&lt;font size="2"&gt;Paktur Nota Bon Penyerahan (PNBP) yang dibuatkan/dikeluarkan oleh PERTAMINA untuk penyerahan Bahan Bakar Minyak dan/atau bukan Bahan Bakar Minyak;&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 32px;"&gt;&lt;font size="2"&gt;d.&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 1096px; text-align: justify;"&gt;&lt;font size="2"&gt;Bukti tagihan atas penyerahan jasa telekomunikasi oleh perusahaan telekomunikasi;&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 32px;"&gt;&lt;font size="2"&gt;e.&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 1096px; text-align: justify;"&gt;&lt;font size="2"&gt;Tiket, tagihan Surat Muatan Udara (Airway Bill), atau Delivery Bill, yang dibuat/dikeluarkan untuk penyerahan jasa angkutan udara dalam negeri;&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 32px;"&gt;&lt;font size="2"&gt;f.&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 1096px; text-align: justify;"&gt;&lt;font size="2"&gt;Nota Penjualan Jasa yang dibuat/dikeluarkan untuk penyerahan jasa kepelabuhanan;&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 32px;"&gt;&lt;font size="2"&gt;g.&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 1096px; text-align: justify;"&gt;&lt;font size="2"&gt;Bukti tagihan atas penyerahan listrik oleh perusahaan listrik;&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 32px;"&gt;&lt;font size="2"&gt;h.&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 1096px; text-align: justify;"&gt;&lt;font size="2"&gt;Pemberitahuan Ekspor Jasa Kena Pajak/Barang Kena Pajak Tidak Berwujud yang dilampiri dengan invoice yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Pemberitahuan Ekspor Jasa Kena Pajak/Barang Kena Pajak Tidak Berwujud, untuk ekspor Jasa Kena Pajak/Barang Kena Pajak Tidak Berwujud;&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 32px;"&gt;&lt;font size="2"&gt;i.&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 1096px; text-align: justify;"&gt;&lt;font size="2"&gt;Pemberitahuan Impor Barang (PIB) dan dilampiri dengan Surat Setoran Pajak, Surat Setoran Pabean, Cukai dan Pajak (SSPCP), dan/atau bukti pungutan pajak oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan PIB tersebut, untuk impor Barang Kena Pajak;&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 32px;"&gt;&lt;font size="2"&gt;j.&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 1096px; text-align: justify;"&gt;&lt;font size="2"&gt;Surat Setoran Pajak untuk pembayaran Pajak Pertambahan Nilai atas pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud atau Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean.&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;font size="2"&gt;&lt;br /&gt;Dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. PER-67/PJ/2010 ada tambahan :&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="vertical-align: top; width: 32px; color: rgb(0, 0, 102);"&gt; &lt;font size="2"&gt;k.&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 1096px; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;font size="2"&gt;Bukti tagihan atas penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak oleh Perusahaaan Air Minum; &lt;/font&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 32px; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;font size="2"&gt;l.&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 1096px; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;font size="2"&gt;Bukti tagihan (Trading Confirmation) atas penyerahan Jasa Kena Pajak oleh perusahaan perantara efek; dan&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 32px; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;font size="2"&gt;m.&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 1096px; text-align: justify; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;font size="2"&gt;Bukti tagihan atas penyerahan Jasa Kena Pajak oleh perbankan.&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;font size="2"&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, PER-67/PJ/2010 mengubah dua istilah, yaitu :&lt;br /&gt;* &lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Tanda pembayaran atau kuitansi untuk penyerahan jasa telekomunikasi&lt;/span&gt; menjadi &amp;quot;Bukti tagihan atas penyerahan jasa telekomunikasi oleh perusahaan telekomunikasi&amp;quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Tanda pembayaran atau kuitansi listrik&lt;/span&gt; menjadi &amp;quot;Bukti tagihan atas penyerahan listrik oleh perusahaan listrik&amp;quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, dokumen-dokumen tersebut tetap harus mencantumkan informasi minimal supaya tetap diakui sebagai Faktur Pajak. Informasi minimal yang harus ada adalah  :&lt;br /&gt; &lt;/font&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="vertical-align: top; width: 32px;"&gt;&lt;font size="2"&gt;a.&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 1096px; text-align: justify;"&gt;&lt;font size="2"&gt;Nama, alamat dan NPWP yang melakukan ekspor atau penyerahan;&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 32px;"&gt;&lt;font size="2"&gt;b.&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 1096px; text-align: justify;"&gt;&lt;font size="2"&gt;Jumlah satuan barang apabila ada;&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 32px;"&gt;&lt;font size="2"&gt;c.&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 1096px; text-align: justify;"&gt;&lt;font size="2"&gt;Dasar Pengenaan Pajak; dan&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;           &lt;/tr&gt;           &lt;tr&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 32px;"&gt;&lt;font size="2"&gt;d.&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;             &lt;td style="vertical-align: top; width: 1096px; text-align: justify;"&gt;&lt;font size="2"&gt;Jumlah Pajak yang terutang kecuali dalam hal ekspor.&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size="2"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-8935746348969048028?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/8935746348969048028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/01/dokumen-yang-dipersamakan-dengan-faktur.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/8935746348969048028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/8935746348969048028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/01/dokumen-yang-dipersamakan-dengan-faktur.html' title='Dokumen yang dipersamakan dengan Faktur Pajak'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-6884601558465521443</id><published>2011-01-06T11:19:00.005+07:00</published><updated>2011-01-06T15:21:38.963+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Objek PPN'/><title type='text'>PPN Jasa Perdagangan</title><content type='html'>Jasa perdagangan adalah jasa yang diberikan oleh orang atau badan kepada pihak lain, dengan menghubungkan pihak lain tersebut kepada pembeli barang pihak lain itu, atau menghubungkan pihak lain tersebut kepada penjual barang yang akan dibeli pihak lain itu. Dengan demikian, jasa perdagangan dapat berupa jasa perantara, jasa pemasaran, dan jasa mencarikan penjual atau pembeli. Prakteknya, pelaku jasa perdagangan ini memiliki banyak istilah tetapi pada umumnya disebut agen. Dalam pengertian, agen yang mempertemukan penjual dan pembeli. Si agen bisa mewakili pembeli, bisa mewakili penjual. Sedangkan penghasilannya umumnya disebut &lt;em&gt;fee&lt;/em&gt;, tetapi banyak juga yang memberi istilah lain seperti : uang kopi, dan komisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPN atas jasa perdaganan ini cukup membingungkan. Untuk masalah &lt;strong&gt;PPN atas jasa&lt;/strong&gt;, saya selalu berpatokan pada&lt;strong&gt; "dimana manfaat" diterima&lt;/strong&gt;. Artinya, jika manfaat diterima di daerah pabean, maka terutang PPN. Hal ini terkait dengan prinsip tujuan (&lt;em&gt;destination&lt;/em&gt;) dari PPN. Perlakuan yang sama dengan barang, yaitu dimana barang dikonsumsi. Jika dikonsumsi di daerah pabean, maka terutang PPN. Tetapi &lt;a href="http://ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;amp;id_topik=&amp;amp;id_jenis=&amp;amp;p_tgl=tahun&amp;amp;tahun=2010&amp;amp;nomor=145&amp;amp;q=&amp;amp;q_do=macth&amp;amp;cols=isi&amp;amp;hlm=1&amp;amp;page=show&amp;amp;id=14517"&gt;SE-145/PJ/2010&lt;/a&gt; memberikan contoh-contoh yang lebih detil dan ada beberapa contoh yang menurut saya "membingungkan" silakan cermati :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyerahan jasa perdagangan dikenai Pajak Pertambahan Nilai dalam hal penyerahan jasa perdagangan dilakukan &lt;strong&gt;di dalam Daerah Pabean&lt;/strong&gt;, dengan kondisi-kondisi sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a.] pengusaha jasa perdagangan dan penjual barang selaku &lt;strong&gt;penerima jasa perdagangan berada di dalam Daerah Pabean&lt;/strong&gt;, sedangkan pembeli dapat berada di dalam atau di luar Daerah Pabean;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b.] pengusaha jasa perdagangan dan pembeli barang selaku &lt;strong&gt;penerima jasa perdagangan berada di dalam Daerah Pabean&lt;/strong&gt;, sedangkan penjual dapat berada di dalam atau di luar Daerah Pabean;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[c.] pengusaha jasa perdagangan dan pembeli barang berada di dalam Daerah Pabean, sedangkan penjual barang selaku &lt;strong&gt;penerima jasa perdagangan berada di luar Daerah Pabean&lt;/strong&gt;;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[d.] pengusaha jasa perdagangan dan penjual barang berada di dalam Daerah Pabean, sedangkan pembeli barang selaku &lt;strong&gt;penerima jasa perdagangan berada di luar Daerah Pabean&lt;/strong&gt;; atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[e.] pengusaha jasa perdagangan berada di dalam Daerah Pabean, sedangkan penjual barang dan pembeli barang yang salah satunya &lt;strong&gt;adalah penerima jasa perdagangan berada di luar Daerah Pabean&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pemanfaatan jasa perdagangan &lt;strong&gt;dari luar Daerah Pabean&lt;/strong&gt; yang dikenai Pajak Pertambahan Nilai adalah dalam hal kegiatan pemanfaatan jasa perdagangan tersebut dilakukan di dalam Daerah Pabean, dengan kondisi-kondisi sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a.] pengusaha jasa perdagangan berada di luar Daerah Pabean, sedangkan penjual barang selaku penerima jasa perdagangan dan pembeli barang berada di dalam Daerah Pabean;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b.] pengusaha jasa perdagangan berada di luar Daerah Pabean, sedangkan pembeli barang selaku penerima jasa perdagangan dan penjual barang berada di dalam Daerah Pabean;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[c.] pengusaha jasa perdagangan dan penjual barang berada di luar Daerah Pabean, sedangkan pembeli barang selaku penerima jasa perdagangan berada di dalam Daerah Pabean; atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[d.] pengusaha jasa perdagangan dan pembeli barang berada di luar Daerah Pabean, sedangkan penjual barang selaku penerima jasa perdagangan berada di dalam Daerah Pabean.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jasa perdagangan&lt;strong&gt; &lt;span style="color:#cc0000;"&gt;tidak dikenai Pajak Pertambahan Nilai&lt;/span&gt; &lt;/strong&gt;dalam hal penyerahan jasa perdagangan dilakukan di luar Daerah Pabean, dengan kondisi-kondisi sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a.] pengusaha jasa perdagangan dan penjual barang selaku &lt;strong&gt;penerima jasa perdagangan berada di luar Daerah Pabean&lt;/strong&gt;, sedangkan pembeli barang berada di dalam Daerah Pabean; atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b.] pengusaha jasa perdagangan dan pembeli barang selaku &lt;strong&gt;penerima jasa perdagangan berada di luar Daerah Pabean&lt;/strong&gt;, sedangkan penjual barang berada di dalam Daerah Pabean.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-6884601558465521443?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/6884601558465521443/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/01/ppn-jasa-perdagangan.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/6884601558465521443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/6884601558465521443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/01/ppn-jasa-perdagangan.html' title='PPN Jasa Perdagangan'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-8700364586510405494</id><published>2011-01-06T08:35:00.009+07:00</published><updated>2011-01-06T09:54:21.152+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Transfer Pricing'/><title type='text'>Advance Pricing Agreement (APA)</title><content type='html'>Kesepakatan Harga Transfer (APA) adalah perjanjian antara Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dengan Wajib Pajak dan / atau otoritas pajak negera lain yang menyepakati kriteria-kiriteria dan / atau menyepakati harga wajar atau laba wajar dimuka para pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Diantara kriteria dalam APA adalah metode &lt;em&gt;transfer pricing&lt;/em&gt; dan faktor-faktor yang digunakan dalam analisis asumsi kritikal (&lt;em&gt;criticals assumptions&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan APA adalah memberikan sarana kepada Wajib Pajak guna &lt;strong&gt;menyelesaikan masalah transfer pricing&lt;/strong&gt;. Kesepakatan ini dituangkan dalam perjanjian tertulis antara Wajib Pajak dengan Direktur Jenderal Pajak. Atau bisa juga perjanjian tertulis antara Direktur Jenderal Pajak dengan otoritas pajak negera lain. Konon kabarnyanya, APA ini jurus ampuh bagi wajib pajak dan otoritas pajak untuk menyelesaikan masalah &lt;em&gt;transfer pricing&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelesaian &lt;em&gt;transfer pricing&lt;/em&gt; bisa dilakukan dimuka atau melalui &lt;em&gt;post audit. Transfer pricing&lt;/em&gt; yang sudah disepakati melalui mekanisme APA akan memberikan kepastian hukum bagi Wajib Pajak. Pada saat &lt;em&gt;post audit&lt;/em&gt;, tentu nantinya pemeriksa pajak tunduk dan mengikuti harga-harga yang sudah disepakati. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 14 Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. &lt;a href="http://www.pajak.go.id/dmdocuments/PER-69-2010.pdf"&gt;PER-69/PJ/2010&lt;/a&gt; bahwa APA &lt;strong&gt;mengikat&lt;/strong&gt; Wajib Pajak dan Direktur Jenderal Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah APA sekurang-kurangnya memuat :&lt;br /&gt;[1]. Nama, NPWP, dan alamat perusahaan yang memiliki hubungan istimewa dengan Wajib Pajak terkait dengan APA;&lt;br /&gt;[2]. ruang lingkup transaksi yang dicakup;&lt;br /&gt;[3]. tahun pajak yang dicakup;&lt;br /&gt;[4]. ketentuan umum yang digunakan dalam APA;&lt;br /&gt;[5]. metode &lt;em&gt;transfer pricing&lt;/em&gt; yang disepakati;&lt;br /&gt;[6]. faktor yang mempengaruhi asumsi kritikal (critical assumptions)penerapan APA;&lt;br /&gt;[7]. harga wajar atau laba wajar, rentang harga wajar atau rentang laba wajar untuk setiap jenis barang / jasa atau transaksi yang dicakup;&lt;br /&gt;[8]. kewajiban dalam penerapan APA dan kewajiban pelaporan;&lt;br /&gt;[9]. konsekuensi hukum;&lt;br /&gt;[10]. kerahasiaan informasi;&lt;br /&gt;[11]. peninjauan kembali dan pembatasan; dan&lt;br /&gt;[12]. mekanisme penyelesaian masalah yang timbul dalam penerapan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan APA, Wajib Pajak harus melakukan tiga tahapan, yaitu :&lt;br /&gt;[a]. pembicaraan awal;&lt;br /&gt;[b]. penyampaian permohonan formal; dan&lt;br /&gt;[c]. penandatanganan naskah APA;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan awal dimulai dengan mengajukan form APA-1 dan penyampaikan permohonan formal dimulai dengan mengajukan form APA-2. Berikut contoh format pengajuan APA :&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TSUqRQfpefI/AAAAAAAAANk/DiwkQhLRQzY/s1600/APA_1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 243px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TSUqRQfpefI/AAAAAAAAANk/DiwkQhLRQzY/s400/APA_1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558895791032596978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TSUq0tVYb0I/AAAAAAAAANs/BOHD-FH5l6Q/s1600/APA_2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 243px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TSUq0tVYb0I/AAAAAAAAANs/BOHD-FH5l6Q/s400/APA_2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558896400069586754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk memperjelas, silakan di klik gambar APA-1 dan gambar APA-2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salaam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan :&lt;br /&gt;Di form APA-1 tertulis Keputusan Direktur Jenderal Pajak .. tentang Pedoman Pembuatan Perjanjian Penentuan Harga Transaksi (APA), setelah saya cari baik di portalDJP maupun di &lt;a href="http://ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;id_topik=&amp;id_jenis=&amp;p_tgl=tahun&amp;tahun=&amp;nomor=&amp;q=pedoman+pembuatan+perjanjian&amp;q_do=macth&amp;cols=isi"&gt;ortax.org&lt;/a&gt; ternyata hasilnya "nihil".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-8700364586510405494?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/8700364586510405494/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/01/advance-pricing-agreement-apa.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/8700364586510405494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/8700364586510405494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2011/01/advance-pricing-agreement-apa.html' title='Advance Pricing Agreement (APA)'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TSUqRQfpefI/AAAAAAAAANk/DiwkQhLRQzY/s72-c/APA_1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-4479058096993664715</id><published>2010-12-28T00:04:00.003+07:00</published><updated>2010-12-28T00:27:06.708+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemeriksaan'/><title type='text'>Audit Plan</title><content type='html'>Pemeriksaan yang baik tentu saja harus dipersiapkan dengan baik. Sesuai amanat Pasal 8 Peraturan Menteri Keuangan No. &lt;a href="http://ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;id_topik=&amp;id_jenis=&amp;p_tgl=tahun&amp;tahun=&amp;nomor=199&amp;q=&amp;q_do=macth&amp;cols=isi&amp;hlm=1&amp;page=show&amp;id=13050"&gt;199/PMK.03/2010&lt;/a&gt; bahwa pelaksanaan pemeriksaan harus didahului dengan persiapan yang baik. Salah satu penjabaran dari persiapan pemeriksaan adalah membuat audit plan yang dilakukan oleh supervisor. Audit plan atau rencana pemeriksaan diatur di Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak No. SE-126/PJ/2010 . Seperti kata pepatah "gagal merencakan sama dengan merencanakan kegagalan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SE-126/PJ/2010  mengatur lebih rinci bagaimana rencana pemeriksaan dibuat oleh KPP. Berikut rangkuman dan catatan saya berdasarkan urutan pekerjaan :&lt;br /&gt;[1.] Kepala UP2  membuat Nota Dinas Penunjukkan Supervisor yang disertai dengan Daftar Berkas Wajib Pajak Yang Dipinjamkan Dalam Rangka Pemeriksaan antara lain berisi : SPT tahun pajak yang akan diperiksa, Laporan Keuangan minimal 2 tahun sebelumnya, profil Wajib Pajak, Laporan Hasil Pemeriksaan tahun sebelumnya, data dari pihak ketiga , atau data lain yang relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2.] Supervisor membuat KKP  Identifikasi Masalah untuk menentukan pos-pos SPT yang akan diperiksa. Tentu tidak semua pos dalam SPT atau Laporan Keuangan harus diperiksa karena keterbatasan jangka waktu pemeriksaan dan tenaga pemeriksa. Pos mana yang akan diperiksa, merupakan kewenangan supervisor selama disetujui  oleh kepala UP2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3.] Langkah-langkah penyusunan KKP Identifikasi Masalah :&lt;br /&gt;a)Analisis rasio data keuangan,&lt;br /&gt;b)Analisis trend dan benchmark dengan perusahaan atau industri sejenis,&lt;br /&gt;c)Ekualisasi antara Pos di SPT PPh Badan / Orang Pribadi dengan objek pajak lain,&lt;br /&gt;d)Analisis keterkaitan antara alat keterangan, analisis risiko yang dibuat AR , hasil analisis dan pengembangan IDLP , dan informasi lain yang relevan baik dari intern maupun ekstern.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4.] Berdasarkan KKP Identifikasi Masalah, Supervisor kemudian membuat Rencana Pemeriksaan yang berisi :&lt;br /&gt;a) Gambaran umum Wajib Pajak,&lt;br /&gt;b) Susunan Tim Pemeriksa,&lt;br /&gt;c) Kriteria Pemeriksaan,&lt;br /&gt;d) Jenis Pemeriksaan,&lt;br /&gt;e) Ruang lingkup pemeriksaan,&lt;br /&gt;f) Identifikasi masalah,&lt;br /&gt;g) Rencana batas akhir penyelesaian pemeriksaan,&lt;br /&gt;h) Tanggal jatuh tempo penyelesaian permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak,&lt;br /&gt;i) Tenaga ahli  yang dibutuhkan,&lt;br /&gt;j) Sarana pendukung yang diperlukan,&lt;br /&gt;k) Pos-pos SPT yang diperiksa,&lt;br /&gt;l) Lokasi atau cabang  yang akan diperiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5.] Usulan rencana pemeriksaan kemudian disampaikan ke kepala UP2. Setelah ditelaah, kepala UP2 kemudian memberikan pesetujuan dan menerbitkan SP2 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6.] Rencana pemeriksaan yang dibuat oleh supervisor pada awal pemeriksaan atau pada tahap persiapan pemeriksaan masih bisa dilakukan perubahan seandainya setelah dilakukan pemeriksaan lapangan atau pemeriksaan dokumen Wajib Pajak ada hal-hal yang perlu diperdalam. Dengan demikian ada tambahan rencana pemeriksaan. Atau bisa juga perubahan rencana pemeriksaan dengan mengurangi rencana pemeriksaan karena dianggap tidak perlu. Mungkin pengurangan ini terjadi karena persepsi supervisor berbeda antara sebelum pemeriksaan dengan saat pelaksanaan pemeriksaan. Apapun perubahan rencana pemeriksaan, supervisor harus membuat alasan yang logis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-4479058096993664715?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/4479058096993664715/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2010/12/audit-plan.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/4479058096993664715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/4479058096993664715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2010/12/audit-plan.html' title='Audit Plan'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-8687421881599893932</id><published>2010-12-21T22:52:00.003+07:00</published><updated>2010-12-21T23:11:49.516+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemeriksaan'/><title type='text'>Tim Asistensi Analisis Risiko</title><content type='html'>Seorang pegawai Wajib Pajak mengeluh kepada forum tentang "ancaman" yang dilontarkan oleh petugas AR dari KPP tempat ia mendaftar. Si petugas menghimbau kepada Wajib Pajak untuk membetulkan SPT yang telah dilaporkan karena pajak terutangnya masih dibawah benchmark. Jika tidak melakukan pembetulan SPT, si petugas mengancam akan melakukan pemeriksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian Wajib Pajak, tindakan petugas tersebut bisa dianggap "ancaman". Mereka takut jika perusahaan tempat ia bekerja diperiksa. Walaupun memang ada prosedur untuk itu, tetapi tidak serta merta keinginan petugas AR dapat terlaksana. Tidak semua usulan pemeriksaan bisa disetujui oleh Kepala KPP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tim yang menilai kewajaran dari usulan pemeriksaan oleh AR adalah Tim Asistensi Analisis Risiko. Tim ini dibentuk berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak No. &lt;a href="http://ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;id_topik=&amp;id_jenis=&amp;p_tgl=tahun&amp;tahun=2010&amp;nomor=120&amp;q=&amp;q_do=macth&amp;cols=isi&amp;hlm=1&amp;page=show&amp;id=14466"&gt;SE-120/PJ/2010&lt;/a&gt;. Tim Asistensi Analisis Risiko terdiri dari :&lt;br /&gt;a. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi;&lt;br /&gt;b. Kepala Seksi Pemeriksaan;&lt;br /&gt;c. Pejabat Fungsional Pemeriksa Pajak; dan&lt;br /&gt;d. Account Representative (AR).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil pembahasan Tim Asistensi Analisis Risiko dituangkan dalam Berita Acara Hasil&lt;br /&gt;Pembahasan Tim Asistensi Analisis Risiko. Berita Acara Hasil Pembahasan Tim Asistensi Analisis Risiko ditandatangani oleh Tim Asistensi Analisis Risiko dan disetujui oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan Tim tentu saja bisa menolak, menerima dengan perbaikan, atau menerima. Jika diterima oleh Tim, maka usulan pemeriksaan akan disampaikan kepada Kanwil DJP disertai Berita Acara Hasil Pembahasan Tim Asistensi Analisis Risiko. Tanpa dokumen terakhir, usulan pemeriksaan wajib ditolak oleh Kanwil DJP.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-8687421881599893932?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/8687421881599893932/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2010/12/tim-asistensi-analisis-risiko.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/8687421881599893932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/8687421881599893932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2010/12/tim-asistensi-analisis-risiko.html' title='Tim Asistensi Analisis Risiko'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-4063968615402321374</id><published>2010-12-21T21:49:00.004+07:00</published><updated>2010-12-21T22:45:59.041+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Objek PPN'/><title type='text'>Penyerahan Di Luar Daeran Pabean</title><content type='html'>Menurut saya ini salah satu "angin surga" bagi Wajib Pajak. Ini juga termasuk materi yang sering menjadi perdebatan. Tentu saja pihak fiskus lebih memilih mengenakan PPN. Sebaliknya Wajib Pajak menghindar. Tetapi dengan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak No. &lt;a href="http://ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;id_topik=&amp;id_jenis=&amp;p_tgl=tahun&amp;tahun=2010&amp;nomor=130&amp;q=&amp;q_do=macth&amp;cols=isi&amp;hlm=1&amp;page=show&amp;id=14488"&gt;SE-130/PJ/2010&lt;/a&gt; ini perbedaan tersebut menjadi tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam prakteknya, pengusaha kita sering jual beli, ekspor-impor barang yang keberadaan barang tersebut sebenarnya tidak pernah masuk ke wilayah pabean Indonesia. Misalnya beli dari Singapur langsung di jual ke Hongkong. Tapi penjual dan pembeli sama-sama berada di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tidak ada perubahan baik di batang tubuh maupun di penjelasan Pasal 4 ayat (1) UU No. 42 Tahun 2009 dengan UU PPN sebelumnya. Saya baca, persis sama. Tetapi penerapannya jadi beda. Inilah kesimpulan &lt;a href="http://www.pajak.go.id/dmdocuments/SE-130-2010.pdf"&gt;SE-130/PJ/2010&lt;/a&gt; :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Ada tiga syarat yang harus terpenuhi agar penyerahan barang dikenai Pajak Pertambahan Nilai yaitu:&lt;br /&gt;1) barang berwujud yang diserahkan merupakan Barang Kena Pajak; &lt;br /&gt;2) penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean; dan &lt;br /&gt;3) penyerahan dilakukan dalam rangka kegiatan usaha atau pekerjaannya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketiga syarat tersebut pada angka 2 huruf a bersifat kumulatif. Dengan demikian apabila ada satu atau lebih syarat tersebut tidak terpenuhi maka atas penyerahan barang tersebut tidak dikenai Pajak Pertambahan Nilai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian apabila Pengusaha Kena Pajak melakukan transaksi :&lt;br /&gt;a.Penyerahan Barang Kena Pajak yang secara nyata (fisik) berada di luar Daerah Pabean; atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.Penyerahan hak atas Barang Kena Pajak yang secara nyata (fisik) berada di Luar Daerah Pabean,yang dibuktikan dengan akta atau bukti otentik yang mendukung fakta terjadinya transaksi tersebut, &lt;strong&gt;tidak dikenai Pajak Pertambahan Nila&lt;/strong&gt;i.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah contoh yang diberikan &lt;a href="http://www.pajak.go.id/dmdocuments/SE-130-2010.pdf"&gt;SE-130/PJ/2010&lt;/a&gt;  :&lt;br /&gt;Contoh satu&lt;br /&gt;PT A (PKP terdaftar di KPP Pratama Jakarta Sawah Besar Dua) menandatangani kontrak jual beli 10 (sepuluh) unit forklift dengan PT B (Wajib Pajak terdaftar di KPP Pratama Jakarta Tanah Abang Dua). Dalam kontrak antara lain disepakati hal-hal sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•PT A akan membeli forklift tersebut dari pabrikan di Jepang, dan meminta pabrikan mengirimkan barang tersebut ke Gudang PT B di Singapura;&lt;br /&gt;•Barang tersebut akan dimodifikasi oleh PT B sebelum dikirim ke pabrik PT B di Karawang;&lt;br /&gt;•Impor barang dan dokumen pabean diurus dan atas nama PT B.&lt;br /&gt;Atas transaksi penyerahan forklift oleh PT A kepada PT B tidak dikenai Pajak Pertambahan Nilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh dua&lt;br /&gt;PT Y (PKP terdaftar di KPP Pratama Jakarta Senen) menandatangani kontrak jual beli 1 unit bangunan kantor yang berada di Orchid Road Singapura dengan PT X (Wajib Pajak terdaftar di KPP Pratama Bogor). Kontrak jual beli dibuat dan ditandatangani di Jakarta. Selanjutnya proses teknis pengalihan hak atas bangunan tersebut akan diurus oleh konsultan W sesuai dengan hukum yang berlaku di Singapura. Atas transaksi penyerahan hak atas bangunan kantor yang berada di Singapura tersebut dari PT Y kepada PT X tidak dikenai Pajak Pertambahan Nilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga membantu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7463609893479541925-4063968615402321374?l=pajaktaxes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/feeds/4063968615402321374/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2010/12/penyerahan-di-luar-daeran-pabean.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/4063968615402321374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7463609893479541925/posts/default/4063968615402321374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pajaktaxes.blogspot.com/2010/12/penyerahan-di-luar-daeran-pabean.html' title='Penyerahan Di Luar Daeran Pabean'/><author><name>raden.suparman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10299668081131974455</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_3yCxNjUK3T8/TQhj4TCmOCI/AAAAAAAAAM4/BJbBaCSbSSY/S220/2007.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7463609893479541925.post-502009726984452510</id><published>2010-12-21T20:40:00.005+07:00</published><updated>2011-09-05T22:48:19.065+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PPh Pasal 22'/><title type='text'>PPh Pasal 22 Impor dan Badan tertentu</title><content type='html'>Berikut ini adalah rangkuman dari Peraturan Menteri Keuangan No.&lt;a href="http://www.ortax.org/ortax/?mod=aturan&amp;page=show&amp;id=14391"&gt;154/PMK.03/2010&lt;/a&gt; tentang Pemungutan PPh Pasal 22 Sehubungan Dengan Pembayaran Atas Penyerahan Barang dan Kegiatan di Bidang Impor Atau Kegiatan Usaha Dibidang Lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemungut PPh Pasal 22 adalah :&lt;br /&gt;[1]. Bank Devisa dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, atas impor barang;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. bendahara pemerintah dan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) sebagai pemungut pajak pada Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Instansi atau lembaga Pemerintah dan lembaga-lembaga negara lainnya berkenaan dengan pembayaran atas pembelian barang;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. bendahara pengeluaran untuk pembayaran yang dilakukan dengan mekanisme uang persediaan (UP);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) atau pejabat penerbit Surat Perintah Membayar yang diberi delegasi oleh KPA, untuk pembayaran kepada pihak ketiga yang dilakukan dengan mekanisme pembayaran langsung (LS);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5]. Badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri semen, industri kertas, industri baja, dan industri otomotif, yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak, atas penjualan hasil produksinya di dalam negeri;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6]. Produsen atau importir bahan bakar minyak, gas, dan pelumas atas penjualan bahan bakar minyak, gas, dan pelumas;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7]. Industri dan eksportir yang bergerak dalam sektor kehutanan, perkebunan, pertanian, dan perikanan yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak atas pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri atau ekspor mereka dari pedagang pengumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TARIF PPh PASAL 22&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tarif pemungutan PPh Pasal 22 yang berkenaan dengan &lt;strong&gt;kegiatan impor &lt;/strong&gt;ada tiga [sebelumnya cuma dua], yaitu :&lt;br /&gt;[1]. Tarif 2,5% dari nilai impor untuk impor yang dilakukan importer yang memiliki Angka Pengenal Impor (API), &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. Tarif 0,5% dari nilai impor atas impor yang dilakukan importer API atas impor kedelai, gandum dan tepung terigu; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. Tarif 7,5% dari nilai impor yang dilakukan importer Non-API. Selain itu,tariff 7,5% dari harga lelang juga dipungut PPh Pasal 22 untuk impor yang telantar atau tidak dikuasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tarif 1,5% dari harga beli &lt;/strong&gt;atas pembelian barang yang dilakukan oleh :&lt;br /&gt;[1]. bendahara pemerintah dan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) sebagai pemungut pajak pada Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Instansi atau lembaga Pemerintah dan lembaga-lembaga negara lainnya berkenaan dengan pembayaran atas pembelian barang; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. bendahara pengeluaran untuk pembayaran yang dilakukan dengan mekanisme uang persediaan (UP);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) atau pejabat penerbit Surat Perintah Membayar yang diberi delegasi oleh KPA, untuk pembayaran kepada pihak ketiga yang dilakukan dengan mekanisme pembayaran langsung (LS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas penjualan bahan bakar minyak, gas, dan pelumas oleh produsen atau importir bahan bakar minyak, gas dan pelumas adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Bahan Bakar Minyak sebesar:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;0,25% &lt;/strong&gt;(nol koma dua puluh lima persen) dari penjualan tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai untuk penjualan kepada SPBU Pertamina;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;0,3% &lt;/strong&gt;(nol koma tiga persen) dari penjualan tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai untuk penjualan kepada SPBU bukan Pertamina dan Non SPBU;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bahan Bakar Gas sebesar &lt;strong&gt;0,3% &lt;/strong&gt;(nol koma tiga persen) dari penjualan tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pelumas sebesar &lt;strong&gt;0,3% &lt;/strong&gt;(nol koma tiga persen) dari penjualan tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas penjualan hasil produksi di dalam negeri oleh badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri semen, industri kertas, industri baja, dan industri otomotif:&lt;br /&gt;[1]. penjualan kertas di dalam negeri sebesar &lt;strong&gt;0,1% &lt;/strong&gt;(nol koma satu persen) dari dasar pengenaan pajak Pajak Pertambahan Nilai;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. penjualan semua jenis semen di dalam negeri sebesar &lt;strong&gt;0,25% &lt;/strong&gt;(nol koma dua puluh lima persen) dari dasar pengenaan pajak Pajak
